
PeluangNews, Jakarta – Di tengah gaya hidup masyarakat perkotaan yang semakin aktif, definisi “bersih” kini tak lagi sekadar mandi dan keramas. Mobilitas tinggi, aktivitas luar ruangan, penggunaan transportasi umum, hingga interaksi sosial yang padat membuat kulit lebih rentan terpapar kuman, bakteri, dan mikroorganisme yang tidak terlihat oleh mata.
Fenomena tersebut menjadi sorotan dalam kampanye edukasi “Social-Ready Hygiene” yang digelar Betadine di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).
Acara ini menghadirkan Brand Manager Feminine and Skin Care iNova Pharmaceuticals Indonesia Michica Wijaya, Artist & Illustrator Dinda Puspitasari, serta Skin Expert & Healthy Lifestyle Enthusiast dr. Danar Wicaksono, MSc., SpDVE.
dr. Danar mengatakan, perkembangan gaya hidup modern menuntut masyarakat untuk lebih memahami pentingnya menjaga higienitas kulit. Menurutnya, ancaman dari bakteri, virus, dan mikroorganisme kini semakin kompleks.
“Kalau kita lihat, ternyata kuman, bakteri, dan virus saat ini juga terus berevolusi. Dampaknya, ketika kita sakit, masa pemulihannya bisa berlangsung hingga satu minggu atau lebih. Ini menunjukkan bahwa definisi bersih saat ini sudah berubah,” ujar dr. Danar.
Ia menjelaskan, jika dahulu seseorang merasa cukup bersih setelah mandi dan keramas, kini masyarakat perlu lebih memperhatikan kebersihan kulit hingga pada aspek yang tidak terlihat secara kasat mata.
“Sekarang kita perlu benar-benar membersihkan diri dan menjaga higienitas kulit hingga ke hal-hal yang tidak bisa kita lihat, seperti kuman yang terus berkembang dan berevolusi,” katanya.
Menurut dr. Danar, aktivitas seperti commuting, berolahraga, hingga berinteraksi di ruang publik membuat paparan kuman terhadap kulit meningkat signifikan. Kondisi kulit yang berkeringat juga dapat mempercepat perkembangan bakteri.
“Banyak orang mengira bau badan hanya disebabkan oleh keringat. Padahal sebenarnya keringat tidak berbau. Bau muncul ketika keringat bertemu dengan bakteri di permukaan kulit,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan masih banyak masyarakat yang melakukan kesalahan mendasar dalam menjaga kebersihan kulit, salah satunya langsung beristirahat di tempat tidur setelah beraktivitas di luar rumah tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.
“Salah satu yang paling sering saya temui adalah kebiasaan langsung naik ke tempat tidur setelah pulang beraktivitas tanpa membersihkan diri terlebih dahulu. Kebiasaan seperti ini meningkatkan risiko perpindahan kuman ke lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Selain itu, dr. Danar menilai banyak orang belum membersihkan tubuh secara menyeluruh saat mandi. Area lipatan tubuh yang sering terlewat justru menjadi tempat berkembangnya bakteri dan jamur.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya membersihkan kulit secara optimal, terutama setelah melakukan aktivitas yang berisiko tinggi terpapar kuman.
Sementara itu, Michica Wijaya mengatakan perubahan pola hidup masyarakat menjadi latar belakang lahirnya kampanye Social-Ready Hygiene. Menurutnya, konsep kebersihan saat ini harus berkembang mengikuti dinamika aktivitas masyarakat modern.
“Dulu saya berpikir, setelah mandi berarti sudah bersih. Namun sekarang kita lebih sering bepergian, melakukan aktivitas di luar ruangan, dan bertemu banyak orang. Karena itu, kami ingin mengajak masyarakat menjadi social-ready hygiene, yaitu lebih sadar dan lebih bijak dalam menjaga kebersihan diri,” lanjut Michica.
Ia menegaskan bahwa hygiene tidak lagi hanya berkaitan dengan membersihkan tubuh secara fisik, tetapi juga menjadi bagian dari kesiapan seseorang untuk berinteraksi dan menjalani berbagai aktivitas dengan percaya diri.
“Hygiene bukan hanya soal mandi atau membersihkan diri secara kasat mata, tetapi juga bagaimana kita lebih mindful terhadap aktivitas sehari-hari agar tetap percaya diri dan siap bersosialisasi,” imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Dinda Puspitasari mengaku pesan kampanye tersebut sangat dekat dengan kesehariannya sebagai seorang seniman yang memiliki mobilitas tinggi dan sering beraktivitas di luar rumah.
“Dalam satu hari saya bisa berpindah ke banyak lokasi dan bertemu banyak orang. Jadi apa yang disampaikan dokter tadi sangat relevan dengan kehidupan saya sehari-hari,” papar Dinda.
Ia juga mengungkapkan keterlibatannya dalam desain kemasan edisi khusus Betadine yang terinspirasi dari gaya hidup masyarakat perkotaan. Elemen visual yang dihadirkan merepresentasikan aktivitas commuting, eksplorasi, hingga kehidupan sosial yang menjadi bagian dari rutinitas generasi modern.
“Saya mencoba merepresentasikan warga kota besar. Ada unsur commuting, aktivitas sosial, sampai eksplorasi outdoor yang memang dekat dengan keseharian saya,” ujarnya.
Menurut Dinda, menjaga kebersihan diri juga memiliki hubungan erat dengan rasa percaya diri dan bentuk perawatan diri (self-care).
“Supaya kita percaya diri itu bukan cuma dari gaya atau penampilan. Kalau kita merasa bersih, tentu tingkat kepercayaan diri juga akan meningkat. Saya sangat memperhatikan hal itu karena saya memang senang merasa bersih,” pungkasnya.
Melalui kampanye ini, Betadine berharap masyarakat semakin memahami bahwa menjaga higienitas kulit merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat.







