
PeluangNews, Jakarta – Kondisi tanpa kasus bukan berarti ancaman penyakit telah benar-benar lenyap. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan bahwa potensi kemunculan kembali wabah pes di Indonesia tetap perlu diwaspadai, meskipun dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia.
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis ini pernah menjadi salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah dunia, termasuk di Indonesia pada awal abad ke-20, terutama di Pulau Jawa. Penularannya terjadi melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh tikus.
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menjelaskan bahwa saat ini pes diduga berada dalam fase silent period, yakni kondisi ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, namun masih menyimpan potensi untuk muncul kembali sewaktu-waktu.
“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” kata Ristiyanto.
Ia menambahkan, indikasi tersebut diperkuat oleh temuan bahwa bakteri penyebab, serta vektor dan reservoirnya seperti pinjal dan tikus, masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.
Menurutnya, perubahan lingkungan menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit. Deforestasi, alih fungsi lahan, serta pertumbuhan penduduk telah mengganggu keseimbangan ekosistem, sehingga habitat tikus semakin mendekat ke permukiman manusia.
“Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri,” jelasnya.
Periset BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat, menambahkan bahwa perubahan iklim turut berkontribusi terhadap peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.
“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” ujarnya.
Ia menegaskan, tikus sebagai reservoir utama bakteri masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, sehingga potensi penularan tetap terbuka melalui gigitan pinjal.
Meski tidak ada kasus pes pada manusia selama lebih dari satu dekade, sejumlah wilayah di Pulau Jawa masih dikategorikan sebagai daerah fokus, antara lain Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.
Choirul mengingatkan bahwa kondisi ini tidak boleh membuat lengah. Ketiadaan kasus bukan berarti penyakit telah hilang sepenuhnya.
Sebagai langkah antisipasi, ia merekomendasikan penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, dan vektor penyakit. Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan serta pemantauan wilayah bekas endemis dinilai penting untuk mencegah potensi wabah.
“Pes di Indonesia saat ini mungkin sedang ‘tertidur’. Namun tanpa kewaspadaan dan pengelolaan lingkungan yang baik, penyakit ini berpotensi muncul kembali,” pungkasnya.
Penelitian bertajuk Environmental Changes and Risk of Plague Epidemics in Indonesia ini merupakan hasil kolaborasi antara BRIN, Kementerian Kesehatan, serta mitra internasional dari China dan Prancis.








