
PeluangNews, Makassar – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong desa-desa di Indonesia menjadi kekuatan baru dalam perdagangan global. Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Forum Desa Berdaya, Inovatif, Sejahtera, Akuntabel (BISA) Ekspor di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (10/3).
Forum bertema “Dari Desa untuk Dunia – Chapter Sulawesi Selatan” ini menjadi sarana edukasi bagi pelaku usaha desa untuk memahami strategi pengembangan ekspor, meningkatkan kualitas produk, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan mitra usaha yang memiliki akses pasar internasional.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan, desa kini tidak lagi hanya menjadi penyangga produksi, tetapi dapat berperan sebagai motor penggerak ekspor nasional.
Menurut Puntodewi, Kemendag terus memperkuat sinergi dengan berbagai kementerian dan lembaga guna mempermudah pelaku usaha desa masuk ke pasar global. Upaya tersebut dilakukan antara lain dengan memangkas hambatan logistik dan birokrasi yang selama ini menjadi kendala bagi pelaku usaha di daerah.
“Dengan dukungan tersebut, pelaku usaha di desa diharapkan dapat berkontribusi dalam rantai pasok global,” ujarnya saat membuka forum.
Forum tersebut diikuti sekitar 100 peserta yang berasal dari desa binaan dengan produk unggulan, perusahaan eksportir sebagai off-taker, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), serta BUMDes Bersama (BUMDesma) di Sulawesi Selatan.
Sulawesi Selatan dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan ekspor berbasis desa. Dari total 247 desa binaan di provinsi tersebut, sebanyak 159 desa telah dinyatakan siap menembus pasar ekspor. Komoditas unggulan yang berpotensi dipasarkan ke luar negeri antara lain kakao, rumput laut, dan minyak nilam.
Selain diskusi penguatan ekosistem ekspor lintas kementerian, forum juga menghadirkan sesi presentasi bisnis secara daring antara pelaku usaha desa dengan perwakilan perdagangan luar negeri, yakni Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei serta Atase Perdagangan RI di Kuala Lumpur. Melalui sesi tersebut, pelaku usaha desa mendapatkan kesempatan memperluas akses pasar internasional.
Salah satu peserta forum, Renaldi Kurniawan dari binaan Petani Milenial Jeneponto, mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan wawasan baru terkait peluang ekspor bagi pelaku usaha desa.
Ia berharap forum tersebut dapat membantu pelaku usaha desa memperoleh bimbingan teknis sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai proses ekspor sehingga produk yang dihasilkan mampu menembus pasar internasional.
Puntodewi menegaskan, terbukanya akses pasar global harus diimbangi dengan konsistensi kualitas produk serta kesiapan sumber daya manusia. Menurutnya, standar mutu menjadi fondasi utama untuk memenangkan persaingan di pasar internasional.
Kemendag, lanjut Puntodewi, terus memberikan pendampingan teknis agar produk desa tidak hanya unggul dari sisi jumlah produksi, tetapi juga memenuhi standar keberlanjutan serta keamanan pangan yang berlaku di pasar global.
Dalam forum tersebut juga dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Ditjen PEN Kemendag dan Ditjen Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan. Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dan produk hasil hutan yang berorientasi ekspor.
Kolaborasi tersebut mencakup pertukaran data, peningkatan kapasitas pelaku usaha, hingga promosi produk hasil hutan yang dikelola masyarakat secara berkelanjutan.
Usai forum, rombongan juga melakukan kunjungan ke Kelompok Usaha Perhutanan Sosial gula aren di Maros, Sulawesi Selatan, untuk melihat secara langsung potensi komoditas ekspor berbasis hutan.
Secara nasional, hingga Maret 2026 Kemendag telah memetakan 2.503 desa di seluruh Indonesia yang memiliki potensi ekspor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 755 desa masuk dalam kategori siap ekspor, sementara 1.627 desa lainnya masih memerlukan pendampingan agar dapat menembus pasar internasional.








