hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Perang Iran vs Koalisi AS-Israel Berpeluang Kian Besar

Perang Iran vs Koalisi AS-Israel Berpeluang Kian Besar
Ilustrasi Perang Iran vs Koalisi AS-Israel Berpeluang Kian Besar/dok: Ist

PeluangNews, Jakarta – Perang antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat (AS) dam Israel berpeluang semakin meluas, menyusul gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta dinamika respons militer yang tengah berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Demikian disampaikan Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), dalam program The Daily Buzz bertajuk “Perang Iran-AS, Timur Tengah Membara” yang dikutip Rabu (4/3/2026).

Menurut UBN, sosok yang gugur tersebut bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi juga memiliki posisi strategis dalam struktur kenegaraan Iran.

“Namanya Velayat-e Faqih. Yang dibunuh ini bukan cuma pemimpin tertinggi spiritual, tapi dalam undang-undang mereka juga sebagai panglima tertinggi militer sekaligus penentu arah ideologi,” ujarnya.

Ia menyebut, kepergian Khamenei dinilai sebagai kemartiran yang berpotensi memperkuat nasionalisme di dalam negeri Iran.

“Ini bukan kepergian biasa, ini martir. Martirisme biasanya melahirkan nasionalisme yang lebih kuat,” katanya.

UBN memperkirakan eskalasi konflik akan membesar, tergantung pada siapa yang ditetapkan sebagai pengganti. Ia menyebut secara politik dan militer, faksi yang dominan di Iran saat ini berasal dari Garda Revolusi atau IRGC.

“Bocorannya, beliau sudah menunjuk penggantinya. Di Iran, yang dominan secara politik dan militer adalah IRGC. Legitimasi kepemimpinan spiritual dan ideologinya masih sangat kuat,” jelasnya.

Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan adanya gejolak internal.

Namun, menurutnya, pengalaman panjang Iran menghadapi tekanan eksternal membuat negara tersebut relatif siap menghadapi situasi genting.

“Serangan balik pasti dilakukan dan sekarang sedang berlangsung,” ujarnya.

UBN juga menyoroti laporan mengenai 14 pangkalan militer di Timur Tengah yang disebut menjadi sasaran. Ia menilai langkah tersebut dipandang Iran sebagai respons terhadap ancaman yang dirasakan.

Selain Iran, ia menyebut sejumlah kelompok proksi di kawasan turut bergerak. Di utara Israel, Lebanon disebut bersiap menghadapi potensi perluasan konflik.

Sementara di Yaman, kelompok Houthi dilaporkan menutup jalur Laut Merah per 1 Maret, yang berdampak pada pelayaran global di kawasan Bab el-Mandeb.

“Laut Merah saja sudah membuat pelayaran global terganggu. Ini bisa berdampak luas, termasuk ke Indonesia,” katanya.

Di Irak, faksi bersenjata juga disebut melancarkan serangan terhadap pangkalan AS. UBN menilai situasi ini menunjukkan konflik tidak lagi bersifat bilateral, melainkan melibatkan banyak aktor.

Ia juga menyoroti potensi dampak ekonomi global jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terganggu. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas di jalur tersebut.

“Kalau ini berlangsung dua pekan saja, inflasi global bisa tidak terbayangkan,” ujarnya.

UBN menambahkan, indikator konflik global menurutnya terlihat ketika tiga negara pemilik senjata nuklir terlibat dalam gesekan terbuka di satu panggung konflik.

“Perang itu tidak selalu diumumkan secara formal. Cyber sudah berjalan, ekonomi sudah berjalan. Tinggal menunggu kontraksinya kapan,” kata dia.

Ia pun mengingatkan bahwa eskalasi di sejumlah titik seperti Ukraina, Laut Merah, Selat Hormuz, dan kawasan Asia Timur menunjukkan dinamika global yang semakin kompleks dan saling terhubung. (Aji)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate