hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Berita  

Ada Persamaan Gastronomi, Akademisi: Pariwisata ASEAN Bisa Saling Terkoneksi

Peluangnews, Jakarta- Keragaman budaya yang dimiliki Indonesia menjadi modal penting dalam pengembangan gastronomi di Indonesia. Jika dibandingkan dengan gastronomi dari negara-negara di ASEAN, maka Indonesia memiliki gastronomi yang sangat melimpah dengan karakteristik yang berbeda.

Keketuaan Indonesia pada Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) bisa membuat sektor pariwisata di kawasan itu saling terkoneksi,

“Indonesia bisa mempengaruhi dengan produk-produk pariwisata yang mengangkat kesamaan dari ASEAN, karena secara gastronomi makanannya mirip-mirip,” kata Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila (UP), Devi Roza Kausar, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (1/5/2023).

Dia mencontohkan, bahwa di Indonesia ada yang Namanya minuman cendol seperti di Malaysia dan Thailand. Kesamaan itu bisa ditampilkan sebagai produk pariwisata yang kolektif.

Selain itu, kata dia, ada juga peninggalan bersejarah (heritage) berupa candi seperti Borobudur di Indonesia, Angkor Wat di Kamboja, Ayutthaya di Thailand.

“Mereka punya sejarah yang terkoneksi. Jadi kesamaan itu bisa dijadikan sebagai objek wisata unggulan ASEAN,” ujar Devi.

Tur wisata ke beberapa negara ASEAN yang mempunyai sejarah saling berhubungan, misalnya lanjut dia, bisa dijadikan unggulan.

Devi mengakui, jika selama dua tahun terakhir sektor pariwisata di negara-negara ASEAN secara bersamaan mulai bangkit dari pandemi.

Untuk itu, Universitas Pancasila sebagai anggota ASEAN Tourism Research Association (ATRA) juga mengangkat sejumlah isu, seperti perubahan iklim, peran perempuan dalam pariwisata dan lainnya.

Dia mengatakan, untuk meningkatkan pengetahuan pariwisata digelar diskusi-diskusi dalam forum ASEAN-China, ASEAN-India, dan ASEAN-Australia dengan mengundang pembicara dari China, India, dan Australia.

Karena ASEAN merupakan satu kesatuan dengan wilayah lain di dunia sehingga memerlukan kerja sama, katanya

“Manfaatnya bukan hanya (untuk) pendidikan tinggi saja, tetapi juga untuk masyarakat,” kata Devi.

Dia menjelaskan, Fakultas Pariwisata UP telah menggelar ATRA Tourism Forum ke-12 yang diselenggarakan selama dua hari pada 16-17 Maret 2023.

“Pertemuan ini bisa meningkatkan kolaborasi ASEAN (untuk) saling belajar satu sama lain, yang diharapkan bisa menjadi input (masukan) untuk kebijakan-kebijakan,” ungkap Devi.

Dalam forum tersebut, Presiden ATRA Prof Dr Neethiahnanthan Ari Ragavan dari Taylor’s University Malaysia mengemukakan, bahwa forum itu digelar untuk mendiskusikan peran pariwisata untuk meningkatkan konektivitas antar masyarakat, antar institusi–khususnya perguruan tinggi dan antar negara melalui pariwisata.

Para menteri pariwisata ASEAN juga telah menyepakati ASEAN Tourism Strategic Plan 2016-2025 untuk mewujudkan konektivitas melalui pariwisata. Konektivitas antarnegara ASEAN dan masyarakatnya diyakini menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing, inklusivitas, dan ikatan komunitas. (alb)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate