
PeluangNews, Jakarta-Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali membuat dunia waspada. Konflik yang melibatkan Iran diprediksi memicu lonjakan inflasi global, terutama akibat gangguan pasokan energi dunia.
Hal tersebut terungkap dari survei ekonom global yang dilakukan Bloomberg News. Hasilnya menunjukkan sebagian besar ekonom menilai konflik yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan berdampak pada inflasi di berbagai negara.
Sekitar 50 persen responden memprediksi inflasi di kawasan zona euro akan meningkat lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Hampir setengah responden juga memperkirakan tren serupa terjadi di Amerika Serikat.
Sementara itu, hampir 40 persen ekonom menilai China juga akan mengalami percepatan inflasi. Harga konsumen di negara tersebut diperkirakan naik sekitar 0,3 hingga 0,9 poin persentase dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Kenaikan inflasi global ini dipicu oleh potensi krisis energi jika jalur pelayaran Selat Hormuz terganggu. Jalur strategis ini menjadi penghubung sekitar seperlima pasokan energi dunia yang diangkut melalui laut.
Jika distribusi minyak dan gas di kawasan tersebut terganggu, dampaknya akan merembet ke berbagai sektor. Biaya transportasi, termasuk tiket pesawat dan distribusi logistik, berpotensi melonjak. Selain itu, rantai pasok global juga terancam terganggu apabila konflik berlangsung lama.
Meski demikian, para ekonom menilai dampak terhadap pertumbuhan ekonomi global atau produk domestik bruto (PDB) kemungkinan masih relatif terbatas dalam jangka pendek. Namun kondisi ini sangat bergantung pada durasi konflik yang terjadi.
Ekonom Bloomberg, Ziad Daoud dan Dina Esfandiary, menyebut negara importir energi besar seperti China, Eropa, dan India berpotensi mengalami tekanan paling besar jika harga minyak tetap tinggi dalam waktu lama.
Sebaliknya, negara pengekspor energi seperti Rusia, Kanada, dan Norwegia justru berpeluang diuntungkan dari lonjakan harga minyak dunia.
Amerika Serikat berada dalam posisi yang cukup unik. Konsumen domestik berpotensi terbebani kenaikan harga bahan bakar, tetapi secara keseluruhan ekonomi AS relatif lebih tahan karena produksi shale oil yang besar menjadikannya salah satu eksportir minyak terbesar di dunia.
Di sisi lain, Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih atau net importer juga menghadapi risiko jika konflik memicu gangguan pasokan energi global.
Cadangan minyak terbukti Indonesia saat ini sekitar 3,69 miliar barel atau sekitar 0,22 persen dari cadangan global. Namun produksi minyak nasional hanya sekitar 945 ribu barel per hari, jauh di bawah konsumsi domestik yang mencapai sekitar 1,62 juta barel per hari.
Kekurangan tersebut selama ini ditutup melalui impor minyak. Bahkan sekitar 20 hingga 25 persen impor minyak Indonesia berasal dari jalur distribusi Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.
Jika jalur tersebut terganggu, risiko lonjakan harga energi dan tekanan inflasi domestik menjadi semakin besar.
Meski demikian, pemerintah memastikan cadangan energi nasional saat ini masih berada pada level aman. Stok BBM, crude oil, dan LPG nasional pada Maret 2026 tercatat sekitar 20 hingga 26 hari, sedikit di atas standar minimum ketahanan energi yang ditetapkan.
Pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk mengantisipasi potensi krisis energi global. Di antaranya dengan melakukan diversifikasi impor minyak ke negara lain seperti Amerika Serikat, Afrika, dan Brasil.
Selain itu, peningkatan produksi energi alternatif seperti biodiesel serta pembangunan fasilitas penyimpanan energi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Octa Investama Berjangka, mengatakan konflik geopolitik memang hampir selalu berdampak langsung pada volatilitas harga energi dan komoditas global.
“Ketika jalur energi strategis seperti Selat Hormuz terganggu, pasar akan langsung merespons dengan lonjakan harga minyak. Dampaknya tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga bisa mendorong inflasi global karena biaya logistik dan produksi ikut meningkat,” tulis Octa dalam keterangannya.
Menurut Octa, kondisi tersebut membuat investor global cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
“Situasi geopolitik seperti ini biasanya meningkatkan volatilitas di pasar komoditas dan keuangan global. Investor perlu lebih cermat membaca risiko sekaligus peluang yang muncul di pasar,” jelasnya.
Sebagai perusahaan pialang berjangka yang terdaftar resmi di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI), PT Octa Investama Berjangka (OIB) juga menyediakan pelatihan trading secara gratis bagi masyarakat.
Melalui program tersebut, peserta dapat mempelajari perdagangan komoditas dan indeks saham global menggunakan akun demo yang terhubung langsung dengan Bursa Berjangka.
Informasi lebih lanjut mengenai program edukasi tersebut dapat diakses melalui situs resmi perusahaan di octa.co.id.
Disclaimer: Perdagangan berjangka komoditi memiliki potensi keuntungan dan risiko kerugian yang tinggi.








