
PeluangNews, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga ketersediaan air bagi 3.330 hektare lahan pertanian di sejumlah wilayah Jawa Timur (Jatim) yang terdampak musim kemarau panjang atau El Nino.
Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Kementerian PU menyiapkan 73 penanganan untuk memperkuat pasokan air sekaligus mendukung keberlanjutan musim tanam. Intervensi dilakukan melalui pengerahan pompa, pembuatan sumur bor, pemeliharaan dan normalisasi saluran irigasi, hingga pengaturan distribusi air.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, berbagai upaya tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian selama menghadapi kondisi kekeringan.
“Kita harus menjaga agar produktivitas petani tidak turun meskipun dalam kondisi kekeringan,” kata Menteri Dody.
Berdasarkan hasil penelusuran BBWS Brantas per 3 Oktober 2026, dari total 3.330 hektare lahan yang membutuhkan dukungan pengairan, sebanyak 2.592 hektare membutuhkan dukungan pasokan air untuk menjaga produktivitas tanaman.
Sementara 738 hektare lainnya membutuhkan dukungan air untuk mendukung pelaksanaan musim tanam.
Untuk menangani kebutuhan tersebut, BBWS Brantas menyiapkan 73 penanganan yang meliputi pemeliharaan saluran, penambahan debit atau pengaturan giliran air, pengoperasian pompa, serta penyediaan sumur bor dalam dan dangkal.
Salah satu penanganan dilakukan di Desa Pamorah, Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan. Kementerian PU memperbaiki dua unit mesin dan pompa berkapasitas 175 liter per detik yang sebelumnya telah lama tidak beroperasi.
Perbaikan tersebut ditujukan untuk memperkuat pasokan air pada Daerah Irigasi (DI) Dam Pamorah yang memiliki area layanan sekitar 250 hektare.
Langkah tersebut menjadi salah satu upaya mengoptimalkan kembali infrastruktur yang tersedia agar dapat mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian di tengah kondisi kemarau.
Di Kabupaten Trenggalek, penanganan dilakukan di Desa Ngadisuko, Kecamatan Durenan, dengan mengerahkan satu unit pompa turbin berkapasitas 30 liter per detik.
Pompa tersebut digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bagi lahan pertanian padi dan palawija seluas 20 hektare.
Intervensi serupa dilakukan di Desa Bangunmulyo, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung. Satu unit pompa turbin berkapasitas 30 liter per detik dikerahkan untuk membantu mengairi lahan padi dan palawija seluas 20 hektare yang membutuhkan tambahan pasokan air.
Sementara di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Kementerian PU menangani keterbatasan pasokan air dengan melakukan pengeboran dua titik sumur bor dangkal.
Pengeboran dilakukan untuk mencari sumber air alternatif bagi lahan pertanian yang belum mendapatkan pasokan air secara optimal.
Kondisi tersebut terjadi karena debit aliran dari Dam Ngaban mengalami penurunan sehingga air belum mencapai lahan yang berada di bagian ujung jaringan.
Melalui penyediaan sumber air alternatif tersebut, Kementerian PU berupaya memperkuat pasokan sehingga kebutuhan pengairan lahan pertanian tetap dapat terpenuhi.
Berbagai intervensi yang dilakukan BBWS Brantas menjadi bagian dari upaya Kementerian PU memperkuat layanan irigasi dan menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian di Jawa Timur.
Langkah tersebut sekaligus mendukung capaian swasembada pangan nasional, dengan memastikan infrastruktur sumber daya air tetap berfungsi dan petani memperoleh dukungan pengairan di tengah kondisi kemarau yang panjang.







