
JIKA Anda berjalan di sekitar distrik Nasr City, Kairo, Mesir, jangan kaget jika mendengar logat Jawa, Sunda, atau Bugis. Kawasan itu sudah seperti kampung Indonesia.
Data terbaru KBRI Kairo per April 2026 mencatat ada 18.223 pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir. Bahkan Ketua PPMI Mesir menyebut angkanya sudah menyentuh 20 ribu orang. Jumlah ini menjadikan mahasiswa Indonesia sebagai komunitas mahasiswa asing terbesar di Mesir.
Mayoritas dari mereka, lebih dari 13 ribu orang, kuliah di Universitas Al-Azhar, universitas Islam tertua di dunia.
“Kami bangga bisa menampung lebih dari 20 ribu pelajar Indonesia. Kami menganggap mereka saudara kami,” kata Dubes Mesir untuk Indonesia, Yasser Hassan Farag Elshemy.
Kenapa Mesir?
Bagi mahasiswa seperti Muhammad Haidar Rauf, Mesir adalah “tanah para nabi” dan gudang ilmu. Al-Azhar melahirkan ulama-ulama besar Indonesia seperti Buya Hamka, Quraish Shihab, dan Gus Dur. Mereka berharap bisa meniru jejak tersebut.
Wakil Grand Syekh Al-Azhar bahkan memuji mahasiswa Indonesia sebagai model. “Tingkat kelulusan mereka sangat baik, hampir pasti di setiap daftar mahasiswa berprestasi, ada nama mahasiswa Indonesia di peringkat 1, 2, atau 3,” ujarnya.
Tantangan Hidup Masisir
Tapi hidup sebagai Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) tidak selalu indah. Biaya hidup yang naik, harus mandiri jauh dari orangtua, dan sistem kuliah Al-Azhar yang tanpa seleksi super ketat membuat beberapa oknum tergoda untuk berbisnis mencari cuan ketimbang kuliah, bahkan terjebak pergaulan bebas.
Meski begitu, mayoritas tetap berprestasi. Dukungan beasiswa dari alumni seperti Yayasan YPKA yang memberikan beasiswa untuk 42 mahasiswa di tahun 2024-2025 sangat membantu. Bahkan kini Indonesia balik menawarkan beasiswa bagi 500 mahasiswa Mesir untuk kuliah tentang Islam Nusantara di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).
Kini dengan dibukanya Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia di Al-Azhar pada tahun akademik 2025/2026, hubungan itu semakin resiprokal. Jika dulu mahasiswa Indonesia wajib bisa Bahasa Arab, kini mahasiswa Mesir pun mulai belajar Bahasa Indonesia. Di tahun 2024/2025 saja sudah ada 51 mahasiswa Mesir yang memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua.
Bagi para Masisir, ini bukan sekadar soal bahasa. Ini soal pengakuan. Ketika adzan di Masjid Al-Azhar kini diselingi sapaan “apa kabar” dengan logat Arab, mereka merasa rumah kedua mereka di Kairo benar-benar menganggap Indonesia sebagai saudara, bukan hanya tamu.
Dari Kairo untuk Indonesia, mereka bukan lagi sekadar pencari ilmu. Mereka adalah jembatan peradaban yang nantinya akan pulang, membawa sanad keilmuan Al-Azhar dan semangat Islam yang moderat untuk Indonesia yang lebih toleran. []






