hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Berita  

Perang di Sudan, Tidak Pengaruhi Pemasaran Briket Indonesia

Peluangnews, Jakarta – Perang saudara yang masih terus berlanjut di Sudan sampai hari ini belum berpengaruh pada pemasaran produk arang briket (dari batok/tempurung kelapa), kendatipun briket digunakan untuk shisha atau hookah yakni metode merokok yang berasal dari Timur Tengah.

“Sudan bertetangga dengan Timur Tengah, tapi mereka perang saudara, bukan (perang) dengan negara tetangga. Sampai saat ini, (perang) tidak berpengaruh. Sebagian besar negara di Afrika menggunakan arang kayu karena GDP (pendapatan nasional) Afrika sangat rendah,” kata Ketua Perkumpulan Pengusaha Arang Kelapa Indonesia (PERPAKI) Asep Mulyana kepada awak media, Minggu (30/4/2023).

Beberapa tahun belakangan ini, shisha semakin menjadi kebiasaan merokok di berbagai negara terutama di Timur Tengah. Sebagaimana, para imigran Timur Tengah membawa tradisi shisha ke negara-negara mereka menetap di Eropa. Salah satunya, Jerman yang menjadi pasar terbesar di Eropa yang impor arang briket Indonesia.

“Ada 12 ribu cafe shisha di Jerman. Para penggemarnya berasal dari Turki, Irak. Mereka, imigran yang mempopulerkan Shisha di Eropa, terutama Jerman,” kata Asep Mulyana.

Produsen arang briket terbesar di Indonesia, yakni PT TOM Cococha di Bogor, Jawa Barat tidak mengandalkan ekspor briket untuk barbeque. Karena perusahaan juga pasti mempertimbangkan keuntungan yang lebih besar dari ekspor, yakni briket untuk shisha. Sehingga perusahaan ekspor briket dengan harga premium, yang lebih mahal untuk ekspor.

“(Anggota PERPAKI) tidak terlalu berharap (ekspor) briket untuk barbeque. Selain, briket yang terbaik yang menggunakan arang tempurung dari Indonesia. Ini anugerah Tuhan, kita patut mensyukuri. Batok kelapa dari Thailand, India, Sri Lanka, (arangnya) tidak cocok untuk shisha,” ungkap Asep Mulyana. (alb)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate