
PeluangNews, Jakarta – Indonesia menghadapi momentum strategis untuk mempercepat transformasi ekonomi dalam sekitar 15 tahun ke depan. Pemanfaatan bonus demografi, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta penguatan produktivitas dan daya saing industri menjadi faktor penting untuk mendorong Indonesia mencapai status negara berpendapatan tinggi.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan, besarnya jumlah penduduk usia produktif harus diimbangi dengan peningkatan keterampilan, kesehatan, dan penciptaan lapangan kerja produktif agar dapat menjadi sumber pertumbuhan dan kemakmuran nasional.
“Kita tidak boleh menjadi negara yang menua sebelum menjadi negara yang kaya,” kata Juda dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (13/10).
Menurut Juda, besarnya angkatan kerja, generasi muda yang semakin terhubung dengan teknologi, serta luasnya pasar domestik merupakan modal penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, potensi tersebut tidak akan otomatis menghasilkan manfaat ekonomi apabila tidak didukung peningkatan kualitas SDM dan produktivitas tenaga kerja.
Karena itu, Indonesia perlu memastikan bahwa bonus demografi tidak hanya menambah jumlah tenaga kerja, tetapi juga meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menghasilkan produk dan layanan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Juda juga menyoroti perlunya perubahan pola pertumbuhan ekonomi agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada aktivitas bernilai tambah rendah. Pemanfaatan sumber daya alam, konsumsi domestik, dan pembangunan infrastruktur selama ini telah memberikan kontribusi penting bagi perekonomian. Namun, peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan membutuhkan struktur industri yang lebih kompleks dan produktif.
Menurutnya, penguatan hubungan antara pendidikan, riset, teknologi, dan dunia usaha menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi tersebut.
“Kita harus bergerak dari sekadar memiliki sumber daya alam menjadi menguasai kemampuan mengolahnya. Dari memproduksi barang menjadi merancang dan mengembangkan produk bernilai tambah tinggi. Dari sekadar menjadi pasar bagi produk-produk global menjadi bagian penting dari rantai nilai global,” ujar Juda.
Ia menambahkan, peningkatan produktivitas dan kompleksitas ekonomi perlu didukung penguatan industri, hilirisasi, digitalisasi, inovasi, serta pengembangan produk bernilai tambah tinggi.
Dengan langkah tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya memperbesar skala perekonomian, tetapi juga meningkatkan kualitas produksi dan kemampuan bersaing di pasar global.
Juda menegaskan, upaya membawa Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi membutuhkan kolaborasi yang produktif antara pemerintah, sektor swasta, dan sektor keuangan.
Keselarasan kebijakan dan konsistensi pelaksanaan dinilai penting agar peningkatan produktivitas, penguatan industri, serta pengembangan SDM dapat berjalan beriringan. Kualitas institusi juga menjadi bagian dari upaya membangun fondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.
“Tidak ada satu institusi atau instrumen kebijakan yang dapat bekerja sendiri. Kita membutuhkan keselarasan kebijakan dan konsistensi pelaksanaan. Itulah cara menuju Indonesia berpendapatan tinggi, pertumbuhan yang lebih tinggi, lebih produktif, dan lebih inklusif,” kata Juda.
Pemanfaatan bonus demografi dalam sekitar 15 tahun ke depan, menurut arah paparan tersebut, menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonomi. Penguatan SDM, peningkatan nilai tambah industri, dan kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam upaya mewujudkan pertumbuhan yang produktif dan inklusif.








