Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kab. Banyuwangi, Jawa Timur David Wijaya akan membangun kerjasama yang lebih intens dengan nelayan di Muncar, salah satunya meningkatkan efisiensi proses rantai pasok.
“Kalau hubungan (perdagangan) nelayan dengan pengepul bisa dikurangi, harga ikan (hasil tangkapan nelayan) bisa lebih tinggi,” David Wijaya mengatakan kepada Redaksi, Rabu (3/5/2023).
Selain efisiensi rantai pasok, Kadin Banyuwangi juga meningkatkan kinerja koperasi nelayan khususnya kegiatan simpan pinjam uang. Selama ini, mereka terikat dengan pinjaman dengan pengepul ikan hasil tangkapannya. Bahkan, sebagian gagal mengembalikan pinjaman. Dengan peningkatan kinerja koperasi di kecamatan Muncar, nelayan bisa langsung berdagang dengan pelaku usaha pengolahan ikan.
“Koperasi diharapkan bisa meningkatkan kerjasama (nelayan dan pengusaha). Saya (CEO PT Sumber Yala Samudera, usaha ikan sarden kaleng) bisa ambil semua (hasil tangkapan nelayan). Bukan hanya nelayan yang selama ini berlangganan (jual beli ikan) dengan Yala Samudera, tapi merangkul semua nelayan di Banyuwangi,” kata David.
Perusahaannya, setelah 52 tahun berdiri produksi sarden, fish meal, fish oil dan lain sebagainya masih tetap fokus pada pasar domestik. Pertimbangannya, ekspor sarden tidak lebih menguntungkan daripada penjualan untuk pasar domestik. Margin dari ekspor juga lebih sedikit dibanding pasar domestik.
“Kami jarang ekspor. Kalau pasar domestik, tidak melewati beberapa agen (perantara). Sehingga harga bisa premium,” kata David.
Beberapa tahun yang lalu, ketika ikan hasil tangkapan nelayan melimpah, banyak permintaan ekspor termasuk dari Afrika Selatan, Timur Tengah. Tetapi perusahaan cenderung memenuhi kebutuhan pasar domestik terlebih dahulu.
Sejak perusahaan berdiri, perusahaan juga masih garap pasar di berbagai daerah di pulau Jawa. Ikan sarden bukan kebutuhan mewah, bukan kebutuhan sekunder, (sebaliknya) kebutuhan pokok. Ikan kaleng sangat dibutuhkan para pekerja pada berbagai kegiatan usaha tambang batubara yang lokasinya di daerah terpencil. Kondisinya, Infrastruktur jalur kereta api juga belum ada sehingga pekerjanya mengandalkan daging ikan, daging ayam dalam kemasan kaleng.
“Camp batubara yang hanya dapat dijangkau melalui helikopter berlokasi di tengah-tengah hutan belantara di Kalimantan, para pekerjanya masih mengandalkan sarden. Jarak (camp batubara) ke pasar, desa terdekat mungkin sampai 300 km. sehingga kebutuhan sarden pada pasar domestik masih sangat terbuka,” kata David. (alb)





