hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Elite Pecinta Tembakau Premium

Didorong peningkatan permintaan cerutu premium, minat pasar internasional, dan tren baru di kalangan anak muda; permintaan global terhadap cerutu premium juga terus meningkat.

Cerutu bukan sekadar tembakau yang dibakar atau hanya tentang (kenikmatan) menyeruput asap. Setiap tarikan dan hembusan yang keluar dari sebatang cerutu ada keringat para petani tembakau di desa, mulai dari pemetikan, penggulungan, pengeringan serta nasib ribuan pekerja pelinting. Pasalnya, keseluruhan prosesnya dikerjakan dengan tangan manusia (handmade), bukan mesin.

Prospek industri cerutu atau cigar Indonesia cukup cerah. Didorong oleh peningkatan permintaan cerutu premium, minat dari pasar internasional, dan tren baru di kalangan anak muda. Permintaan global terhadap cerutu premium juga terus meningkat. “Negara-negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Cina, dan Taiwan menjadi pasar utama bagi produk cerutu Indonesia,” ujar Anggota DPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet).

Jika bicara pasar, pangsa pasar cerutu dunia sedemikian besar dan masih sangat terbuka. Nilai pasar global diperkirakan mencapai $56,70 miliar pada tahun 2025 dengan proyeksi terus tumbuh. Seiring dengan kans tersebut, cerutu premium dari tembakau pilihan petani Indonesia siap bersaing. Cita rasa dan aroma cerutu yang dihasilkan para pelinting Indonesia sejatinya kompetitif dengan produk Kuba atau Dominika, baik dari segi aroma, cita rasa, maupun karakter khasnya.

Indonesia memiliki sejarah panjang dalam produksi cerutu, bahkan sejak era kolonial Belanda. Wilayah seperti Jember, Temanggung, dan Yogyakarta menjadi pusat produksi tembakau berkualitas tinggi. Tembakau Besuki Na-Oogst dan Voor-Oogst dari Jember, misalnya, terkenal luas di pasar internasional di masa lalu berkat aroma dan rasanya.

Proses pembuatan yang masih mengandalkan teknik tradisional memastikan setiap batang cerutu memiliki karakteristik unik yang sulit ditiru. Hingga, di setiap tarikan dan hembusan yang keluar dari sebatang cerutu itu ada keringat para petani tembakau di desa, mulai dari pemetikan, penggulungan, pengeringan serta nasib ribuan pekerja pelinting. Karena dikerjakan dengan tangan manusia (handmade) dan bukan mesin.

Cita rasa dan aroma cerutu yang dihasilkan para pelinting Indonesia mampu bersaing dengan produk Kuba atau Dominika, baik dari segi aroma, cita rasa, maupun karakter khasnya. “Tugas kita adalah meningkatkan kesejahteraan mereka, melalui peningkatan produksi cerutu untuk pasar domestik dan pasar global. Saya optimis karena keistimewaan kualitas tembakau petani kita. Ini peluang emas bagi pelaku bisnis dan pengekspor sekaligus sangat potensial untuk menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia,” lanjut Bamsoet.

Satu hal yang tak terbantahkan, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam produksi cerutu, bahkan sejak era kolonial Belanda. Begitulah. Wilayah seperti Jember, Temanggung, dan Yogyakarta merupakan pusat-ousat produksi tembakau berkualitas tinggi. Tembakau denban merek dagang Besuki Na-Oogst dan Voor-Oogst dari Jember, misalnya, sudah dikenal luas di pasar internasional masa lampau karena aroma dan rasanya.

Harga cerutu juga istimewa. Untuk cerutu lokal, konsumen kudu mengeruk kocek untuk merek Dos Hermanos: Rp75.900—Rp171.000 per batang; Wismilak Robusto: Rp129.000—Rp155.000 per batang; Javan Cigars: Rp60.000—Rp2.220.000 per box; Cerutu Adipati Panatella: Rp105.000 (per 10 batang); Cerutu Argopuros: Rp60.000 per (5 batang). Adapun cerutu impor: Cohiba Maduro 5 Genios: Rp20,3 juta (per 10 batang); Cohiba 5 Secretos: Rp10,5 juta (per 10 batang); Montecristo Joyitas: Rp360.000—Rp875.000 per batang; Montecristo 80 Aniversario: Rp64 juta (per 20 batang); Romeo y Julieta: Rp6,8 juta—Rp36 juta (per  15-25 batang).

Keunggulan cerutu Indonesia terletak pada kombinasi antara bahan baku berkualitas dan perajin lokal dengan proses pembuatan yang masih mengandalkan teknik tradisional justru memastikan setiap batang cerutu memiliki karakteristik unik yang sulit ditiru.

Cerutu premium ‘Bamsoet Cigar’, misalnya, dibuat melalui proses panjang dengan ketelitian tingkat tinggi. Setelah daun tembakau dipetik, pengeringan berlangsung selama 25 hingga 45 hari, tergantung cuaca dan kelembapan. Pengeringan dilakukan di bawah sinar matahari untuk menjaga warna dan minyak alami daun. Setelah itu barulah masuk tahap fermentasi minimal 2 tahun, sebelum digulung oleh pelinting.

Bamsoet berharap ada cerutu yang dapat melegenda dari tangan-tangan ahli cerutu Indonesia. “Kalau Kuba punya Cohiba, Dominika punya Davidoff, Indonesia seharusnya punya cerutu atau cigar unggulan. Inilah waktunya kita percaya diri bahwa hasil tangan anak bangsa bisa berdiri sejajar dengan produk dunia,” ujarnya.●(Zian)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate