
PeluangNews, Jakarta — Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Senin pagi (6/4/2026). Mata uang Garuda terkoreksi sebesar 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp16.996 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp16.980 per dolar AS.
Pelemahan ini menunjukkan tekanan lanjutan terhadap rupiah setelah pada akhir pekan lalu ditutup di level yang sedikit lebih kuat. Secara harian, pergerakan rupiah masih berada dalam tren fluktuatif dengan kecenderungan melemah tipis.
Dibandingkan dengan data sebelumnya, depresiasi kali ini relatif terbatas, mencerminkan pasar yang masih menahan diri di tengah sentimen global yang belum sepenuhnya stabil. Perubahan sebesar 16 poin juga mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah belum terlalu signifikan, meski tetap menunjukkan arah pelemahan.
Baca Juga: Lebaran Betawi 2026 Digelar 10–12 April, Dongkrak UMKM dan Ekonomi Jakarta
Pelaku pasar saat ini cenderung mencermati perkembangan ekonomi global, termasuk arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat serta dinamika nilai tukar dolar AS yang masih dominan di pasar keuangan internasional.
Selain faktor eksternal, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi domestik, termasuk arus modal asing dan kinerja neraca perdagangan. Namun, pelemahan tipis ini dinilai masih dalam batas wajar dan belum mencerminkan tekanan yang berlebihan di pasar valuta asing.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terus Melambung, Ini Dampaknya Pada Rupiah
Analis memperkirakan rupiah akan bergerak terbatas dalam jangka pendek, dengan kecenderungan mengikuti sentimen global serta perkembangan data ekonomi yang akan dirilis dalam waktu dekat. (Aji)








