
PeluangNews, Jakarta – Tidak hanya soal visa dan statistik, nota kesepahaman (MoU) Kelautan dan Perikanan yang ditandatangani Indonesia dan Mesir di Istana Merdeka, Minggu (11/10/2026), diprediksi akan memberi dampak langsung bagi nelayan kecil Indonesia.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang menyambut langsung penandatanganan MoU tersebut menyebutkan, kerja sama ini membuka tiga peluang besar.
Pertama, perluasan pasar ekspor. Selama ini produk perikanan Indonesia banyak masuk ke Amerika dan Eropa yang aturannya super ketat.
Mesir akan menjadi hubungan atau pintu masuk baru ke pasar Timur Tengah dan Afrika Utara yang penduduknya lebih dari 500 juta orang. Ruang lingkupnya mencakup pengolahan dan pemasaran produk perikanan.
Kedua, transfer teknologi budidaya. Ini yang paling menarik. Mesir adalah raja budidaya ikan air tawar di Afrika dengan produksi ikan Nila dan Mujair terbesar dari Sungai Nil.
Sementara Indonesia jago di teknologi keramba jaring apung di laut yang tidak merusak karang. Nantinya akan ada pertukaran ahli. Nelayan Indonesia bisa belajar efisiensi budidaya nila dari Mesir, sebaliknya ahli keramba Indonesia akan bantu Mesir.
Ketiga, pemberantasan illegal fishing. Kedua negara sepakat bekerja sama memberantas praktik Illegal, unreported, and unregulated (IUU) fishing.
Presiden Prabowo sendiri menegaskan, “Kami sepakat untuk memperkuat kerja sama yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan, konservasi sumber daya laut, pemberantasan illegal fishing, serta pertukaran pengetahuan.”
Bagi nelayan kecil yang tergabung dalam program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), MoU ini menjadi angin segar. KKP memastikan hasil tangkapan nelayan akan memiliki kepastian pasar dan harga lewat koperasi, karena infrastruktur dan investasi bersama dengan Mesir sudah disiapkan. Nelayan tinggal melaut, soal modal dan pasar akan ditopang koperasi. []








