banner iklan sticky 160x600px sidebar kiri
banner iklan 160x600 sidebar kanan

UKM Kreatif Bandung (8) Bandros Gaul dari Terusan Kopo

Iyang Ega Sukadiredja dengan gerai Bandros Bandoeng-Foto: Irvan Sjafari.

TANGSEL—-Tanah Priangan punya kekayaan kuliner tradisional yang berlimpah, yang mempunyai sejarah ratusan tahun. Di antaranya jajanan yang disebut bandros, yaitu kue tradisional yang terbuat dari campuran tepung beras, kelapa parut dan santan, serta disajikan  dengan gula pasir.

Hingga  bertemu Iyang Ega  Sukadirdja, di ICE, Serpong, Tangerang Selatan dalam sebuah pameran, Jumat (6/7/2018), saya masih mengira bandros hanya  sebuah panganan yang dijajakan dari kampung ke kampung dengan gerobak keliling.

Ternyata tidak, di tangan Ega sejak 2013 bandros “naik kelas” digemari  generasi milenial dan anak gaul di Bandung dan para wisatawan yang berkunjung ke kota kembang itu. Dia membuat lebih dari 10 varian rasa.

Yang orisinal pun dimodifikasi campuran kelapanya hingga terasa lebih guriuh dan varian lain mulai rasa oncom, keju, cokelat, sosis dan baso.  Kedainya berada di Jalan Terusan Kopo, Kabupaten Bandung.

“Saya membuatnya dengan selera kekinian,” ucap pria kelahiran 1978 ini, seraya menyebutkan ia meneruskan usaha yang dirintis Sang Nenenk pada 1976. Ega meneruskan usahanya bersama saudaranya Anny Darwati, serta Agus Dani Ramdani.

Sang Nenek yang disapa Ne’ Nana juga meneruskan resep tradisional yang diturunkan orangtuanya. Mulanya penjualan dititipkan di warung-warung kampung hingga kantin sekolah.

“Kalau ditanya, sejak kapan ada bandros, nenek juga bilang sejak dia kecil sudah ada,” ucap Ega.

Sambutan pasar ternyata mengejukan. Rata-rata setiap hari Bandros Bandoeng yang dikelolanya mampu meraup omzet rata-rata  satu juta rupiah  per hari. Sepotong bandros dibandroll Rp2500 atau satu seri terdiri 8 potong Rp20 ribu.

Peminatnya rata-rata anak muda berusia 16 hingga 20 tahun. Namun dalam berapa event, Iyang mendapat pesanan dari Gubernur  Jawa Barat, Bupati Kabupaten Bandung, hingga Wali Kota Bandung untuk menjamu tamunya.

“Kalau sudah ada pesanan khusus, biasanya saya membawa kompor dan bahan dan memasak di tempat. Omzetnya bisa dua kali lipat biasanya,” tutur Ega.

Ditanya rencana ke depan, Ega mengaku mendapat permintaan waralaba dari berapa peminat untuk membuka cabang di berbagai kota.  Namun dalam waktu dekat, Ega hanya menginginkan membuka cabang di kota Bandung.

berbagai varian bandros Bandoeng-Foto: Istimewa/facebook Bandros Bandoeng.

Ketika saya mewawancarai Ega, seorang bocah tampak sedang membungkus pesanan yang terus mengalir hingga menjelang mahgrib. Ega sudah mendidik penerus sejak dini, pelestari bandros berikutnya (Irvan Sjafari).

iklan investasi berjangka octa.co.id
download aplikasi android peluang news
iklan investasi berjangka octa.co.id