hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

PHK 2019 Diprediksi Tembus 10.000

Tingginya PHK tahun ini dikarenakan penerapan digitalisasi. Itu terlihat dari banyak sektor ritel menutup outlet. Di sektor otomotif juga terjadi peralihan ke teknologi dan automasi, sehingga korban ter-PHK seakan tak terhindarkan.

STAGNASI pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5%, mau tak mau, berdampak negatif pada sektor ketenagakerjaan. Asosiasi pekerja memperkirakan angka tenaga kerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada tahun ini mencapai 8.000 hingga 10.000 pekerja. Secara riil, dampak PHK itu akan dirasakan oleh sedikitnya 3 atau 4 kali jumlah mereka yang ter-PHK.

Era digitalisasi berdampak pada terjadinya pergeseran industri padat karya ke industri padat modal. Pergersaran ini dinilai memicu kenaikan angka PHK. Tingginya PHK tahun ini dikarenakan penerapan digitalisasi. Itu terlihat dari banyak sektor ritel menutup outlet. Di sektor otomotif juga terjadi peralihan ke teknologi dan automasi, sehingga korban ter-PHK seakan tak terhindarkan.

Selain faktor digitalisasi itu, kompetisi industri antarnegara yang berlangsung semkin ketat juga ikut jadi penentu. Buntut-buntutnya, produksi industri padat karya kita menjadi tidak maksimal. Akibatnya paling akhir ya PHK yang tak terhindarkan itulah,” ujar Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Timboel Siregar, seperti dikutip di laman bisnis.com, Rabu (7/8).

Timboel Siregar memperkirakan sepanjang tahun ini angka PHK akan lebih besar dibandingkan dengan tahun lalu. Hal itu terjadi karena kondisi industri terutama padat karya yang tengah sulit. “Pemerintah bilang PHK turun, tetapi fakta lapangan menunjukkan sebaliknya. Data pemerintah tahun lalu (korban PHK) sekitar 3.500 pekerja. Tahun ini lebih banyak bisa mencapai 8.000 hingga 10.000 pekerja,” tuturnya.

Senada dengan Timboel, Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, juga memperkirakan potensi angka PHK sepanjang tahun ini dapat mencapai 10.000 pekerja. Jumlah itu merupakan potensi PHK dari industri baja sekitar 3.000 sampai 5.000 tenaga kerja, semen 1.000 sampai 2.000 tenaga kerja, otomotif terutama dari Nissan 500 sampai 1.000 tenaga kerja, dan elektronik dari Batam sekitar 2.000 tenaga kerja.

Selain itu, banyak outlet ritel yang tutup sehingga turut menyumbang angka PHK. Dalam waktu bersamaan, kalangan perbankan juga turut mengurangi tenaga kerja karena tersedianya alternatif yang lebih efisien yang disumbangkan kecanggihan teknologi. Lebih jauh dari itu, selain perbankan, sudah muncul berbagai prediksi berbagai tenaga kerja sektor konvensional bakal tergusur dalam beberapa tahun ke depan.

“Kondisi industri tahun ini berat, mereka mendapat tantangan berat untuk menjaga keberlangsungan bisnis. Industri baja, misalnya, terpukul karena masuknya baja murah dari Cina. Lalu ada lagi dari industri semen dan elektronik. Banyak tutupnya ritel di tahun ini. Jadi angka PHK tahun ini sangat besar bisa capai 10.000 tenaga kerja,” tutur Said Iqbal.

Untuk itu, Iqbal meminta agar pemerintah segera melakukan langkah-langkah kongkret untuk mencegah terjadinya PHK, termasuk merealisasikan kartu prakerja. “Harus ada upaya kongkret pemerintah untuk melindungi para pekerja di Indonesia,” katanya.●

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate