
PeluangNews, Jakarta – Tantangan plastik kini tak lagi bisa dilihat semata sebagai persoalan limbah. Perubahan gaya hidup, ragam material baru, serta sistem pengelolaan yang belum sejalan dengan laju konsumsi modern membuat persoalan ini semakin kompleks. Menyadari hal tersebut, ParagonCorp menghadirkan pendekatan kolaboratif melalui rangkaian Beauty Science Tech (BST) 2026.
Sebagai bagian dari BST 2026, ParagonCorp menggelar forum diskusi publik bertajuk From Plastic Problem to Circular System: How Collaboration Turns Complexity into Impact. Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor untuk membahas tantangan dan peluang membangun sistem sirkular plastik yang lebih realistis dan berdampak.
Diskusi dimoderatori oleh Sustainability Strategy Advisor Systemiq Indonesia, Nanda Erian, dan menghadirkan perspektif global hingga lokal. Salah satunya disampaikan oleh Director, Materials and Circular Economy Systemiq Indonesia, Mike Webster, yang menyoroti ketimpangan antara meningkatnya kesadaran masyarakat dan kesiapan sistem pengelolaan plastik.
“Tantangan terbesar saat ini bukan kurangnya kesadaran, melainkan ketertinggalan sistem. Masyarakat sudah merasakan urgensinya—ketika sungai membawa lebih banyak plastik daripada ikan, atau ketika tempat pembuangan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kesadaran ini menunjukkan bahwa kita tidak harus menunggu solusi yang sempurna untuk mulai bertindak. Kita perlu bergerak, belajar, dan membangun sistem yang lebih baik bersama-sama,” ujar Mike Webster.
Dari konteks Indonesia, Co-Founder dan CEO Rekosistem Ernest Christian Layman mengangkat realitas di lapangan terkait keterbatasan infrastruktur daur ulang, baik dari sisi teknis maupun ekonomi. Sementara itu, kreator konten lingkungan Jerhemy Owen menekankan pentingnya peran konsumen, dengan menyoroti bahwa partisipasi publik hanya dapat tumbuh jika sistem yang disediakan sederhana, mudah diakses, dan dapat dipercaya.
Berangkat dari diskusi tersebut, ParagonCorp memperkenalkan langkah konkret melalui peluncuran Paragon Empties Station dalam rangkaian Beauty Science Tech 2026. Inisiatif ini merupakan program take-back kemasan kecantikan berbasis teknologi yang dirancang untuk mempermudah konsumen terlibat langsung dalam sistem sirkular.
Paragon Empties Station hadir dalam bentuk smart drop box yang dapat menerima berbagai jenis kemasan produk kecantikan dan perawatan diri, mulai dari plastik, kertas, kaca, hingga material campuran. Menariknya, sistem ini tidak terbatas pada merek Paragon saja, melainkan menerima kemasan kosong dari seluruh brand kecantikan.
Teknologi cerdas yang digunakan dikembangkan melalui proses riset internal untuk mengenali keragaman bentuk, ukuran, dan material kemasan kecantikan yang selama ini menjadi tantangan dalam proses daur ulang. Program ini juga dilengkapi dengan mekanisme insentif sebagai upaya mendorong partisipasi konsumen secara berkelanjutan.
Peluncuran Paragon Empties Station di BST 2026 menjadi penampilan publik perdana dari inisiatif tersebut. Paragon menegaskan bahwa program ini masih berada pada tahap pilot dan akan dijalankan di sejumlah kota di Indonesia sebagai ruang pembelajaran untuk memahami perilaku konsumen, menguji efektivitas sistem, serta menyempurnakan desain sebelum diperluas ke skala yang lebih luas.
Inisiatif ini menjadi bagian dari perjalanan sirkularitas ParagonCorp dalam kampanye “Tumbuh Lewat Manfaat”, yang berangkat dari keyakinan bahwa pertumbuhan berkelanjutan hanya dapat tercapai jika sistem dirancang untuk memberi manfaat bagi manusia, masyarakat, dan lingkungan.
Melalui Beauty Science Tech 2026, Paragon menempatkan diri sebagai platform katalis yang membuka ruang dialog, mendorong aksi nyata, dan menghadirkan teknologi sebagai enabler, agar kontribusi sekecil apa pun dari setiap individu dapat menjadi bagian dari dampak yang lebih besar.








