hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Energi  

Pertamina Masih Hitung Volume Pertalite untuk Kebutuhan Natal dan Tahun Baru

Jelang Idul Adha 2024, Pertamina Tambah Stok Solar dan Elpiji 3 Kg
Ilustrasi/dok.lip6

PeluangNews, Jakarta – Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan, pihaknya masih menghitung volume Pertalite untuk kebutuhan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Perhitungan itu dilakukan tidak lepas dari rencana perusahaan yang akan menambah stok Pertalite hingga 1,4 juta kiloliter (kl). Tambahan stok itu akan dipenuhi melalui kombinasi produksi kilang dalam negeri dan impor.

Penambahan stok Pertalite, lanjut Roberth, baik dari impor dan produksi dalam negeri, diambil untuk menjaga ketahanan stok Pertalite di atas batas aman yakni minimal 21 hari. Saat ini ketahanan stok Pertalite berada di kisaran 17 hari.

Menurut dia, penambahan stok menjadi krusial mengingat kapasitas produksi BBM domestik yang belum sebanding dengan tingkat konsumsi nasional.

Roberth mengutarakan perincian alokasi penambahan 1,4 juta kl tersebut, prosesnya masih dalam tahap negosiasi dan perencanaan.

Alokasi pasti antara impor dan penyerapan produksi kilang domestik akan diperbarui setelah negosiasi rampung.

“Kami masih melakukan negosiasi dan perencanaan untuk kemudian melaksanakan kegiatan impor dalam memenuhi kebutuhan itu,” kata dia.

“Untuk berapa-berapanya tentunya pasti ini nanti akan di-update pada saat kemudian negosiasi itu sudah berjalan,” lanjut Roberth dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Dia mengutarakan pelaksanaan impor Pertalite akan dilakukan secara bertahap melalui proses pengadaan yang sesuai dengan standar dan prosedur Pertamina.

Selain itu, impor juga bakal dilakukan sesuai spesifikasi yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas).

Dalam konteks sumber impor, tambah Roberth, Pertamina memiliki beragam mitra penyedia (supplier). Namun, dia memberi sinyal bahwa 40% kuota impor bakal berasal dari Amerika Serikat.

Hal ini tak lepas dari kebijakan pemerintah yang telah menetapkan penyerapan dari AS sekitar 40% dari total impor. Itu diambil sebagai salah satu paket negosiasi tarif resiprokal dengan AS. Sementara itu, 60% kuota impor sisanya bisa diambil dari supplier lain.

“Selebihnya itu juga dilakukan dengan supplier penyedia yang ada di lokasi lain. Pasar impor kita kan berdasarkan kebijakan dengan pemerintah sudah ada untuk menyerap yang dari AS,” tutur Roberth.[]

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate