Peluangnews, Jakarta – Sempat meraih penghargaan untuk bidang kedokteran, Achmad Bakrie Award di tahun 2011, serta dedikasi intelektual yang tidak semata-mata menapaki perjalanan karir menjadi salah satu pakar bedah otak terbaik cukup panjang, ada beberapa hal pada Prof. Dr. dr. Satyanegara, Sp.BS mengupayakan penyembuhan pasien.
Di tengah jadual praktik yang padat di beberapa rumah sakit di Jakarta, caranya menyegarkan pikiran atau refreshing agak berbeda dengan ahli-ahli profesional pada umumnya. “Kalau sudah banyak pasien, pikiran mumet, cara saya atasinya berbeda (dengan yang lain). saya terus berpikir keras untuk penyembuhan pasien tertentu. Ketika, ternyata dia sembuh, ada proses transfer happiness,” ujar Satyanegara mengatakan kepada Redaksi, Kamis (22/6/2023).
Sebagian besar pasien yang datang untuk berobat ke rumah-rumah sakitnya, sebagian yang sudah berobat pada dokter lain. tetapi ada beberapa yang tidak mengalami kesembuhan. Kalau pasien tersebut datang ke tempatnya, ternyata sembuh, ada kepuasan tersendiri. Setelah mendengar keluhan, ia mendiagnosis.
“Kalau pasiennya langsung sembuh, saya semakin semangat, semakin senang. Yang susah, kalau penyakit yang sulit disembuhkan, seperti kanker otak. Ia juga harus dioperasi. kalau operasi pun, hanya perpanjangan,” kata Satyanegara.
Terkadang, ada pasien umur 30 an tahun sekian, terbilang usianya masih produktif. Ia menderita tumor, dan sudah berobat ke beberapa dokter. Akhirnya setelah dengan pengobatan menggunakan radioterapi, salah satu bentuk pengobatan kanker dengan radiasi yang diarahkan ke satu titik untuk mengecilkan tumor atau membunuh sel kanker, akhirnya dosis terapi radiasinya berkurang.
“Control terakhir, tumornya hilang, bikin saya semangat. Ada proses pencampuran obat anti kanker untuk chemotherapy. Dia masih sangat produktif, anaknya masih kecil. Melihat kondisinya, rasa sympathy saya keluar, dan bikin saya semakin semangat, tantangan juga,” tutur Satyanegara. (alb)





