hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Energi  

Efek Kenaikan Harga BBM dan Gas Nonsubsidi Mulai Terasa

Elpiji
Ilustrasi | Foto: Dok. Istimewa.

PeluangNews, Jakarta – Kenaikan harga gas elpiji (LPG) nonsubsidi 12 kg menimbulkan kekhawatiran di masyarakat akan disusul dengan kenaikan harga kebutuhan lainnya.

Kondisi ekonomi masyarakat saat ini tengah tertekan. Pemerintah harus mampu menjaga agar kebutuhan pokok lainnya tidak naik pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.

“Pengalaman yang sudah-sudah kalau BBM dan harga gas naik, yang lain pun ikut naik,” kata Yuni Imron di Cilodong, Depok, Jawa Barat, Senin (20/4/26).

Sebagaimana diketahui, harga LPG nonsubsidi 12 kg naik dari sekitar Rp192.000 menjadi Rp228.000 per tabung.

Kenaikan ini terjadi di tengah lonjakan harga BBM dan sejumlah kebutuhan pokok, sehingga tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga semakin terasa.

Yuni mengaku baru mengetahui kenaikan tersebut dan langsung merasakan dampaknya terhadap perencanaan keuangan bulanannya.

Dia menilai, kenaikan harga energi hampir selalu diikuti oleh lonjakan harga lain di pasaran. “Kalau BBM naik, biasanya ongkos kirim naik, terus harga barang juga ikut. Sekarang gas juga naik, jadi makin khawatir ke depannya,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Latief (50), yang telah menggunakan gas nonsubsidi selama lebih dari tiga dekade.

Menurutnya, kondisi saat ini terasa lebih berat karena berbagai kebutuhan naik dalam waktu bersamaan.

“Sekarang tuh bukan cuma gas ya, semuanya naik. Jadi terasa banget, pengeluaran jadi membengkak. Takutnya nanti bahan dapur juga ikut naik lagi,” kata Latief.

Dia mengatakan, kenaikan harga gas kali ini bukan sekadar soal kebutuhan memasak, tetapi juga sinyal tekanan ekonomi yang lebih luas. Ia pun mulai mempertimbangkan langkah-langkah penghematan agar pengeluaran tetap terkendali.

“Sekarang tuh bukan cuma gas ya, semuanya naik. Jadi kerasa banget, pengeluaran jadi membengkak. Takutnya nanti bahan dapur juga ikut naik lagi,” ujarnya.

Latief mengemukakan, kenaikan harga gas kali ini bukan sekadar soal kebutuhan memasak, tetapi juga sinyal tekanan ekonomi yang lebih luas. Dia mengaku mulai mempertimbangkan langkah-langkah penghematan agar pengeluaran tetap terkendali.

“Kalau begini ya harus dihemat-hemat. Mungkin cari alternatif lain atau kurangi pemakaian, soalnya kalau terus naik begini berat,” tuturnya.

Sejumlah warga bahkan mulai memikirkan untuk beralih ke opsi lain, seperti LPG subsidi 3 kg atau kemasan 5,5 kg, meski keduanya memiliki tantangan tersendiri, mulai dari ketersediaan hingga kebutuhan biaya awal untuk tabung baru.

Sementara itu, pemerintah menegaskan bahwa LPG 12 kg merupakan produk nonsubsidi yang harganya mengikuti mekanisme pasar.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, bantuan energi diprioritaskan bagi masyarakat kurang mampu.

Dia memastikan harga LPG subsidi 3 kg tetap stabil sesuai arahan Presiden, meski gejolak global masih berlangsung. Namun, untuk LPG nonsubsidi, penyesuaian harga dinilai sebagai konsekuensi dari dinamika pasar energi global.

Di tengah kondisi ini, kekhawatiran warga bukan hanya pada kenaikan hari ini, melainkan apa yang akan terjadi setelahnya. Jika efek berantai benar-benar terjadi, tekanan terhadap daya beli masyarakat dikhawatirkan akan semakin besar. []

pasang iklan di sini
octa vaganza