hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh

Bamsoet Dorong Investasi Berkualitas untuk Kejar Ekonomi 8 Persen

Bamsoet Dorong Investasi Berkualitas untuk Kejar Ekonomi 8 Persen
Bamsoet Dorong Investasi Berkualitas untuk Kejar Ekonomi 8 Persen/dok.PeluangNews-HO

PeluangNews, Jakarta — Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik dan Keamanan KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai target pertumbuhan ekonomi 8 persen membutuhkan terobosan kebijakan, kepastian usaha, serta kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, Danantara, BUMN, dan sektor swasta.

Hal itu disampaikan Bamsoet seusai menghadiri pembukaan Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026). Menurut dia, forum tersebut penting untuk memperkuat konsolidasi antara pemerintah, BUMN, Danantara, investor, dan dunia usaha di tengah ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, perlambatan ekonomi global, serta disrupsi teknologi.

“Target pertumbuhan ekonomi 8 persen harus kita tempatkan sebagai agenda percepatan nasional. Kita tidak bisa mencapainya dengan cara-cara yang sama ketika ekonomi tumbuh 5 persen,” ujar Bamsoet.

Ia mengatakan, pemerintah perlu memperbesar investasi produktif, mempercepat hilirisasi, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, memperluas pasar ekspor, serta memperkuat kemitraan dengan sektor swasta.

“Pertumbuhan ekonomi harus terasa sampai ke masyarakat dalam bentuk pekerjaan, pendapatan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Dalam acara tersebut hadir antara lain Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, Wakil Ketua Wantimpres Hatta Rajasa, Anggota Wantimpres Umar Usman, Executive Chairman B-Universe Enggartiasto Lukita, serta sejumlah mantan menteri.

Bamsoet menyebut tantangan mencapai pertumbuhan 8 persen tidak ringan. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Realisasi tersebut menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia dan mencapai 49,5 persen dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Pada triwulan II-2026, investasi tercatat Rp511,8 triliun dengan penyerapan lebih dari 742 ribu tenaga kerja.

Namun, Bamsoet mengingatkan pemerintah tidak cukup hanya mengejar besaran investasi. Menurut dia, kualitas investasi harus menjadi perhatian utama.

“Investasi yang masuk harus menghasilkan kapasitas produksi baru, teknologi baru, rantai pasok baru, dan pekerjaan berkualitas. Jangan sampai ukuran keberhasilan berhenti pada besarnya nilai investasi,” tuturnya.

Baca Juga:Prabowo Optimistis Danantara Akan Jadi Salah Satu Kekayaan Terbesar di Dunia

Ia menambahkan, dampak investasi perlu diukur dari penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai tambah di dalam negeri, keterlibatan UMKM dalam rantai pasok, serta peningkatan kapasitas industri nasional.

Danantara Perlu Perkuat Kemitraan dengan Swasta

Bamsoet menilai Danantara memiliki peran strategis dalam memperluas kemitraan antara negara dan sektor swasta. Menurut dia, kekuatan negara dalam mengarahkan investasi strategis perlu dipadukan dengan kemampuan swasta dalam membaca pasar, mengembangkan teknologi, berinovasi, dan menjalankan bisnis secara efisien.

“Danantara harus menjadi salah satu pintu masuk untuk memperbesar kemitraan strategis dengan swasta. Ruang kerja samanya sangat luas, mulai dari industri manufaktur, hilirisasi, energi, infrastruktur, pangan, kesehatan, teknologi digital, sampai industri strategis,” ujarnya.

Ia menilai kolaborasi tersebut dapat memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia sekaligus mempercepat penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

Bamsoet juga menyoroti komposisi alokasi modal Danantara, yakni 80 persen untuk proyek nasional strategis dan 20 persen untuk ekspansi global. Menurut dia, porsi investasi domestik harus diarahkan pada proyek yang meningkatkan produktivitas dan memberikan efek berganda bagi perekonomian.

Sementara itu, ekspansi global perlu dimanfaatkan untuk membuka akses pasar, teknologi, jaringan distribusi, dan sumber daya strategis bagi perusahaan Indonesia.

“Porsi 80 persen untuk proyek nasional strategis harus benar-benar menghasilkan peningkatan kapasitas ekonomi nasional, sementara 20 persen untuk ekspansi global harus membuat perusahaan Indonesia mampu bermain di pasar internasional,” katanya.

Pertumbuhan Tinggi Tetap Harus Jaga Stabilitas

Bamsoet mengingatkan, akselerasi pertumbuhan ekonomi harus tetap berjalan seiring dengan disiplin menjaga stabilitas makroekonomi.

Dalam pembahasan APBN 2027, pemerintah dan DPR menetapkan target pertumbuhan ekonomi 6 persen, inflasi 2,5 persen, nilai tukar Rp17.500 per dolar AS, serta defisit anggaran 2,4 persen terhadap PDB. Belanja negara ditetapkan sekitar Rp4.106,3 triliun.

Menurut Bamsoet, target tersebut menunjukkan pemerintah memiliki ruang fiskal untuk menopang pertumbuhan. Namun, pencapaian pertumbuhan hingga 8 persen membutuhkan kontribusi investasi dan aktivitas sektor swasta yang lebih besar.

“Pertumbuhan 8 persen tidak boleh dikejar dengan mengorbankan stabilitas. Kita harus menjaga kredibilitas fiskal, inflasi, nilai tukar, dan kepercayaan investor,” tegasnya.

Ia menambahkan, kebijakan ekonomi juga harus cukup adaptif menghadapi perubahan global.

“Kalau pemerintah mampu menciptakan kepastian, Danantara membuka ruang kemitraan, swasta agresif berinvestasi, dan seluruh ekosistem ekonomi bergerak produktif, maka target pertumbuhan tinggi dapat dikejar dengan fondasi yang lebih kuat dan berkelanjutan,” pungkas Bamsoet. (Aji)

pasang iklan di sini
lpdb.go.id