hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Berita  

Di Akhir 2022, Aset Keuangan Syariah Mencapai Rp2,37 Triliun

Peluang, Jakarta – Aset keuangan syariah Indonesia sejak awal diluncurkan dan hingga kini di tahun 2022 berkembang pesat. Hal ini karena adanya dorongan pemerintah Indonesia yang melihat potensi mayoritas warganya yang sebagian besar merupakan warga muslim, dan banyak capaian yang menakjubkan selama tahun 2021.

Seperti tercatat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan total aset keuangan syariah Indonesia (tidak termasuk saham syariah) mencapai 151,03 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp2.375,8 triliun per akhir Desember 2022.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Pengaturan dan Pengembangan Perbankan Syariah Nyimas Rohmah bahwasanya capaian tersebut tumbuh 15,87 persen year on year (yoy) dibandingkan sebelumnya sebesar Rp2.050,51 pada tahun 2021.

Dia menjelaskan, total aset industri perbankan syariah mencapai Rp802,26 triliun, dengan pangsa pasar sebesar 7,09 persen. “Dari total aset perbankan secara nasional yang mencapai Rp11.315,79 triliun,” ujar Nyimas, Selasa (11/4/2023).

Hal tersebut, tentu tak terlepas dari dorongan pemerintah terhadap perkembangan ekonomi syariah ini dimulai dari terbitnya peraturan jaminan produk halal hingga pengembangan industri halal di Indonesia. 

Terbentuknya kawasan industri halal ini karena adanya Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 17 Tahun 2020 tentang Tata Cara memperoleh Surat Keterangan dalam rangka Pembentukan Kawasan Industri Halal.

Di awal tahun 2021 masih ada di ingatan kita, gebrakan besar yang dilakukan pemerintah dalam pengembangan Industri Keuangan Syariah adalah bersatunya tiga bank syariah yang berasal dari unit usaha syariah bank BUMN, yaitu BNI Syariah, BRI Syariah dan Bank Syariah Mandiri.

Ketiganya merger menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI). BSI diresmikan Presiden Jokowi pada 1 Februari 2021 dengan modal aset Rp 214,6 Triliun dan modal inti Rp 20,4 triliun. 

Seiring dengan langkah strategis tersebut, pemerintah juga terus mendorong pengembangan lembaga keuangan berskala kecil. Pemerintah juga ingin memperbanyak pendirian Bank Wakaf Mikro (BWM), Baitul Maal wa Tamwil (BMT), Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS), dan koperasi syariah, termasuk dukungan pengembangannya.

Kemudian bila menelisik dari total aset industri keuangan non bank (IKNB) syariah yang mencapai Rp146,12 triliun dengan pangsa pasar sebesar 4,73 persen, dari total aset IKNB secara nasional yang mencapai Rp3.089,20 triliun.

Hal ini berkat jumlah lembaga keuangan bukan bank mencapai 608  perusahaan di akhir 2012, yang terdiri dari 200 perusahaan pembiayaan, 100 perusahaan asuransi dan reasuransi dan 308 dana pensiun.

Total  aset industri lembaga keuangan bukan bank saat itu baru mencapai Rp 1,069 triliun. Aset tersebut terdiri dari perusahaan pembiayaan Rp 341 triliun, dana pensiun Rp 155 triliun dan asuransi Rp 573 triliun.

Mengacu pada data tersebut, ini menunjukkan pertumbuhan lembaga keuangan non bank masih akan terus meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Permintaan asuransi jiwa akan meningkat, cover asuransi kerugian juga akan meningkat. Lembaga keuangan non bank ini akan terus mengalami peningkatan. Nilai aset juga akan terus meningkat.

Oleh karena itu, untuk lebih mengembangkan industri jasa keuangan, lembaga keuangan bukan bank, agar mengelola perusahaan dengan baik, berprinsip pengelolaan good corporate governance (GCG).

Kemudian, dengan total aset industri pasar modal saat ini yang mencapai Rp1.427,46 triliun, beserta market share atau pangsa pasar sebesar 18,27 persen, dari total aset pasar modal secara nasional yang mencapai Rp7.811,96 triliun.

Maka pasar modal syariah telah bertumbuh signifikan dan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap ekonomi Indonesia. Hal ini terlihat dari pertumbuhan saham, sukuk atau obligasi syariah dan reksadana syariah.

Bila melihat dari total aset industri lembaga non-bank syariah lainnya mencapai Rp67,99 triliun, total aset sukuk korporasi mencapai Rp42,50 triliun, total aset reksa dana syariah mencapai Rp40,61 triliun, dan total aset sukuk negara mencapai Rp344,35.

Namun demikian, kontribusi total aset pasar modal syariah terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia cukup signifikan, di karenakan Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Jadi kontribusi aset pasar modal syariah Indonesia mencapai 29 persen terhadap PDB, dan kontribusi kapitalisasi saham syariah mencapai 24 persen terhadap PDB.

Dari jenis industri, Nyimas Rohmah menjelaskan, total aset industri perbankan syariah mencapai Rp802,26 triliun, dan total aset industri asuransi syariah mencapai Rp45,03 triliun, beserta total aset industri pembiayaan syariah mencapai Rp33,10 triliun.

Sebagian kalangan memandang, adanya perkembangan inudstri perbankan syariah juga didorong oleh keinginan untuk menata aktivitas ekonomi dan keuangan sesuai dengan tuntunan syariah, serta sebagai respon terhadap fenomena krisis yang dipicu oleh perilaku buruk dalam berekonomi yang mengabaikan etika, agama dan nilai-nilai moral, yang tidak hanya diajarkan dalam agama Islam tapi juga secara esensial ada pada ajaran agama-agama lainnya.

Kemudian, total aset industri lembaga non-bank syariah lainnya mencapai Rp67,99 triliun, total aset sukuk korporasi mencapai Rp42,50 triliun, total aset reksa dana syariah mencapai Rp40,61 triliun, dan total aset sukuk negara mencapai Rp344,35 triliun.

Pertumbuhan industri lembaga non-bank syariah menunjukkan kinerja positif, lembaga yang berperan penting dalam penghimpunan dana seperti koperasi simpan pinjam yang dapat dipercaya oleh sebagian besar masyarakat, pasar modal yang di dalamnya juga termasuk penerbitan surat berharga, hingga penyaluran dana investasi di berbagai perusahaan.

Dengan demikian, keberadaannya berperan strategis dan vital terhadap perekonomian Indonesia. Meskipun demikian, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui jenis-jenis industri keuangan non bank sehingga keberadaannya belum dimanfaatkan secara maksimal. (alb)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate