hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Pendapatan Negara Tembus Rp574,9 Triliun, APBN Defisit 0,93 Persen pada Kuartal I 2026

Pendapatan Negara Tembus Rp574,9 Triliun, APBN Defisit 0,93 Persen pada Kuartal I 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi April 2026 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (5/4/2026)/Dok.antara

PeluangNews, Jakarta – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir kuartal I 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Defisit terjadi seiring realisasi belanja negara yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 telah mencapai Rp574,9 triliun, sementara belanja negara terealisasi Rp815 triliun.

“Defisit mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi April 2026 di Jakarta, Selasa.

Pendapatan Negara Tumbuh Double Digit

Secara rinci, realisasi pendapatan negara mencapai 18,2 persen dari target APBN dengan pertumbuhan 10,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Penerimaan perpajakan menjadi penopang utama dengan nilai Rp462,7 triliun atau 17,2 persen dari target APBN, tumbuh 14,2 persen (yoy). Rinciannya:

Penerimaan pajak: Rp394,8 triliun (16,7 persen APBN), tumbuh 20,7 persen (yoy)
Kepabeanan dan cukai: Rp67,9 triliun (20,2 persen APBN), terkontraksi 12,6 persen (yoy)

Purbaya menegaskan bahwa kinerja penerimaan pajak maupun kepabeanan dan cukai terus menunjukkan perbaikan. Pemerintah akan terus mendorong optimalisasi dari kedua sumber tersebut.

Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp112,1 triliun atau 24,4 persen dari target APBN. Meski mengalami normalisasi dibandingkan tahun sebelumnya, PNBP tetap memberikan kontribusi signifikan terhadap total pendapatan negara.

Belanja Negara Melonjak, Dorong Defisit

Di sisi belanja, realisasi mencapai 21,2 persen dari pagu APBN dengan pertumbuhan tinggi sebesar 31,4 persen (yoy), jauh di atas capaian periode yang sama tahun lalu yang hanya tumbuh 1,4 persen.

“Ini yang saya sebut pemerataan belanja sepanjang tahun,” kata Purbaya.

Belanja pemerintah pusat tercatat Rp610,3 triliun (19,4 persen APBN) atau melonjak 47,7 persen (yoy), terdiri dari:

Belanja kementerian/lembaga (K/L): Rp281,2 triliun (18,6 persen APBN), tumbuh 43,3 persen
Belanja non-K/L: Rp329,1 triliun (20,1 persen APBN), tumbuh 51,5 persen

Sementara itu, transfer ke daerah (TKD) terealisasi Rp204,8 triliun atau 29,5 persen dari target APBN, namun mengalami kontraksi tipis 1,1 persen (yoy).

Dengan perkembangan tersebut, keseimbangan primer APBN juga mencatatkan defisit sebesar Rp95,8 triliun pada akhir Maret 2026. (Aji)

octa vaganza