hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh

Karhutla: Sekolah Bisa Libur, Paru-Paru Tidak

karhutla
Ilustrasi: Karhutla

PeluangNews, Makassar – Pukul 07.10 Wita pagi ini, langit Makassar tidak biru. Di aplikasi pemantau udara, angka 157 menyala oranye: tidak sehat.

Di ujung lain Indonesia, di Pekanbaru, langit lebih kuning. Di Balikpapan, jarak pandang hanya 100 meter.

Hari ini, Rabu 14 Oktober 2026, ribuan anak tidak berangkat sekolah. Bukan karena libur nasional. Sekolah mereka ditutup asap.

Kelas Pindah ke Layar HP

Di Pekanbaru, Dinas Pendidikan Kota menerbitkan surat edaran kemarin sore. Mulai hari ini hingga besok, 14-15 Oktober, seluruh PAUD, TK, SD, dan SMP belajar dari rumah. Daring.

Keputusan serupa diambil Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud. Melalui SE Nomor 100.3.4.3/2590/E/SETDA tanggal 12 Oktober, ia menghentikan tatap muka 14-16 Oktober untuk seluruh satuan pendidikan negeri dan swasta.

Di dalam surat itu, tertulis alasan yang terdengar administratif: mengacu pada SE Mendikdasmen Nomor 20 Tahun 2026 tentang penyelenggaraan pendidikan di daerah terdampak asap.

Di lapangan, alasannya jauh lebih sederhana: anak-anak sesak.

Batuk di Luwuk

Di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) menerima laporan yang sama sejak tiga hari terakhir.

“Kami menerima laporan dari masyarakat dan relawan, sudah banyak warga, terutama anak-anak dan lansia yang batuk, sesak, dan mata perih. Ini tidak bisa dianggap biasa,” ujar Ketua FPRB Banggai Dr. Bambang Dwicahya, Selasa (13/10/2026).

Di Kota Luwuk, ibu-ibu membagikan foto di grup WhatsApp: anak SD memakai masker N95 yang kebesaran, talinya dililit dua kali agar pas di telinga kecil. Ada yang memakai masker kain batik karena N95 habis di apotek.

FPRB mendesak Dinas Kesehatan membuka posko kesehatan dan Dinas Pendidikan meliburkan PAUD dan TK jika ISPU di atas 200. Olahraga luar ruangan untuk SD dan SMP dilarang.

Di Balikpapan, kebijakan daring diambil setelah laporan Dinas Lingkungan Hidup pada 12 Oktober menunjukkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) terus memburuk.

Yang Tidak Bisa Daring Paru-Paru

Feature ini bukan tentang angka ISPU. Ini tentang Rania, sebut saja begitu, siswi kelas 2 SD di Pekanbaru.

Kemarin, ia masih masuk sekolah dengan masker. Hari ini, ia belajar dari meja makan. Gurunya mengirim voice note di WhatsApp: “Anak-anak, hari ini kita belajar tematik dari rumah ya.”

Rania menjawab dengan suara serak. Ibunya bilang, sudah dua hari batuk.

Di Balikpapan, seorang guru honorer bercerita, ia harus mengajar dari teras rumah karena sinyal di dalam rumah hilang, sementara di luar asap tebal.

Di Banggai, seorang perawat Puskesmas mengaku jumlah pasien ISPA naik, namun ia tidak bisa menyebut angka pasti karena data masih direkap.

Inilah wajah karhutla yang tidak muncul dalam rapat di Istana Negara tentang apakah ini bencana nasional atau bukan.

Pada Senin (12/10), Menko Polkam Dudung Abdurachman mengatakan pemerintah masih mampu menangani. Lahan yang masih terbakar 639,23 hektare, 513 hektare di antaranya di Taman Nasional Tanjung Puting.

Sementara itu, pagi ini, di Pekanbaru, Balikpapan, Banggai, dan Makassar, anak-anak belajar bahwa pelajaran pertama bukan matematika, melainkan cara bernapas di balik masker.

Sekolah memang bisa diliburkan. Paru-paru tidak. []

pasang iklan di sini
lpdb.go.id