hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Kemenko Pangan – WWF Dorong Perbaikan Tata Kelola Sawit Nasional

Foto dok. Kemenko Pangan

PeluangNews, Jakarta — Indonesia terus menegaskan posisinya sebagai produsen utama minyak sawit dunia dengan kontribusi sekitar 58 persen terhadap produksi global. Pada periode 2024–2025, produksi crude palm oil (CPO) nasional diperkirakan mencapai 46 hingga 51,6 juta ton yang berasal dari total tutupan lahan sawit seluas 16,83 juta hektare.

Dari total luasan tersebut, sekitar 40 persen dikelola oleh petani swadaya. Namun, kelompok ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rendahnya produktivitas, keterbatasan akses terhadap dukungan teknis dan pembiayaan, hingga lemahnya perlindungan dan kepastian legalitas lahan.

Kondisi tersebut mendorong Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama WWF-Indonesia menggelar Dialog Nasional Kemandirian Pangan 2026. Forum ini mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor guna merumuskan langkah konkret dalam mentransformasi tata kelola sawit yang dinilai belum optimal di lapangan.

Transformasi yang didorong tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan praktik pengelolaan yang berkelanjutan melalui penerapan prinsip pertanian yang baik dan ramah lingkungan.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Widiastuti, menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang berperan penting dalam mendukung kemandirian pangan dan energi nasional. Namun, sektor ini juga menghadapi tantangan besar dalam menembus pasar global, terutama terkait isu lingkungan, deforestasi, dan standar keberlanjutan.

Menurutnya, transformasi tata kelola perlu diarahkan pada optimalisasi lahan yang ada melalui intensifikasi, dengan opsi ekstensifikasi yang terukur, serta peningkatan inklusivitas petani swadaya dan penguatan standar keberlanjutan nasional.

“Indonesia memiliki posisi strategis sebagai produsen utama minyak sawit dunia. Oleh karena itu, penguatan tata kelola yang inklusif, transparan, dan akuntabel menjadi kunci untuk menjaga daya saing global sekaligus memastikan kesejahteraan pekebun dan ketahanan pangan nasional, tanpa mengabaikan kesehatan ekosistem,” ujar Widiastuti.

Ia menambahkan, peningkatan produktivitas petani swadaya dapat dilakukan dengan mengatasi hambatan mendasar seperti legalitas lahan, akses terhadap bibit unggul dan pupuk, serta kemudahan dalam memperoleh skema pembiayaan.

“Kita punya sumber daya dan skala. Yang dibutuhkan saat ini adalah tata kelola yang benar-benar inklusif dan sistem yang mampu menjawab standar global tanpa mengorbankan petani kecil di dalamnya,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, CEO Yayasan WWF-Indonesia, Aditya Bayunanda, menekankan bahwa peningkatan daya saing sawit Indonesia harus berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.

“Melalui pendampingan dan intensifikasi yang tepat bagi petani swadaya, produktivitas dapat ditingkatkan tanpa perlu membuka lahan baru. Ini menjadi kunci untuk menekan penurunan kualitas lingkungan sekaligus menjaga keanekaragaman hayati,” jelas Aditya.

Ia juga menilai bahwa dengan penguatan kapasitas dan praktik budidaya yang lebih baik, standar global justru dapat menjadi peluang bagi Indonesia.

“Di situlah peningkatan produksi, ketahanan pangan, dan keberlanjutan lingkungan dapat berjalan seiring. Keberlanjutan harus dimaknai sebagai upaya jangka panjang, termasuk melalui peremajaan tanaman dan optimalisasi nutrisi,” ujarnya.

Dialog nasional ini berlangsung dalam dua sesi yang membahas isu dari hulu hingga hilir, mulai dari kerangka kebijakan nasional hingga tantangan teknis yang dihadapi petani di lapangan. Hasil diskusi diharapkan tidak berhenti pada rekomendasi, tetapi menghasilkan komitmen konkret lintas kementerian dan sektor untuk mempercepat transformasi tata kelola sawit.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang dalam mendorong pengelolaan sawit yang inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan arah pembangunan nasional dalam RPJMN 2025–2029 dan RPJPN 2025–2045.

Melalui forum ini, pemerintah dan para pemangku kepentingan berharap dapat memperkuat pendampingan serta intensifikasi bagi petani swadaya, sehingga peningkatan produktivitas tidak hanya menguntungkan industri, tetapi juga memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan petani sebagai fondasi utama sektor sawit nasional.

pasang iklan di sini
octa vaganza