Generasi muda yang sedang berada di bangku PAUD hingga SMA saat ini merupakan generasi Z dan generasi Alfa. Karakter mereka yang mudah bosan menuntut guru didorong lebih kreatif membuat kelas menjadi atraktif.

Pada jenjang pendidikan awal, idealnya siswa tidak dibebani aktivitas pembelajaran, melainkan dengan aktivitas bermain. Pembinaan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) menjadi saat yang tepat bagi siswa untuk membangun pondasi karakternya. Guru, seyogianya tidak membebani siswa PAUD dengan pelajaran menulis, membaca, dan menghitung.
Ajaklah siswa bermain dan bersenang-senang, mereka akan menyadari bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Selanjutnya, mereka tidak akan merasa terpaksa datang ke sekolah. Di jenjang pendidikan SD, siswa tetap harus merasakan kebebasan. Di Finlandia, misalnya, siswa kelas I-IV SD tidak dibebani dengan pekerjaan rumah.
Mestinya, pada jenjang 3-4 tahun pertama SD, siswa bisa diajari mengenal huruf, kata, atau kalimat yang sederhana secara bertahap. Aktivitas belajar mengajar tetap dibuat rileks, misalnya, lewat permainan. Jika sudah memiliki pondasi yang kuat, ke depan siswa akan mampu berpikir rasional, inovatif, dan kritis.
Setelah siswa mengenal mata pelajaran dasar, seperti struktur kalimat atau konsep perkalian, pada kelas V-VI SD siswa bisa diajari tentang rasionalitas dari mata pelajaran tersebut. Baru pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) hingga sekolah menengah atas (SMA), siswa bisa dikenalkan tentang mata pelajaran eksakta.
Karakter siswa pada dua generasi tersebut ialah mudah bosan sehingga guru didorong lebih kreatif untuk membuat kelas menjadi atraktif. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mengajak siswa berdebat atau berdiskusi. Hal ini dapat melatih siswa membuat argumentasi yang rasional. Dalam kondisi ini, guru harus muncul sebagai penengah tanpa menyalahkan.
Untuk anak SD, biarkan mereka saling berdebat dan berimajinasi dengan menyampaikan hal-hal yang tidak logis. Untuk anak SMP, perdebatannya dibuat semakin rasional. Dalam pembentukan mental dan moral siswa, guru dan orangtua harus berkomunikasi secara intensif. Keduanya bisa bekerja sama dalam pengaturan jam belajar atau pembatasan penggunaan gawai, misalnya.
Karakter yang harus dibangun, misalnya, karakter yang tidak mudah menyerah atau tidak merasa rendah diri. Karakter tersebut akan lebih mudah dicapai apabila guru mampu menerapkan pendidikan berbasis contoh dibandingkan teori. Sebab, tidak jarang materi yang diajarkan guru di bangku sekolah sulit diamalkan secara konsisten oleh para siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Dicontohkan, saat memberikan materi tentang fungsi limit, untuk mempermudah pemahaman, siswa bisa diminta membayangkan sensor belakang mobil saat melakukan parkir. Contoh lainnya adalah materi tentang momentum. Siswa bisa berimajinasi tentang berfungsinya kantong udara (airbag) mobil.
Dalam era Revolusi Industri 4.0, guru hendaknya mengembangkan membaca, menulis, menyimak, bertutur, dan menghitung demi literasi siswa. Hal itu penting agar budaya menulis siswa sekolah dasar hingga menengah mampu terbentuk.
Budaya menulis juga bisa dilakukan dengan cara mengajak anak menyimak penjelasan guru dan menuliskannya poin-poin penting. Poin-poin tersebut kemudian bisa disampaikan di depan umum untuk melatih siswa bertutur secara baik.●(Nay)





