Peluangnews, Depok – Kalangan akademisi berharap, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN 2023 dapat menerjemahkan ASEAN Outlook on Indo-Pacific. Termasuk arah kebijakan ASEAN dalam merangkul mitranya di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
“Jadi kerja sama oleh negara-negara ASEAN harus konkret dan berdampak pada sentralitas ASEAN di Indo-Pasifik,” ujar Akademisi dari Universitas Indonesia (UI) yang juga selaku Sekretaris Eksekutif Pusat Studi ASEAN Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI, Shofwan Al Banna Choiruzzad dalam keterangannya, Senin (1/5/2023).
Menurut dia, Keketuaan Indonesia pada Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) berada pada titik sejarah yang penting.
“Setidaknya, ada tiga hal yang membuat ASEAN Chairmanship Indonesia menjadi penting,” kata Shofwan.
Pertama, dunia, termasuk kawasan Asia Tenggara, masih berada dalam situasi pemulihan pasca pandemi dan perlambatan ekonomi global.
“Asia Tenggara sebagai salah satu dari sedikit titik pertumbuhan dunia menjadi kawasan yang penting untuk membantu pemulihan global,” ungkap Shofwan.
Kedua adalah ketegangan geopolitik meningkat, terutama di kawasan Indo-Pasifik di mana negara-negara ASEAN berada di dalamnya. Ketiga, kata Shofwan, di tengah dua tantangan besar tersebut, ASEAN menghadapi tantangan dari dalam yang sangat kompleks, seperti krisis di Myanmar.
KTT ke-42 ASEAN 2023 yang akan digelar di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 9-11 Mei mendatang itu memiliki delapan agenda pertemuan.
Menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, ada delapan pertemuan pada KTT ke-42 ASEAN itu yang digelar dalam format pleno dan retreat, tujuh di antaranya akan dipimpin oleh Presiden Joko Widodo.
Rangkaian KTT akan dimulai pada 8 Mei dengan Senior Official Meeting dan dilanjutkan dengan pertemuan tingkat Menteri luar negeri pada 9 Mei. Pertemuan puncak akan digelar pada 10-11 Mei 2023. (alb)





