
Peluangnews, Jakarta – Badan Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melatih para perempuan istri nelayan skala kecil di Banyuwangi. Pelatihan digelar untuk menciptakan berbagai produk olahan hasil perikanan.
Produk-produk olahan hasil perikanan ini dipamerkan dalam kegiatan “Semarak Perempuan Perikanan Banyuwangi untuk Indonesia” yang digelar di Taman Blambangan, Kabupaten Banyuwangi.
Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal menyatakan, pihaknya memberikan apresiasi karena hasil proyek FAO di Indonesia ini dinilai sebagai contoh praktek yang terbaik dibandingkan dengan proyek FAO di negara lain.
“Perempuan memiliki peran sentral yang dapat mengolah produk perikanan. Keterlibatan istri nelayan dalam rantai nilai perikanan juga dapat mempromosikan ikan sebagai sumber gizi dan konsumsi harian,” kata Kepala Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal di Banyuwangi dalam keteranganya, Selasa (20/6/2023).
Jadi Perempuan di Banyuwangi ikut berpartisipasi dalam semua tahap budi daya atau penangkapan ikan, pengolahan, dan distribusi, serta berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan, pelestarian, dan pemenuhan gizi keluarga. Meskipun mereka mempunyai kontribusi signifikan, tetapi peran mereka terkadang diabaikan.
Menurut Survei terbaru FAO yang dilakukan di Banyuwangi, kata Aryal, hampir 80 persen istri nelayan tidak terlibat dalam pengambilan keputusan mengenai penggunaan pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan tersebut.
Padahal, mereka dan suami memiliki akses yang hampir sama terhadap kegiatan perikanan. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan ketidakseimbangan peran perempuan dalam ranah ekonomi.
Selama satu tahun perjalanan proyek pelatihan, berbagai kegiatan pelatihan dan pendampingan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas kelompok tersebut di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu.
Khususnya dalam peningkatan kesadaran untuk berperan dalam pengambilan keputusan, pengembangan kapasitas organisasi, pengembangan usaha, dan peningkatan kualitas serta daya saing produk olahan ikan.
“Pemberdayaan perempuan dalam sektor perikanan skala kecil berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Dengan meningkatkan peran mereka, kita dapat menciptakan perubahan positif untuk mencapai produksi yang lebih baik, gizi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik,” beber Aryal.
Sementara itu, Sesditjen PDSPKP KKP selaku National Project Coordinator (NPC) Machmud mengatakan, program yang didominasi perempuan ditujukan agar ada kesetaraan gender untuk kesejahteraan masyarakat perikanan skala kecil terutama perempuan nelayan.
“Dengan pembudidaya, pengolah dan pemasar hasil perikanan kemudian diperkuat dengan dukungan hilirisasi yang kuat, maka adanya peningkatan daya saing hasil kelautan dan perikanan, penjaminan mutu serta keamanan hasil perikanan untuk peningkatan konsumsi ikan dan diharapkan dapat mendukung berbagai program terobosan KKP,” tutur Machmud.
Semua pihak berharap, kegiatan ini tidak hanya terhenti dengan berakhirnya proyek tetapi juga dapat ditindaklanjuti oleh kelompok agar mandiri dan dukungan terus dari Pemerintah Daerah untuk menumbuhkan kelompok-kelompok perempuan lain yang mandiri.
Kabupaten Banyuwangi dipilih sebagai objek proyek merupakan salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Jawa Timur dengan jumlah pelaku usaha perikanan skala kecil yang cukup banyak.
Di Banyuwangi, perempuan memiliki peran signifikan dalam rantai nilai perikanan dengan mengolah ikan menjadi berbagai produk yang berpotensi memiliki nilai ekonomi lebih seperti kerupuk ikan, ikan bakar, stik tuna, dan produk ikan lainnya, yang dilakukan oleh kelompok pengolah dan pemasar produk perikanan. (alb)





