Gencarnya upaya Pemerintah menggelar program Makan Bergizi Gratis tak membuat bisnis katering rumahan mati. Selalu ada ceruk bisnis yang bisa digarap dan tentu saja, mendatangkan cuan, asalkan dijalankan dengan strategi yang tepat.

Kendati ada saja kasus siswa yang keracunan saat mengkonsumsi MBG, program makan siang gratis untuk siswa sekolah ini masih maju terus pantang mundur.
“Dan MBG kita ini sudah sampai 60 juta hari ini. Kita akan mencapai 82 juta paling lambat Desember 2026. Paling lambat. Dengan kondisi sekarang saja, hari ini, MBG telah ada dapur ya, SPPG yang sudah operasional 22.275 dapur operasional,” ungkap Presiden Prabowo.
Toh, bisnis kuliner untuk melayani kebutuhan sekolah masih terus tumbuh karena memang tidak semua sekolah menerima manfaat MBG.
Ide dasarnya sederhana: Setiap anak pasti butuh sarapan atau makan siang di sekolah. Jadi, pasarnya sebetulnya sudah ada. Sebagian kebutuhan memang sudah bisa dipenuhi dari kantin sekolah. Tetapi, seringkali fasilitas kantin sekolah terbatas, atau antrian panjang, atau orang tua ingin memastikan anaknya mengkonsumsi makanan sehat, tidak jajan terus. Sayangnya, tidak semua orang tua mempunyai waktu yang cukup untuk menyiapkan bekal makan anaknya.
Maka, permintaan pasar untuk memenuhi kebutuhan anak-anak sekolah sebetulnya masih terbuka lebar.
Tri Suny Setiary adalah salah satu pelaku usaha yang melihat peluang pasar itu dengan jeli. Dan dia sukses menyulap dapur di rumahnya menjadi cuan dengan memasok catering sarapan atau makan siang untuk memenuhi kebutuhan siswa di sekolah.
“Awalnya saya tidak sengaja masuk ke bisnis ini. Saya sebetulnya dulu hanya menyiapkan makanan untuk bekal anak saya sekolah, Ternyata banyak siswa lain yang ikut mencicipi makan siang anak saya. Hasilnya, setiap hari anak saya kekurangan makanan,” ujarnya.
Singkat cerita, banyak orang tua yang kemudian memesan makanan kepada dia. Itulah awal Tri Suny terjun ke bisnis kuliner. Dia lalu mendirikan perusahaan kuliner ‘Mama Gemas Catering’ yang beroperasi di daerah Jakarta Timur. Yang dia sasar adalah catering untuk siswa sekolah hingga karyawan. Dia menyiapkan proposal untuk penawaran jasa catering ataupun untuk mengikuti pitching.
Apakah Tri Suny belajar memasak secara khusus? Ternyata tiidak. “Saya awalnya tidak bisa masak, tetapi kemudian belajar secara otididak,“ ujarnya.
“Saya justru senang berkeliling mencoba berbagai makanan di banyak tempat. Dari situlah saya belajar mengenali cita rasa dan memahami seperti apa makanan yang benar-benar enak,” ujarnya.
Pelan-pelan dia memberanikan diri mencoba memasak sendiri. Meski di awal belum menemukan rasa yang pas, seiring waktu dia semakin terampil menakar bumbu dan menghadirkan masakan yang lezat dan nikmat.
Berbekal hobi wisata kuliner tersebut, secara tidak langsung dia kemudian juga terus khazanah menu kuliner.
Usahanya pun tidak langsung mulus. Begitu pandemi, bisnis kulinernya praktis juga hibernasi. Namanya juga bisnis catering, keluhan konsumen juga tidak bisa dihindari. “Semua masukan, kritik dan saran, saya terima dengan baik, karena pastinya itu untuk kebaikan saya juga, jadi saya bisa tahu salah dan kurangnya catering saya dimana, jadi bisa diperbaiki,” ujarnya.
Modal Cukup, Skill Memadai
Apa pesan Tri Suny kepada masyarakat yang ingin memulai usaha kuliner, terutama catering untuk sekolah? “Yang utama adalah modal yang cukup, skill yang memadai ntuk masak dan melihat peluang, karena catering saingannya cukup banyak. Yang tak kalah penting adalah harus rajin mengupdate informasi dan pengetahuan tentang makanan,” jelasnya.
Lain lagi kisah Nafa Pujiana. Ibu yang memiliki dua anak ini lebih memilih usaha cake & pastry. “Saya lebih suka bau butter daripada bawang,” ujarnya saat menjelaskan alasan memilih usaha pembuatan cake & pastry.
Usaha kulinernya mulai digarap serius sejak 7 tahun lalu. Bisnis itu dijalaninya karena hobinya memang membuat kue.
Usaha mengembangkan pasar dilakukannya masih secara terbatas. Mulai dari teman-temannya, tetangga, saudara, dari situ terus berkembang.
Berapa kebutuhan investasi awal untuk memulai bisnis ini? “Jangan berpikir investasi besar-besaran dulu. Mulai saja dari perlengkapan sederhana untuk menunjang hobi,” ujarnya.
Dari situ, secara bertahap perlengkapan memasaknya terus di-upgrade sesuai dengan kebutuhan baker professional.
Perlengkapan dasar yang harus dilengkapi mulai dari oven, mixer, blender, Loyang, adonan, dan berbagai peralatan lain. Total dana yang dibutuhkan untuk perlengkapan masak professional menurut Nafa diestimasikan mencapai Rp25 juta, “Tetapi itu tidak keluar sekaligus, bertahap saja sesuai kebutuhan. Investasi awal sekali cukup Rp5 juta. Tetapi, kalau baru untuk merintis, manfaatkan saja peralatan yang sudah ada,” ujarnya.
Mengoperasikan usaha kulinernya dari Kawasan Cibinong, Bogor, bisnisnya yang diberi brand nafa.cookiesncake terus berkembang.
Tri Suny dan Nafa membuktikan bagaimana dapur di rumahnya bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan cuan.
Tips yang perlu diingat untuk menjalankan usaha ini dari rumah: Mulai dari menu yang paling kita kuasai. Untuk tahap awal tidak disarankan untuk langsung menawarkan banyak menu, pilih saja 1-3 produk andalan kita.
Jangan lupa, lakukan food test ke orang-orang di sekeliling Anda, sebagai bagian dari kegiatan ‘uji pasar kecil’ Mintakan feedback secara jujur, sehingga kita bisa langsung memperbaiki.
Tidak kalah penting adalah perencanaan usaha secara detail, jangan cuma “kira-kira”. Pastikan harga jual membukukan keuntungan, bukan sekadar balik modal.
Selain itu, pastikan kebersihan makanan, ini hal yang sangat penting. Selanjutnya, mulailah dari pre-order, jangan langsung menyiapkan stok dalam jumlah besar.
Bagaimana strategi pemasaran dan distribusi yang baik? Yang jelas, jangan buru-buru membuka toko online. Manfaatkan dulu sarana komunikasi WhatsApp dan media sosial secara optimal. Kalau pasar sudah terlihat stabil, baru Anda boleh merencanakan ekspansi.
Yang jauh lebih penting dari hal itu semua, sebagaimana juga pada upaya membangun kewirausahaan adalah mulai saja kerjakan dari hal yang paling sederhana. Jangan terlalu banyak berteori.
Bagaimana, berminat? Selamat mencoba. Tentu saja, Anda harus senang memasak, atau setidaknya hobi kuliner dan mempunyai partner yang jago masak. (drp)





