Dunia baru tahu ada Korowai itu tahun 1974 berkat misionaris Belanda. Sampai tahun 70-an mereka benar-benar hidup terisolasi. Sekarang pun, cukup banyak di antara mereka yang masih sangat tradisional.

Mereka salah satu suku paling unik di dunia. Bermukim di hutan pedalaman Kabupaten Mappi dan Boven Digoel, Papua Selatan. Mereka, Suku Korowai, memiliki kebiasaan berpindah-pindah tempat tinggal (nomaden, klufo fyumanop) setelah 3-5 tahun, untuk mencari sumber makanan baru di hutan.
Mereka tinggal di daerah kabupaten wilayah adat Anim-Ha seperti Merauke, Boven Digoel, Asmat dan Mappi yang ada di Papua Selatan. Mempunyai sebutan Klufo Fyumanop yang artinya orang yang biasa berjalan kaki. Kelompok ini mempunyai sebenarnya terdiri dari dua suku yang berdekatan tapi dengan sedikit perbedaan, yaitu Suku Korowai Besi dan Suku Korowai Batu.
Pohon sagu dan ulat sagu merupakan sumber kehidupan. Sumber makanan pokok yang diolah untuk bertahan hidup di tengah hutan belantara. Mengandalkan kemurahan dan kebaikan hutan, mereka mengasah keterampilan berburu, meramu, menokok sagu, dan berkebun sederhana. Mereka mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok sehari-hari.
Sagu bagi masyarakat Papua pada umumnya identik dengan kehidupan. Mereka tebang pohon sagu, ambil sarinya, lalu bakar jadi papeda atau bungkus daun. Makanan itu disantap dengan ulat sagu (lemak, rasanya kayak mentega kata orang yang pernah coba); babi hutan, kasuari, ikan; Dahulu mereka terkenal sebagai komunitas makan larva dan serangga hutan. Mereka nggak kenal beras, garam, gula sebelum terjadi kontak dengan orang luar.
Perkakas yang digunakan Suku Korowai masih memanfaatkan bambu tajam untuk mengiris, buluh bambu untuk menampung air dan menggunakan bambu untuk memasak air. Mereka melalukan perdagangan (model bater, tukar menukar) benda seperti tulang, perhiasan kalung gigi anjing dan pisau.
Bahasa yang digunakan Suku Korowai untuk berkomunikasi adalah rumpun bahasa Sungai Digoel yang disebut dengan Awyu-Dumut; ini termasuk dalam rumpun bahasa Trans-Nugini. Tentang kesenian, kelompok Korowai mengenal dua jenis tarian, yaitu Tarian Kulomon atau Tate yang dilakukan ketika pesta ulat sagu dan berlangsung dari malam hingga pagi, dan Tarian Hasam atau Busur yang dilakukan dengan berlari sambil bernyanyi sambil memegang busur dan anak panah.
Dalam tatanan sosial yang berlaku, tidak ada kepala suku tunggal. Keputusan diambil oleh laki-laki tertua yang dihormati (lelaki bijak). Mereka punya pembagian kerja yang jelas. Laki-laki bertugas untuk menebang pohon dan memburu sedangkan yang perempuan mengemban tugas mengasuh anak dan mencari sagu. Ibu mertua dari keluarga perempuan sangat dihormati. Untuk menjaga tata krama, seseorang tidak boleh menatap wajah ibu mertua secara langsung.
Sampai tahun 1990-an mereka masih menggunakan alat dari batu dan tulang. Cara bikin api dengan menggesekkan rotan ke kayu, bisa nyala dalam hitungan menit. Itu skill yang luar biasa. Fakta menyedihkan: Habitat mereka perlahan musnah. Sekarang hutan mereka makin terancam karena pembukaan sawit dan penebangan.
Laki-laki tradisional hanya pakai koteka dari daun (penutup kemaluan), perempuan pakai rok dari daun sagu/rumput. Mereka tidak pakai baju. Sekarang kalau ke kota atau ketemu orang luar baru pakai baju pemberian misionaris. Dunia baru tahu ada Korowai itu tahun 1974 oleh misionaris Belanda. Sejak pertama kali dikontak oleh dunia luar dan misionaris pada tahun 1970-an, sebagian masyarakat Korowai mulai mengenal agama dan secara perlahan mereka mulai meninggalkan beberapa keyakinan lama. ●(Zian)





