dokter keuangan
dokter keuangan
octa vaganza
Fokus  

Makan Tidak Habis, Minta Nambah

Meski berkonsentrasi penuh pada bisnis kredit UMKM sebagai core business mereka, seperti tercermin dari namanya, BRI tidak mencapai target penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2017.

PEMERINTAH agaknya tidak puas dengan pencapaian kredit untuk UMKM yang disalurkan perbankan nasional. Padahal, instrumen hukum dan fiskal untuk itu cukup tersedia. Baik itu berupa UU No. 20/2008 tentang UMKM; maupun dengan keberadaan Peraturan Bank Indonesia No.14/22/PBI/2012 tentang Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh Bank Umum dan Bantuan Teknis dalam rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Intinya, kebijakan ini memberlakukan insentif bunga bagi lembaga keuangan yang memberikan kredit bagi UMKM. Suku bunga yang dikenakan kepada UMKM ditekan dari dua digit menjadi satu digit. Dari 12% diturunkan jadi 9%, terakhir dikompres lagi menjadi hanya 7%. Produk tersebut dinamakan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tahun ini disiapkan dana Rp120 triliun untuk semua lembaga keuangan penyalur. Angka ini naik dibanding target 2017 yang sebesar Rp110 triliun.

Bahkan, ini juga lebih tinggi 91,23% dibandingkan realisasi KUR pada tahun sebelumnya (Rp96,71 triliun). Nilai tersebut disalurkan oleh 40 lembaga keuangan penyalur yang terdiri dari 34 bank, empat lembaga keuangan dan dua koperasi dengan bagi 4.086.971 debitur. Dari 34 bank penyalur KUR, sebanyak tiga bank BUMN besar dalam langkah tersebut, yakni Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan Badan Negara Indonesia 46.

Fakta bahwa BRI berada di urutan pertama penyaluran KUR bukan sesuatu yang aneh. Itu sudah sepantasnya. Toh khitah BRI memang memberikan kredit kepada kalangan UMKM. Sebanyak Rp69,6 triliun dikucurkannya pada 2017. Diukur dari perencanaan di awal tahun, pencapaian realisasi tahun lalu itu hanya 97,8% dari target Rp71,2 triliun. Tidak diperoleh informasi apa penyebabnya. Meski begitu, pada 2018 ini, BRI meminta kenaikan platform kredit sebesar Rp79,7 triliun. Ibarat makan, nasi di piring tak habis tapi masih minta nambah.

Dari segi momentum, potensi pengurangan pendapatan logis saja menjadi keluhan. Terutama akibat faktor penurunan suku bunga KUR menjadi 7% (dari 9%), yang berakibat mereka kehilangan pundi-pundi tambahan Rp700 miliar. Meski begitu, bank ini (tetap) minta penambahan jatah subsidi untuk budget KUR. Secara internal perusahaan menerapkan langkah-langkah efisiensi. Sedangkan untuk lebih menjangkau nasabah, BRI akan menggunakan teknologi dalam penyaluran KUR.

Bank Negara Indonesia (BNI 46) juga hanya mampu merealisasikan KUR sebesar Rp9,7 triliun atau 80,95% dari target Rp12 triliun. Namun, sebagaimana halnya BRI, BNI pun mengajukan tuntutan serupa. Bank berlogo perahu ini mengajukan kenaikan sebesar Rp13,4 triliun. BNI serius merealisasikan target KUR untuk mendongkrak pencapaian PBI No 14/22/PBI/2012 pada 2018. Penyaluran KUR dioptimalkan BNI dengan menyasar Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Maksimalisasi Jaringan

Agak di luar dugaan, bank BUMN yang mampu mencapai target penyaluran KUR adalah Bank Mandiri. Malahan, bank ini melampau target sebesar 102,5% menjadi Rp13,3 triliun. “Keberhasilan penyaluran KUR didukung jaringan yang dimiliki Bank Mandiri,” tutur Wawan Setiawan, Senior Vice President Micro Banking Group PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sebanyak 400 jaringan bank yang dipunyainya terbukti efektif mendukung pencapaian realisasi KUR tersebut.

Mengacu pada kinerjanya yang kinclong di tahun lalu, logis jika Mandiri sangat percaya diri. Bank ini meminta kenaikan pengucuran KUR menjadi Rp14,56 triliun. Distribusi dana itu akan dicapai melalui kerja sama dengan BPR di berbagai daerah. Selain itu, KUR akan difokuskan pada sektor produktif, seperti perikanan, pertanian dan perkebunan. Sesuai dengan arahan Kementerian Koordinator Perekonomian, agar 50% KUR (porsi sebelumnya 45%) disalurkan ke sektor produktif.

BCA melibatkan semua lembaga keuangan untuk menyalurkan KUR kepada UMKM. Tidak terkecuali koperasi. Bahkan perusahaan tidak berbasis keuangan juga digandengnya, seperti perusahaan dagang daring Tokopedia. Perusahaan teknologi keuangan (tekfin) juga diikutsertakan, tidak hanya kredit dari layanan internal. “Kami berharap kerja sama ini dapat berkontribusi memperluas jaringan bisnis penyaluran KUR,” kata Liston Nainggolan, Executive Vice President Bisnis Komersial dan Small Medium Enterprise PT BCA Tbk.

Agak kurang jelas mengapa penurunan suku bunga kredit disambut perbankan dengan sikap berlainan. Bank Mandiri mengapresiasinya dengan gembira, berbeda dengan tanggapan BRI. Senada dengan BCA, BRI berharap kebijakan suku bunga rendah 7% ini akan mendongkrak permintaan KUR dari kalangan UMKM. Yang pasti, dengan penurunan suku bunga KUR, bank-bank secara menyeluruh menaikkan target omzetnya.●(Mochamad Ade Maulidin-ed)