hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Luhut Berharap Ekonomi Indonesia Capai 9% seperti Order Baru

Bansos Digital Segera Hadir, Banyuwangi Jadi Daerah Pertama
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan/dok.lip6

PeluangNews, Jakarta – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan mengharapkan ekonomi Indonesia dapat menguat melalui deregulasi seperti dilakukan Orde Baru pada periode 1980-an.

Merujuk pada sejarah, pemerintahan Orde Baru sempat melakukan deregulasi besar-besaran pada 1983. Ini sebagai respons terhadap kelesuan ekonomi akibat anjloknya harga minyak, komoditas andalan Indonesia kala itu.

“Untuk (pertumbuhan ekonomi) 5%, ya pastilah kita bisa terus. Tapi apa itu kapasitas kita? Menurut saya tidak,” kata Luhut dalan acara peluncuran website resmi Dewan Ekonomi Nasional di kantornya, Jakarta, Jumat (13/2).

“Untuk kami Dewan Ekonomi, tidak. Kita kembali kepada deregulasi yang dilakukan oleh Orde Baru dulu tahun 1985. Itu melakukan deregulasi pertumbuhan ekonomi 8-9%,” ungkap dia.

Luhut mengaku belum puas terhadap angka pertumbuhan ekonomi nasional yang masih tertahan di level 5%.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi 5% bukan sebuah prestasi. “Kami bermimpi 8-9% dalam beberapa tahun ke depan,” kata Luhut.

Jika itu sudah tercapai, ia menyebut pemerintah perlu memeliharanya dalam dua dekade ke depan. Sehingga Indonesia tidak terperangkap dalam jebakan negara kelas menengah (middle income trap) dan menjadi high i come country.

Luhut lantas mendesak pemerintah segera melakukan deregulasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, Indonesia akan kehabisan bonus demografi pada 2041-2042.

“Kalau itu habis, yang muda-muda kita mulai tua-tua. Nanti kita sudah pasti di middle income trap. Jadi semua harus sadar demografi bonus itu sudah akan habis 2040-an. Ini satu titik atau garis yang harus kita perhatikan,” tegasnya.

Sebelumnya Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Juda Agung juga mengaku belum puas dengan capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025. Menurut Wamenkeu baru tersebut, ekonomi nasional masih tumbuh di bawah potensi.

“Karena kalau kita lihat belum puasnya apa, karena dia masih di bawah potensialnya. Pertumbuhan 5,39 (%) di kuartal IV (2025) itu masih di bawah potensinya. Artinya masih bisa didorong,” kata Juda di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Meski begitu, ia tetap mengapresiasi capaian itu. Lantaran pertumbuhan ekonomi 5,39% jadi yang tertinggi sejak 2022.

“Setelah itu agak lemah di sekitar 5%. Sekarang di 5,39% menurut saya itu sebuah achievement yang patut kita syukuri,” tuturnya.

Juda pun melihat, ekonomi Indonesia tumbuh lebih melesat dibanding negara-negara anggota G20. Dia memberi contoh China dengan pertumbuhan ekonomi 4,5% di periode yang sama.

“Kalau kita bandingkan dengan negara-negara lain. China misalnya, pertumbuhannya di kuartal IV itu sekitar 4,5%. Indonesia 5,4 lah. Belum dibandingkan dengan G20 lain, kita salah satu yang paling tinggi pertumbuhannya,” ungkapnya. []

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate