Peluangnews, Jakarta – Dokter spesialis saraf RS Satya Negara, Dr. Debby Amelia, Sp.S menerapkan kalimat singkat dan mudah diingat para dokter dan perawat untuk meminimalisir risiko dan rasa sakit pasien penyakit stroke, yakni 3W (waktu, waktu, waktu). Dokter harus sigap untuk mengambil tindakan, pengobatan terhadap pasien secara tepat.
“Kita dorong pasien yang sudah ingat waktu (untuk terapi), harus dibarengi dengan kesigapan dokter memberi terapi,” ujar Debby mengatakan kepada Redaksi, Jumat (12/5/2023).
Penanganan stroke akan maksimal kalau waktu untuk terapi dengan cepat. Semakin cepat penanganannya, tingkat kesembuhan semakin baik. Dalam penanganan kasus stroke, dikenal istilah golden time. Jika kurang dari 3,5 jam sejak terjadinya sumbatan, sangat baik diberikan obat obat untuk menghancurkan sumbatan yang dimasukkan melalui pembuluh darah.
“Kalau ada pasien datang ke klinik, rumah sakit, hal yang sering kelihatan, seperti tiba-tiba nyeri kepala, (dokter) jangan abaikan. (dokter) segera melakukan tindakan, jangan tunda,” kata Debby.
Gejala dizziness atau melayang, ketika pasien jalan seperti suasana gempa bumi, bahkan mual. Selain, ada gangguan kesadaran, bahkan yang tadinya bisa berdiri dengan baik, tidak mengeluarkan kata-kata, tiba-tiba merasa pusing. Bahkan (penderita stroke) tidak bisa bicara,” kata Debby.
Mulut penderita juga turun, tidak simetris dan sensasi pada kaki atau kesemutan. Bila dalam kurun waktu 24 jam, (gejala-gejala) tidak berkurang, bisa terjadi stroke sumbatan akibat tersumbatnya aliran darah ke otak. Ada juga stroke mimics, sehingga dokter harus menganalisa. Apakah penderita sempat mengalami keracunan alkohol. Gejala seperti stroke, gula darah yang rendah, infeksi, stroke mendadak.
“infeksi, biasanya demam. Gangguan metabolik, migrain, tapi (penderita) yang bukan stroke. Pasien datang karena kejang, gangguan overdosis obat. gejalanya, sama seperti pasien stroke. Dokter perlu think fast, action fast atau (frasa) FAST; face, arm, speech, time,” ungkap Debby.
FAST merupakan singkatan dari ‘facial’ yang mengalami penurunan atau drooping. Arm atau anggota gerak, dimana ketika lengan pasien diangkat ke depan, terasa lemah. Sedang ‘S’ (frasa FAST) yakni speech atau (pasien) bicaranya dengan sangat sulit. Sedangkan ‘T’ yakni time atau waktu untuk cepat memberi terapi dokter kepada pasien.
“pada Face (wajah), kita suruh pasien coba, kalau Bell’s palsy (kelemahan yang terjadi pada salah satu sisi otot wajah yang sifatnya sementara). Sisi wajah yang terserang Bell’s palsy biasanya akan terlihat melorot atau menurun, setelah tersenyum, apakah salah satu sisi terlihat simetris atau asimetris. Dokter harus segera analisa,” kata Debby.
Di tempat berbeda, Prof. Satyanegara juga melihat faktor waktu atau golden time menentukan penanganan penderita stroke, sehingga dokter bisa menyelamatkan. Waktu dimana rasa sakit harus dibarengi terapi tepat untuk mencegah kematian. Tenggang waktu 3,5 jam – 6 jam, golden time, kematian sel tidak terjadi permanen, dan tidak ada sumbatan.
“Biasanya kalau tersumbat, timbul gejala, harus datang, cepat cepat foto. Menentukan, itu tersumbat atau pendarahan. Cek penyumbatan, bisa dengan teknologi DSA, diberi infus untuk menghancurkan penyumbatan,” kata Satyanegara.
Kalau kira-kira sumbatan (aliran darah) dalam kurun waktu jam, ternyata bisa hancur, golden time efektif. Kalau tidak hancur, bisa permanen, penderita akan mengalami kelumpuhan permanen. Kalau hancur dan pecah, menjadi kecil-kecil, menyebar keluar melalui air seni, pasien bisa sembuh. Rentang waktu tiga jam, paling baik. Kalau (rentang waktu) sampai enam jam, (situasi) memaksakan. Misalkan penderita datang dari rumah ke sini (Mayapada hospital, Jl. Lebak Bulus 1), rumahnya di Pondok Indah, memakan waktu setengah jam.
“Dokter periksa, cek jantung selama satu jam. Proses MRI Scan, CT Scan, memakan waktu setengah jam lagi. Penentuan dengan teknologi DSA (pengecekan sumbatan pembuluh darah), mana yang sumbat, kalau bisa semprot langsung, atau berikan obat yang bisa mengencerkan,” ucap Satyanegara. (alb)





