
PeluangNews, Surabaya – Pagi itu, Kamis 15 Oktober 2026, langit di atas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tidak biru seperti di kartu pos wisata.
Asap tipis sudah menggantung sejak dua hari sebelumnya, menandai karhutla yang kembali merambat di Blok Pusung Lingker dan Mentigen, Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Pukul 09.00 WIB, 12 orang memutuskan naik. Tidak ada sirene, tidak ada sorotan kamera. Hanya sepatu lapangan, cangkul, dan jeriken air.
Mereka terbagi dalam tim gabungan. Ada petugas Balai Besar TNBTS, ada Masyarakat Peduli Api (MPA), ada dua sekuriti Artotel Bromo yang mendaftar sebagai relawan. Di antara mereka ada Sukaris, 55 tahun. Rekan-rekannya mengenalnya sebagai penjaga hutan senior, sosok yang hafal setiap jalur tikus di savana.
Ada Hendra Rony Wagiyanata, yang dipanggil Cak Panda oleh warga sekitar. Anggota Manggala Agni Daops Malang itu dikenal selalu paling depan. “Kalau ada api, Cak Panda pasti sudah di sana duluan,” kata seorang warga Ngadirejo.
Dan ada dua anak muda, Wisnu Yuda Pratama, 25 tahun, dan Sefriel Ardiansyah, 19 tahun. Keduanya sekuriti hotel, namun hari itu memilih memakai helm pemadam, bukan seragam hotel.
Sekitar pukul 10.20 WIB, tim mulai berpencar untuk melokalisasi titik api. Strategi biasa untuk mempercepat pemadaman di medan terjal. Api terlihat mengecil di satu sisi. Namun Bromo terkenal dengan anginnya yang tak terduga.
Pukul 13.30 WIB, angin berbalik. Dari embusan pelan menjadi pusaran. Api yang semula di bawah, dalam hitungan menit naik melompati ilalang kering dan mengurung jalur keluar.
Satu pesan suara masuk ke HT rekan di luar blok: mereka terkepung. Kepulan asap pekat setinggi 10 meter menutup jarak pandang.
Tim penyelamat yang menunggu di luar mencoba menerobos. Butuh hampir satu jam menembus asap dan bara. Saat mereka sampai, pemandangan pilu terhampar. Tiga orang ditemukan sudah tidak bernyawa di lokasi. Sukaris, Wisnu, dan Sefriel. Sementara Cak Panda masih bernapas, tubuhnya mengalami luka bakar berat. Ia dilarikan ke RSUD Tongas, berjuang hingga Kamis sore, namun akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Dua rekan lainnya, Munawi dan Suraji, selamat dengan luka bakar serius dan hingga Minggu hari ini 18 Oktober masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Soetomo Surabaya.
BNPB dalam keterangan resmi Minggu pagi, (18/10/2026), melalui Plt Kapusdatin Berton SP Panjaitan menyampaikan: “Kondisi medan, perubahan arah angin, perkembangan titik api, serta dinamika situasi di lapangan menjadi faktor yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Pengabdian para almarhum menjadi pengingat akan besarnya tanggung jawab dan risiko yang dihadapi petugas.”
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan belasungkawa mendalam. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Jules Abraham Abast menyebut pihaknya masih menyelidiki penyebab utama karhutla dan memastikan proses evakuasi dilakukan sesuai prosedur.
Kematian mereka menambah daftar panjang petugas lapangan yang gugur dalam tugas karhutla. Data BNPB mencatat, sejak Agustus 2026, karhutla di Bromo telah mengganggu ribuan hektare lahan dan memaksa pembatasan wisata di kawasan Bromo Tengger Semeru.
Kini, tiga hari setelah kejadian, asap di Pusung Lingker sudah mulai menipis. Namun bagi keluarga Sukaris yang kehilangan tulang punggung, bagi ibu Sefriel yang anaknya baru 19 tahun, dan bagi rekan-rekan Manggala Agni yang kehilangan Cak Panda, duka itu masih mengepul tebal.
Mereka pergi bukan karena kurang latihan atau kurang berani. Mereka pergi karena memilih tetap di depan, saat orang lain diminta mundur.
Di Bromo, matahari terbit masih indah. Tapi bagi empat orang itu, matahari terakhir mereka terbenam di antara asap dan ilalang yang mereka coba selamatkan. []








