hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Langkah Besar Kota Bekasi, Ubah Sampah Jadi Energi Listrik

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono. Foto: Gema/Peluang
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono. Foto: Gema/Peluang

PeluangNews, Jakarta — Pemerintah Kota Bekasi resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) setelah penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara pemerintah daerah dan Badan Usaha Pengembangan dan Pengelola (BUPP). Penandatanganan berlangsung di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono menyebut momentum ini sebagai langkah penting dalam mengatasi persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan besar bagi Kota Bekasi. Ia mengatakan, proses menuju proyek tersebut telah berlangsung cukup panjang sejak 1995.

“Kegiatan hari ini tentu menjadi sesuatu yang sangat menggembirakan. Sejak proses awal pada 1995, Kota Bekasi telah berjuang menjadi salah satu kota terpilih dalam program ini. Setelah melalui berbagai tahapan, termasuk penyesuaian dalam waktu kurang dari enam bulan terakhir, akhirnya Kota Bekasi resmi ditetapkan,” ujar Tri Adhianto, kepada PeluangNews, usai penandatanganan PKS.

Ia menambahkan, pada kesempatan tersebut Pemerintah Kota Bekasi juga menandatangani kerja sama dengan perusahaan Wangneng dari China untuk memulai pembangunan fasilitas pengelolaan sampah berbasis tenaga listrik.

“Hari ini juga dilakukan penandatanganan kerja sama dengan Wangneng dari China untuk memulai pembangunan fasilitas pengelolaan sampah berbasis tenaga listrik di Kota Bekasi. Ini menjadi langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan sampah secara berkelanjutan,” katanya.

Tri Adhianto menjelaskan, Pemerintah Kota Bekasi akan segera memenuhi kewajiban sesuai memorandum of understanding (MoU), mulai dari penyediaan lahan hingga pembangunan infrastruktur pendukung. Menurutnya, kesiapan pemerintah daerah menjadi kunci percepatan pembangunan proyek tersebut.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyaksikan penandatangan perjanjian kerja sama PSEL. Foto: Gema/Peluang
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyaksikan penandatangan perjanjian kerja sama PSEL. Foto: Gema/Peluang

“Kewajiban Pemerintah Kota Bekasi sesuai MoU akan segera kami lengkapi, mulai dari penyediaan lahan, penyiapan akses jalan, penimbunan, hingga berbagai kebutuhan lain yang berkaitan dengan kondisi lapangan. Kami juga menyiapkan infrastruktur pendukung, termasuk penyediaan air untuk kebutuhan operasional insinerator nantinya,” ungkap Tri.

Saat ini, volume sampah di Kota Bekasi mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Fasilitas PSEL yang akan dibangun memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.400 ton per hari, dengan ruang peningkatan hingga 1.500 ton per hari.

Sementara sekitar 300 ton sampah per hari yang tersisa akan ditangani dari sumbernya melalui pengelolaan berbasis rumah tangga, sekolah, perkantoran, dan fasilitas umum lainnya.

Pemerintah Kota Bekasi menargetkan pembangunan proyek ini dapat diselesaikan dalam waktu 20 bulan atau sekitar satu tahun delapan bulan. Dengan target tersebut, fasilitas pengolahan sampah berbasis energi listrik diharapkan dapat mulai beroperasi pada awal 2028.

“Kami berharap perusahaan yang ditunjuk dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai target yang telah ditetapkan, yakni sekitar 20 bulan. Jika proyek ini rampung sesuai jadwal, masyarakat Kota Bekasi dapat segera merasakan manfaatnya, sehingga persoalan sampah tidak lagi menjadi hal yang mengkhawatirkan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari upaya transformasi besar dalam pengelolaan sampah di Kota Bekasi.

“Ini merupakan bagian dari revolusi penanganan sampah di Kota Bekasi. Kami ingin memastikan bahwa persoalan sampah tidak lagi menjadi beban, tetapi justru dapat memberikan manfaat melalui energi listrik bagi masyarakat,” ujarnya.

Meski nilai investasi proyek belum diumumkan secara resmi, Pemerintah Kota Bekasi optimistis pembangunan dapat berjalan sesuai rencana.

Hal ini didukung pengalaman Wangneng yang telah membangun fasilitas serupa di China dan Vietnam, dengan teknologi yang dinilai sesuai dengan karakteristik sampah di Indonesia.

Teknologi tersebut memungkinkan sampah langsung masuk ke dalam insinerator tanpa proses pemilahan awal, sehingga dinilai lebih efisien dalam menangani volume sampah dalam jumlah besar.

“Dengan dukungan teknologi dan pengalaman tersebut, Pemerintah Kota Bekasi optimistis proyek PSEL dapat menjadi solusi jangka panjang sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan bagi masyarakat Kota Bekasi,” pungkas Tri.

 

pasang iklan di sini
octa vaganza