
Lihatlah halaman-halaman lelang kebangkrutan dan liriklah sejumlah iklan itu. Perhatikanlah baik-baik pada kekayaan-kekayaan yang akan dilelang. Banyak aset berharga dapat diselamatkan seandainya para pemiliknya menggunakan akal sehat dengan menempatkan pemilikan aset-aset itu sebagai milik pribadi bukannya sebagai milik perusahaan tadi.
Seringkali Anda akan menemukan pengusaha-pengusaha yang terlampau dini memindahkan kekayaan-kekayaan pribadi yang berharga ke perusahaan-perusahaan mereka yang baru mulai, dengan demikian tidak perlu menempatkan kekayaan-kekayaan itu pada risiko lenyap seandainya perusahaan tadi bangkrut. Hal itu baru-baru ini terjadi pada seorang insinyur muda yang mengembangkan sebuah komponen pemutus sirkuit yang telah dipatenkan dan memutuskan untuk terjun dalam kegiatan memproduksi barang itu.
Beberapa tahun kemudian usaha itu gulung tikar, dan karena paten tadi telah menjadi aset perseoran terbatas itu, aset itu dijual oleh the Bankruptcy Trustee seharga $140.000 guna melunasi tuntutan-tuntutan kreditor. Pembeli yang cerdik segera memberikan hak-hak pembuatan produk itu dan sekarang mengumpulkan royalti lebih dari $30.000 setiap tahunnya. Seandainya insinyur itu mulai dengan
cerdik, ia tentunya secara pribadi akan mempertahankan pemilikan paten tersebut dan memberikan lisensinya kepada PT-nya sendiri.
Seandainya ia melakukan hal itu, sekarang tentunya ia adalah orang yang mengumpulkan cek royalti yang gemuk itu. Orang-orang bisnis jarang mempertimbangkan butir ini, tetapi suatu pengalihan sebuah aset milik pribadi kepada perusahaan sama dengan investasi tunai yang berarti membahayakan sebuah aset. Orang membuat kesalahan yang lebih lazim manakala membeli aset-aset baru. Itulah saatnya manakala keputusan harus dibuat mengenai apakah lebih baik membeli aset itu melalui perusahaan atau sebagai gantinya membeli aset itu secara pribadi dan kemudian menyewakannya kepada perusahanaan.
Seorang pengusaha yang mulai dengan cerdik adalah Cal Sullivan. Perusahaan Cal adalah sebuah perusahaan percetakan kecil di sebuah industri yang terkenal karena laju kegagalannya yang tinggi. Kunci bagi operasinya adalah sebuah peralatan cetak berkecepatan tinggi yang canggih. Harganya $60.000. Cal membeli peralatan itu atas namanya sendiri dengan uang muka $15.000, dan membiayai dengan dana pinjaman untuk sisanya. Kemudian ia menyewakan peralatan itu kepada perusahaan percetakannya dengan biaya sewa bulanan yang lumayan.
Lima tahun kemudian perusahaan percetakan itu hancur dengan utang $100.000, tetapi satu-satunya hal yang perlu dilakukan Cal adalah masuk dan menarik kembali mesinnya yang sekarang telah mempunyai nilai bersih $30.000. Dalam banyak situasi awal, pertimbangan-pertimbangan pajak merupakan faktor penentu apakah sebuah aset akan dimiliki secara pribadi atau sebagai milik perusahaan.
Sering kali seorang akuntan akan menyarankan kepemilikan pribadi terhadap aset-aset yang didepresiasikan karena tindakan itu memberikan terobosan pajak yang paling bagus bagi si pengusaha. Dari pengalaman-pengalaman saya, faktor yang menentukan seharusnya bukanlah sudut perpajakan, melainkan risiko kehilangan seandainya perusahaan itu bangkrut.
Hanya dalam tahun-tahun belakangan, manakala perusahaan itu telah mantap, keputusan tersebut sebaiknya didasarkan pada pertimbangan perpajakan.
Lihatlah situasi Anda sendiri. Seandainya perusahaan Anda merencanakan untuk membeli real estate, peralatan yang mahal harganya, kendaraan-kendaraan bermotor, atau bahkan aset tak tampak yang berharga seperti sebuah paten, merek dagang, atau hak cipta, maka mulai dengan cerdik barangkali berarti kepemilikan pribadi terhadap aset-aset ini bukan kepemilikan perusahaan.●





