hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh
UMKM  

Modal 150 Ribu, Wajan Pinjam: Usaha Pedagang Gorengan di Depok Ini Pun Berkembang

pedagang gorengan
Ilustrasi: Pedagang gorengan

PeluangNews, Depok – Jam baru menunjukkan pukul 14.00 WIB. Gang Beji Timur No. 12 yang biasanya sepi, sudah dipenuhi aroma bawang goreng dan minyak panas.

Di ujung gang, tepat di depan deretan kos mahasiswa Rp800 ribu per bulan, sebuah gerobak kayu berwarna kuning kusam dengan tulisan “ANEKA GORENGAN – UMKM Depok Beji – Murah & Renyah” ngebul.

Di balik gerobak itu, Mbak Siti (45) berdiri. Jilbab cokelat, celemek hijau yang sudah pudar, dan tangan yang lincah membolak-balik tempe, tahu isi, bakwan, dan pisang goreng di wajan besar. Tidak ada asisten. Semua ia kerjakan sendiri.

Tiga tahun lalu, di titik yang sama, ia tidak punya apa-apa. Bahkan wajan itu pun bukan miliknya.

Berawal dari PHK dan Uang Rp150 Ribu

Akhir 2022, suami Siti yang bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Cibinong kena PHK. Pesangon hanya Rp1,2 juta. Untuk kontrakan petak 3×4 meter di Beji, untuk makan dua anak, dan untuk bayar utang warung.

Sisa di tangan Siti hanya Rp150 ribu.
“Bingung Pak. Mau kerja apa? Ijazah saya cuma SMP. Mau jadi ART, anak masih kecil. Akhirnya saya bilang ke suami, coba saya jual gorengan tempe saja, titip di warung,” kenang Siti.

Uang Rp 150 ribu itu ia belikan: tepung terigu curah setengah kilo Rp 6 ribu, minyak curah 1 liter Rp14 ribu, tempe 2 papan Rp10 ribu, tahu putih 1 ember kecil Rp 20 ribu, dan sisanya untuk plastik bening dan cabai rawit untuk sambal kecap. Kompor satu tungku ia pinjam dari mertua, wajan hitam besar pinjam dari tetangga.

Hari pertama, 2 Oktober 2022, ia hanya memberanikan diri membuat 50 gorengan. Ia taruh di nampan plastik dan bawa keliling gang. Dari jam 15.00 sampai 18.00, hanya laku 20 biji. Untung Rp6 ribu. Sisanya 30 biji ia bawa ke musala dekat kos dan dibagikan gratis untuk anak-anak TPA.

“Malu. Nangis di dapur. Tapi suami bilang, besok bikin lagi. Jangan lihat malunya, lihat anak butuh makan,” katanya.

Ia punya buku tulis bekas anaknya yang sudah tidak terpakai. Di situ ia tulis dengan huruf besar-besar: MODAL 150. LAKU 20. SISA 30. RUGI. Tapi ia tulis lagi di bawahnya: BESOK COBA LAGI.

Putaran uang yang disiplin

Inilah yang membedakan Siti dengan pedagang yang menyerah di minggu pertama. Ia sangat disiplin memutar uang.

Selama 3 bulan pertama, ia tidak pernah mengambil untung untuk kebutuhan pribadi. Jika hari ini untung Rp20 ribu, maka Rp20 ribu itu besok ia belikan tepung lagi. Ia dan suami makan dari sisa gorengan yang tidak laku–nasi dengan kecap.

Hari kedua, ia belajar dari kesalahan. Tidak keliling lagi. Ia titip 30 gorengan di Warung Madura milik Pak Haji di ujung gang. Sistem konsinyasi. Laku, baru dibayar. Ternyata laku semua dalam 2 jam. Karena warung itu ramai anak kos beli kopi dan rokok.

Hari ketiga, 40 biji. Laku. Hari keempat, 60 biji. Titik baliknya bukan karena viral di TikTok, tapi karena Grup WhatsApp RT 05/RW 08 Beji Timur.

