
PeluangNews, Jakarta – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I terus mempercepat transformasi bisnis sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung transisi menuju energi baru dan terbarukan.
Transformasi ini dilakukan melalui integrasi operasional, penguatan hilirisasi industri, hingga pengembangan sektor energi berkelanjutan.
Direktur Utama PTPN I Teddy Yunirman Danas menegaskan, transformasi yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada penguatan bisnis perusahaan, tetapi juga diarahkan untuk mendukung agenda besar nasional, khususnya food security dan food sovereignty atau ketahanan serta kedaulatan pangan.
“PTPN bersama-sama berada dalam satu proses untuk menciptakan transformasi dan pengembangan bisnis, sehingga dapat bersama-sama mendukung pencapaian ketahanan pangan (food security) dan kedaulatan pangan (food sovereignty),” ujar Teddy dalam acara Economic Briefing 2026: Relevensi Asta Cita dan Ekonomi Indonesia di Tengah Konflik Geopolitik, di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Ia menjelaskan, transformasi yang dilakukan mencakup penyederhanaan struktur perusahaan. Jika sebelumnya terdapat 14 entitas PTPN, kini dilakukan konsolidasi operasional agar lebih terintegrasi dan efisien melalui pembentukan subholding seperti PalmCo dan SupportingCo.
Langkah tersebut dilakukan agar seluruh proses bisnis dapat berjalan lebih efektif, mulai dari wilayah Sumatera Utara, Jawa, Sulawesi, hingga kawasan timur Indonesia.
“Ketika sebelumnya terdapat 14 PTPN, kini dilakukan transformasi menjadi operasional yang lebih terintegrasi. Ini adalah upaya untuk menciptakan efisiensi sekaligus memperkuat daya saing perusahaan,” katanya.
Selain restrukturisasi, PTPN juga mendorong berbagai program keberlanjutan, termasuk pengembangan geothermal, energi terbarukan, dan hilirisasi industri perkebunan.
Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada penjualan bahan mentah, tetapi harus mampu menciptakan nilai tambah melalui industri pengolahan.
“Selama ini kita menikmati sumber daya alam, tetapi belum sepenuhnya menikmati nilai tambah dari hilirisasi. Nantinya, kita akan mendorong berbagai industri pengolahan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan teknologi,” ujarnya.
Dirut PTPN menilai, pembangunan industri pengolahan menjadi langkah penting agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan global. Ia optimistis dalam beberapa tahun ke depan, pengembangan industri berbasis perkebunan dapat dilakukan secara lebih masif.
Karena itu, PTPN juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pihak, mulai dari investor, pemerintah, hingga pemangku kepentingan lainnya. Menurutnya, transformasi besar ini tidak mungkin dijalankan sendirian.
“PTPN tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan dukungan yang sangat besar dari berbagai pihak, mulai dari investasi hingga dukgan kebijakan yang kondusif, terutama dalam mengembangkan produk-produk untuk masyarakat,” tuturnya.
Ia menegaskan, pembangunan PTPN ke depan bukan semata untuk kepentingan korporasi, melainkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
“Pembangunan PTPN sebenarnya bukan hanya untuk kebutuhan perusahaan, tetapi justru untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ungkapnya.
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, PTPN juga menilai percepatan transisi energi menjadi kebutuhan mendesak. Persiapan menuju energi baru dan terbarukan dinilai harus dilakukan sejak sekarang agar Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang lebih kuat di masa depan.
Dengan transformasi yang terus berjalan, PTPN menargetkan dapat menjadi penggerak utama dalam pembangunan sektor pangan, energi, dan industri nasional secara berkelanjutan.








