
PeluangNews, Jakarta-Kinerja perdagangan Indonesia sepanjang 2025 mencatatkan capaian positif di tengah tekanan global. Kementerian Perdagangan melaporkan surplus neraca perdagangan sebesar USD 41,05 miliar, melonjak 31,03 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang sebesar USD 31,33 miliar.
Pencapaian tersebut dinilai signifikan karena terjadi saat dunia dihadapkan pada tren proteksionisme dan penurunan harga sejumlah komoditas utama.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan, capaian surplus tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika perdagangan global pada 2026.
Selain surplus tahunan, Indonesia juga membukukan surplus bulanan sebesar USD 2,51 miliar pada Desember 2025, sekaligus memperpanjang tren surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
“Kinerja ini menunjukkan ketahanan perdagangan nasional. Dengan berbagai tantangan global yang ada, Indonesia tetap mampu menjaga pertumbuhan ekspor,” ujar Budi Santoso dalam media briefing capaian kinerja 2025 dan program kerja 2026 di Jakarta.
Dari sisi ekspor, total nilai ekspor Indonesia pada 2025 mencapai USD 282,91 miliar atau tumbuh 6,15 persen dibandingkan 2024. Pertumbuhan terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang meningkat 7,66 persen menjadi USD 269,84 miliar.
Beberapa negara dengan pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi antara lain Swiss, Singapura, Uni Emirat Arab, Thailand, dan Bangladesh. Secara kawasan, lonjakan ekspor terbesar tercatat ke Asia Tengah, Afrika Barat, dan Eropa Barat.
Struktur ekspor Indonesia masih didominasi sektor industri manufaktur dengan kontribusi lebih dari 80 persen.
Sektor pertanian mencatatkan pertumbuhan tertinggi, mencapai 21,01 persen, disusul industri pengolahan yang tumbuh 14,47 persen. Hal ini mencerminkan upaya diversifikasi dan penguatan basis produksi nasional.
Sementara itu, impor Indonesia pada 2025 didominasi bahan baku dan bahan penolong yang mencapai 70 persen dari total impor. Impor barang modal meningkat signifikan sebesar 20,06 persen, mengindikasikan ekspansi kapasitas produksi dan investasi di dalam negeri. Sebaliknya, impor barang konsumsi justru menurun, mencerminkan daya saing produk dalam negeri yang semakin kuat.
Sepanjang 2025, pemerintah juga memperluas akses pasar ekspor melalui berbagai perjanjian dagang strategis, termasuk penandatanganan Indonesia-Peru CEPA dan Indonesia-Canada CEPA.
Hingga kini, Indonesia telah mengimplementasikan 20 perjanjian dagang, dengan belasan lainnya dalam proses ratifikasi dan perundingan.
Di sisi promosi, Trade Expo Indonesia 2025 mencatatkan transaksi USD 22,8 miliar dengan partisipasi ribuan pembeli dari 130 negara. Kontribusi UMKM mencapai USD 474,7 juta, menegaskan potensi UMKM sebagai motor ekspor. Program UMKM BISA Ekspor juga membukukan transaksi lebih dari USD 134 juta melalui ratusan kegiatan penjajakan bisnis.
Untuk pasar domestik, Kementerian Perdagangan menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang pokok, termasuk minyak goreng rakyat. Pengawasan distribusi diperketat, disertai penindakan terhadap barang ilegal dan penguatan instrumen pengamanan perdagangan.
Menghadapi 2026, pemerintah menyiapkan tiga fokus utama, yakni pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, serta penguatan UMKM dan desa berorientasi ekspor. Dengan fondasi tersebut, pemerintah optimistis kinerja perdagangan Indonesia akan tetap tumbuh berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.








