Peluangnews, Jakarta – Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (APSI) masih melihat prospek udang untuk pasar ekspor terutama Tiongkok, dengan market share sekitar 800.000 ton per tahun.
Sementara produsen Indonesia baru bisa ekspor sekitar 18.000 atau setara dengan 2,5 persen dari keseluruhan market share komoditas udang Tiongkok.
“Berarti pasar Tiongkok masih sangat terbuka. AP5I selalu berusaha menurunkan harga pokok produksi (HPP) sehingga bisa bersaing dengan negara eksportir lain,” Ketua APSI Budhi Wibowo mengatakan kepada Redaksi, Kamis (29/6/2023).
Target realistis untuk peningkatan ekspor udang ke Tiongkok, yakni sekitar 10 persen, di luar komoditas lain seperti rumput laut (rumla), tuna dan lain sebagainya. Dari sisi volume, ekspor rumla yang terbesar untuk pasar Tiongkok. Tapi kalau dari sisi value (nilai), komoditas udang dan tuna yang lebih menjanjikan.
“Setahu saya, rumla yang diekspor masih dalam bentuk raw (mentah). Berarti belum ada penciptaan nilai tambah,” kata Budhi Wibowo di sela acara Shenzhen – Indonesia Economic and Trade Cooperation Conference di Shangri-La Jakarta.
Hal yang sama juga terjadi pada udang. Selama ini, Tiongkok mayoritas masih impor dalam bentuk HSO (headless shell on); jenis udang yang dipotong kepalanya tapi kulitnya kerangkanya masih ada).
Impor juga dalam bentuk HLSO (headless shell off) atau udang yang bagian kepala dan kulitnya tidak disertakan alias dibuang.
Proses pembekuan udang adalah bagian dari penciptaan nilai tambah. Dengan demikian, produk perikanan Indonesia terutama udang bisa bersaing dengan negara produsen lain terutama Ekuador dan India.
“Nilai ekspor kita masih rendah, jauh di bawah Ekuador dan India. Yang mendominasi pasar Tiongkok untuk udang, yakni Ekuador dan india. Mereka mau ekspor yang sudah diproses (beku) terutama HSO yang dipasok ke berbagai resto,” kata Budhi Wibowo. (alb)





