hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Fokus  

Akademisi Sukses Berkoperasi

Sentuhan kultural yang dipadu manajemen modern serta profesional menjadikan CU Pancur Kasih semakin dipercaya anggota dan masyarakat.

Menjadi intelektual organik. Istilah untuk menyebut kaum cerdik pandai yang tidak hanya berkutat pada teori di ruang-ruang kampus, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat. Membersamai dan menawarkan alternatif solusi atas problematika yang dihadapi, alih-alih berakrobatik dengan bahasa yang melangit.  Ini tepat menggambarkan Martono, Ketua CU Pancur Kasih (CUPK).

Pengabdiannya di salah satu kopdit terbesar di Indonesia itu telah melalui proses panjang yang teruji. Ia  pernah menjadi volunteer Gerakan Koperasi Kredit Indonesia (GKKI) sebelum bergabung di CUPK sebagai Kelompok Inti (Pokti) Bidang Pendidikan dan Pelatihan di Tempat Pelayanan Bangkayang pada 2005.

Magister Manajemen dari Universitas Tanjungpura Pontianak ini keluar masuk kampung berdialog, memotivasi serta menggerakkan partisipasi anggota untuk tumbuh berkembang bersama kopdit. Martono menjalankan fungsinya yang menjembatani kebutuhan anggota dengan kepentingan manajemen. Dari sini, rasa memiliki anggota terhadap koperasi terbukti meningkat.

Melihat kinerjanya yang ciamik, pria kelahiran Dawar, 4 Mei 1977 itu kemudian diangkat menjadi Pengurus CUPK sebagai Wakil Ketua I Bidang Diklat Periode 2018-2022. Martono melalui periode pertamanya dengan mulus dan pada periode selanjutnya dipercaya kembali oleh anggota untuk memimpin Kopdit CUPK Periode 2026-2030.

Para anggota menilai pria yang juga menjabat sebagai Ketua Puskop CU Borneo Periode 2026-2030 itu memiliki jiwa leadership dan manajerial  mumpuni. Pilihan yang dikemudian hari terbukti karena usaha koperasi semakin berkembang.

Per 31 Desember 2025, asetnya mencapai Rp4,01 triliun, tumbuh 11,70% dari tahun sebelumnya sebesar Rp3,59 triliun. Jumlah Simpanan sebesar Rp3,63 triliun dan Kredit yang disalurkan mencapai Rp1,24 triliun. Kepercayaan masyarakat terhadap CUPK juga semakin meningkat yang ditandai dengan penambahan anggota menjadi 241.308 orang dari 223.309 anggota pada 2024.

Salah satu keberhasilan CUPK karena menerapkan pendekatan kultural disertai dengan peningkatan tata kelola. Secara kultural, Martono menggerakkan partisipasi anggota menggunakan slogan bahasa Dayak, Barage CU, Malangkah Repo. Dalam bahasa Indonesia, artinya “Bersama Credit Union, kita melangkah dengan penuh semangat untuk mempersiapkan masa depan”.

CUPK juga melakukan transformasi digital dengan meluncurkan aplikasi Repoo untuk menjadikan layanan koperasi lebih modern dan sesuai perkembangan zaman. Sentuhan kultural yang dipadu dengan manajemen profesional di bawah komando Martono sukses menjadikan CUPK sebagai kopdit yang terus bertumbuh dan semakin dipercaya anggota serta masyarakat.  (Dje).

pasang iklan di sini
octa vaganza