
Peluangnews, Jakarta – Meskipun Indonesia memiliki wilayah yang luas, tercatat memiliki lebih dari 17.000 pulau, namun nyatanya tingkat pemerataan pelayanan publik digital di Indonesia masih belum merata, terutama di wilayah 3T yaitu Tertinggal, Terdepan, dan Terluar.
Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah masyarakat Indonesia di tahun 2023 yang bisa mengakses internet hanya 78% saja. Hal ini menjadi “PR” untuk pemerintah Indonesia agar bisa memaksimalkan peredaran internet di seluruh Indonesia.
Namun demikian, salah satu langkah yang baru saja dilakukan pemerintah adalah dengan meluncurkan satelit SATRIA-1. Meskipun Indonesia sudah memiliki banyak satelit yang diluncurkan ke luar angkasa, namun Satelit Republik Indonesia (SATRIA) 1 adalah satelit pertama yang mempunyai beragam spesifikasi yang memukau dan dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia sendiri.
SATRIA-1 sukses diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, pada Senin (19/6/2023) kemarin Pukul 18.21 waktu Florida atau Pukul 05.21 WIB. Peluncuran itu sesuai dengan jadwal yang ditetapkan sebelumnya, tampak cuaca cerah terpantau di lokasi peluncuran.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika Hary Budiarto menyatakan, peluncuran Satelit SATRIA-1 akan menjadi tonggak sejarah Indonesia dalam percepatan transformasi digital.
“SATRIA-1 bisa melahirkan jagoan-jagoan digital dari Aceh sampai Papua. Puji syukur kita panjatkan atas limpahan rahmat Tuhan Yang Maha Esa atas izin-Nya dan kehendak-Nya, SATRIA-1 pada hari ini meluncur dari Florida Amerika Serikat,” ungkap Hary.
Badan Layanan Umum Badan Aksesibilitas Teknologi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggelar acara Nonton Barang (Nobar) Peluncuran SATRIA-1 bersama 11 wilayah stasiun bumi, yakni Jakarta, Manado, Kupang, Kota Jayapura, Kabupaten Timika, Manokwari, Banjarmasin, Ambon, Tarakan , Pontianak dan Batam. Di Jakarta sendiri, acara nobar dipusatkan di anjungan Skyworld, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
“Dulu kita pernah meluncurkan Satelit Palapa waktu itu saya juga masih SD seperti adik-adik yang ada di sini melihat peluncuran Satelit. Kalau Satelit Palapa diluncurkan dengan tujuan bisa mempersatukan bangsa Indonesia dari Aceh sampai Papua,” jelas Hary.
Tepuk tangan menggema di lokasi saat roket Falcon 9 yang membawa satelit terbesar di Asia Tenggara itu saat lepas landas dengan lancar.
Para hadirin antusias saat melihat Roket setinggi 70 meter itu mulai mengeluarkan api dan terbang melesat menuju luar angkasa.
SATRIA-1 dibawa roket Falcon 9 milik SpaceX. Falcon 9 adalah roket yang mendarat vertikal dan bisa dipakai ulang untuk misi selanjutnya.
Satelit ini diciptakan oleh perusahaan dari Prancis yaitu Thales Alenia Space pada tahun 2020. Salah satu teknologi yang digunakan oleh satelit ini adalah Very High Throughput Satellite(VHTS) dengan kapasitas terbesar di Asia, yaitu mencapai 150 gigabita per detik (GBPS) dan menggunakan frekuensi Ka-Band yang canggih.
Ukuran dari SATRIA-1 yang sangat besar dengan tinggi dari Satelit ini mencapai 6,5 meter dan bobotnya seberat 4,5 ton. Meskipun demikian, satelit ini diperkirakan bisa beroperasi minimal 15 tahun setelah diluncurkan ke orbit.
Pendanaan yang dibutuhkan dari projek ini dengan biaya investasi pembuatan SATRIA-1 membengkak, awalnya US$450 juta (sekitar Rp6,6 triliun) menjadi US$540 juta (sekitar Rp8 triliun).
Pembengkakan biaya itu terjadi karena adanya biaya tambahan. Salah satunya karena semula SATRIA-1 akan diangkut menggunakan pesawat Antonov, namun tidak bisa dilakukan karena kondisi perang Rusia dan Ukraina. Pengangkutan SATRIA-1 pun dilakukan dengan kapal kargo Nordic dari perancis menuju Cape Canaveral melalui jalur laut yang membutuhkan waktu 17 hari.
Agar biar bisa dioperasikan dengan lancar, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) menggandeng PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) melalui Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
SATRIA-1 memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan jaringan internet dan layanan digital di Indonesia, terutama di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Satelit ini direncanakan akan mengcover sekitar 150.000 titik di seluruh Indonesia dengan rincian 54.400 titik di Sumatra, 19.300 titik di Kalimantan, 23.900 titik di Sulawesi, 18.500 titik di Papua dan Maluku, 13.500 titik di Bali dan Nusa Tenggara, serta 19.400 titik di Pulau Jawa.
Semua titik ini akan fokus pada sektor layanan publik, diantaranya sebanyak 93.400 titik akan ditujukan untuk sekolah, 3.700 titik untuk layanan kesehatan, 3.900 titik untuk sektor keamanan, dan 47.900 titik untuk kantor daerah.
Dengan adanya akses internet yang lebih baik, diharapkan mampu mendukung kegiatan belajar-mengajar di sekolah, menyediakan data kesehatan di puskesmas, memperkuat pengawasan keamanan oleh pihak kepolisian dan TNI, serta meningkatkan layanan pemerintah di kantor-kantor daerah.
Ini adalah langkah yang luar biasa dalam mewujudkan konektivitas yang merata di seluruh Indonesia. Dengan bantuan SATRIA-1, kita bisa mempercepat perkembangan teknologi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di berbagai wilayah tanpa terkecuali. (alb)





