
PeluangNews, Bogor — Pelestarian alam membutuhkan kolaborasi dan komitmen jangka panjang. Prinsip tersebut menjadi bagian dari pengembangan EIGER Nature yang melibatkan organisasi lingkungan, akademisi, pakar, pemerintah, dan masyarakat untuk mengintegrasikan konservasi, edukasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat.
Menjelang pembukaan untuk publik, EIGER Nature menerima kunjungan 22 perwakilan WWF-Indonesia dan jejaring WWF Global dalam rangkaian pertemuan Friends of Indonesia. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pendekatan pengelolaan kawasan sekaligus bertukar pandangan mengenai pengembangan inisiatif berbasis alam.
Melalui kegiatan guided site tour, para peserta melihat langsung perjalanan restorasi lahan kritis di kawasan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 hingga upaya konservasi di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
CEO WWF-Indonesia Aditya Bayunanda menilai, keterlibatan sektor swasta dalam pelestarian alam dapat memberikan manfaat lebih luas apabila dilakukan bersama pemerintah, masyarakat lokal, dan organisasi konservasi.
“Model seperti ini yang dibangun bersama pemerintah, masyarakat lokal, dan organisasi konservasi memiliki potensi yang sangat besar, termasuk juga untuk mendukung pembiayaan konservasi, khususnya di kawasan taman nasional,” ujar Aditya dalam keterangannya, yang dikutip Sabtu (17/10/2026).
Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan upaya mencari sumber pembiayaan baru dan berkelanjutan bagi kawasan konservasi di Indonesia.
WWF dan WALHI Dorong Kolaborasi Konservasi
Kolaborasi juga menjadi perhatian WALHI Jawa Barat yang kembali mengunjungi EIGER Nature untuk melihat perkembangan kegiatan dan tindak lanjut atas berbagai masukan sebelumnya. Selain berdialog dengan pengelola, WALHI turut meninjau aspek perizinan dan kelengkapan dokumen lingkungan.
Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Barat, Wahyudin Iwang, mengapresiasi keterbukaan EIGER Nature dalam menerima saran, masukan, dan kritik. Ia juga menilai keterlibatan akademisi dan pakar menjadi ruang penting untuk memperluas pertukaran informasi dan pengetahuan.
“Selama ini kami melihat EIGER Nature sebagai salah satu perusahaan yang masih memiliki komitmen. Kami juga melihat bahwa EIGER sangat terbuka untuk menerima saran, masukan, termasuk kritik. Jarang sekali perusahaan yang bisa menempatkan dirinya seperti itu,” kata Iwang.
Dalam hasil peninjauan yang disampaikan, WALHI Jawa Barat menyatakan bahwa berbagai perizinan dan dokumen lingkungan yang diperlukan telah dipenuhi. Pengembangan EIGER Nature yang berlangsung sejak 2018 tersebut dilengkapi sejumlah dokumen utama, antara lain perizinan tata ruang, persetujuan lingkungan, site plan, serta perizinan bangunan.
Kunjungan tersebut juga melibatkan sejumlah pakar, yakni Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, M.Sc., yang memiliki keahlian di bidang botani dan konservasi tumbuhan; Prof. Dr. Ir. Mirza Dikari Kusrini, M.Si., pakar konservasi satwa liar; serta Prof. Dr. Ir. Arief Sabdo Yuwono, M.Sc., pakar pencemaran lingkungan dan pengelolaan sampah serta limbah.
Baca Juga:EIGER Nature, Wajah Baru Wisata Alam Bogor yang Bawa Misi Ekowisata
Iwang mengingatkan bahwa pengelolaan lingkungan membutuhkan konsistensi dalam jangka panjang. Ia berharap EIGER Nature dapat menjadi pembelajaran bagi pelaku usaha lain yang mengembangkan kegiatan berbasis alam, dengan tetap menempatkan perlindungan lingkungan sebagai bagian penting dari kegiatan usaha.
“EIGER Nature ini masih berada di tahap awal dan akan berlangsung dalam jangka panjang. Kalau terus dilakukan dengan serius dan terus melibatkan tim pakar, akademisi, serta NGO, ini bisa menjadi pilot project atau menjadi pembelajaran bagi pengusaha lain yang menjalankan kegiatan berbasis alam,” ujarnya.
EIGER Nature Terapkan Pendekatan Pentahelix
Direktur Utama EIGER Nature Imanuel Wirajaya mengatakan, kolaborasi berbagai pihak merupakan bagian dari pendekatan Pentahelix yang diterapkan dalam pengelolaan kawasan. Keterlibatan berbagai unsur dibutuhkan untuk mengevaluasi kegiatan secara berkelanjutan sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang perlu dipertahankan, diperbaiki, dan ditingkatkan.
“Kami ingin membuka ruang agar masukan dan kritik tidak hanya disampaikan, tetapi juga dapat dilihat kembali secara langsung di lapangan, apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah baik untuk dipertahankan, dan apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan,” ujar Imanuel.
EIGER Nature dikembangkan sebagai bagian dari perjalanan EIGER yang selama hampir empat dekade tumbuh dari kecintaan terhadap alam dan petualangan. Melalui inisiatif ini, semangat tersebut diterjemahkan ke dalam pengalaman yang menghubungkan manusia dengan alam, budaya, dan masyarakat.
Dalam pengembangannya, EIGER Nature juga berkolaborasi dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango untuk mendukung konservasi, edukasi lingkungan, dan pemanfaatan kawasan secara bertanggung jawab.
Imanuel berharap keterlibatan organisasi lingkungan, akademisi, pemerintah, pakar, dan masyarakat dapat memperkuat pengelolaan kawasan sekaligus menghadirkan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat dalam jangka panjang.
“Kami percaya, menjaga alam adalah perjalanan bersama. Dari keterbukaan, kritik, ilmu pengetahuan, dan kolaborasi, kita dapat menciptakan pengalaman di alam yang bermakna bagi manusia sekaligus membawa kebaikan bagi alam dan generasi mendatang,” tuturnya. (Aji)