Saat itu, ibu ketua RT arisan dan butuh 100 gorengan untuk camilan. Ia pesan ke Siti. Siti begadang sampai jam 11 malam menggoreng. Besoknya, ibu RT itu memposting foto gorengan Siti di status WA: “Gorengan Mbak Siti di Gg. Beji Timur No.12 enak, masih anget, murah meriah. Monggo diorder.”

Dari satu status WA itu, pesanan masuk dari satu gang, lalu merembet ke kos-kosan putri di sebelahnya, lalu ke mahasiswa UI yang kos di Beji.

Kunci sukses: Murah, Konsisten, Tidak Gengsi

Sampai hari ini, Oktober 2025, Siti menjual gorengannya Rp1.500 per biji. Padahal harga pasaran gorengan di Margonda dan Beji sudah Rp2.000 – Rp 2.500.

“Kalau saya ikut Rp2.500, anak kos tidak mampu beli 5. Kalau Rp1.500, mereka beli 5 masih sisa uang untuk beli es teh. Biar untung saya cuma Rp300 per biji, tapi kalau sehari habis 400-500 biji, kan lumayan Pak,” jelasnya. Ini adalah strategi nyata yang dipakai banyak UMKM sukses di Depok: untung tipis, volume besar, pelanggan setia.

Prinsip kedua: rasa harus sama. Ia tidak pernah ganti minyak curah dengan minyak bekas pakai berulang-ulang. Minyak maksimal 2 kali pakai, lalu diganti. Tepungnya tetap merek yang sama. Sambal kecapnya tidak pernah ia encerkan.

Prinsip ketiga: tidak gengsi promosi. Setiap sore ia update status WA: “Gorengan sudah ready ya, anget.” Setiap ada yang beli, ia hafal namanya. “Kak Fajar yang kos nomor 7, biasanya beli tempe 3 sama bakwan 2.”

Kini Punya 3 Gerobak

Tiga tahun berlalu. Dari 1 wajan pinjam, kini Siti punya 3 gerobak.

Gerobak pertama di Beji Timur ia jaga sendiri. Gerobak kedua di depan kampus di Kukusan, dijaga adiknya. Gerobak ketiga di dekat Stasiun Depok Baru, dijaga tetangganya yang dulu juga pengangguran dengan sistem bagi hasil 60% untuk yang jaga, 40% untuk Siti.

Omzet kotor per gerobak rata-rata Rp600 ribu – Rp800 ribu per hari. Jika dikali 3 gerobak, omzet kotor Rp1,8 – Rp2,4 juta per hari. Setelah dipotong bahan baku, gas, dan bagi hasil, bersih yang ia pegang sekitar Rp400-Rp500 ribu per hari.

Dari uang itu, ia sudah bisa mengontrak rumah petak setahun di muka tanpa nunggak, membeli kompor gas 2 tungku baru dan mengembalikan kompor pinjaman mertua dengan yang baru, menyekolahkan anak keduanya ke SMP, dan yang paling membuatnya haru: pada Juli 2025 lalu, ia memberangkatkan ibunya yang di kampung di Pemalang untuk umrah dari hasil menabung gorengan selama 1,5 tahun.

“Modal saya sebenarnya bukan Rp150 ribu Pak. Modal saya itu nekat dan tidak gengsi. Malu ditolak, malu dagangan tidak laku, tapi besok jualan lagi. Itu modalnya,” kata Siti sambil tertawa, mengusap keringat di balik wajan panasnya.

Kisah Siti adalah potret 22 ribu UMKM kuliner mikro di Kota Depok (data Dinkop UMKM Depok 2024) yang memulai usaha dengan modal di bawah Rp500 ribu. Mereka tidak menunggu bantuan modal besar. Mereka mulai dari apa yang ada di dapur.

Dan sore itu di Beji Timur, antrean mahasiswa masih mengular di gerobak kuningnya. []

pasang iklan di sini
lpdb.go.id