hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Tajuk  

Awal Ramadan 2026, Ikut Pemerintah Apa Ormas?

Ilustrasi : Melihat posisi hilal untuk memastikan awal puasa Ramadan| Dok. Ist

PeluangNews, Jakarta – Setiap menjelang bulan puasa selalu saja ada yang bertanya mengapa penetapan 1 Ramadan di Indonesia cenderung tidak sama?

Umat Islam di tanah air banyak yang mengacu atau mengikuti ketetapan tanggal puasa dari organisasi kemasyarakatan (ormas) tertentu, bukan manut keputusan pemerintah.

Padahal, Alquran telah memerintahkan agar kita taat kepada Allah SWT, Rasulullah Saw, dan ulil amri. Ulil amri yang secara harfiah berarti pemegang kekuasaan/urusan (pemimpin atau penguasa) dalam Islam.

Bila merujuk pada Alquran (QS. An-Nisa: 59), Ulil Amri mencakup pemimpin negara (umara) dan ulama yang wajib ditaati selama kebijakan mereka tidak bertentangan dengan Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah pihak berwenang yang mengatur urusan kemaslahatan umum.

Dengan demikian, umat Islam di Indonesia dalam mengawali 1 Ramadan ada yang mengikuti ketetapan pemerintah (umara), tetapi ada juga merujuk kepada ulama melalui organisasi keagamaan.

Pada 2026 ini, awal puasa Ramadan 1447 Hijriah diprediksi berbeda. Menurut Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin, potensi perbedaan penetapan awal Ramadan 1447 H terjadi karena adanya perbedaan posisi hilal di Indonesia dan global.

“Akan ada perbedaan penentuan awal Ramadan 1447 H. Sumber perbedaan bukan seperti sebelumnya yang terkait posisi hilal, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan ‘hilal lokal’ dan ‘hilal global’,” kata dia.

Thomas mengungkapkan, Pemerintah Indonesia melalui Kemenag dan sebagian besar ormas Islam di Indonesia diperkirakan menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Hal ini karena pada saat sidang isbat digelar, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria baru menteri-menteri agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS)

Kriteria ini mensyaratkan posisi hilal memenuhi tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. “Pada saat Maghrib 17 Februari, posisi hilal/bulan masih di bawah ufuk. Jadi tidak mungkin di rukyat (diamati). Jadi, awal Ramadan pada hari berikutnya, yaitu 19 Februari 2026,” ucap Thomas.

Di pihak lain, kriteria Turkiye, posisi bulan telah memenuhi kriteria dan ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru. Ini artinya, penetapan menggunakan kriteria Turkiye menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Thomas menilai kriteria ini disebut sebagai “hilal global” yang juga digunakan oleh Muhammadiyah untuk menetapkan 1 Ramadan 1447 H.

“Muhammadiyah menggunakan ‘hilal global’, yaitu asalkan hilal memenuhi kriteria visibilitas di mana pun dan konjungsi sebelum fajar di Selandia Baru, maka besoknya masuk awal bulan,” jelas Thomas.

Dia menjelaskan, pada 17 Februari 2026 posisi hilal atau bulan telah memenuhi kriteria di Alaska dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, maka awal Ramadan ditetapkan 18 Februari 2026.

Thomas menambahkan bahwa Arab Saudi mungkin akan lebih awal memulai 1 Ramadan 1447 H. Arab Saudi menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) tetapi berdasarkan rukyat.

Meski demikian, Thomas berkata, rukyatnya seringkali terpengaruh kalender Ummul Quro, sehingga diperkirakan di Arab Saudi awal Ramadan Rabu, 18 Februari 2026.

“Jadi, kalau Arab Saudi (awal puasa) 18 Februari 2026 sekadar kebetulan,” tuturnya.

Sebelum ini, Muhammadiyah sudah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini berpedoman pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Mengapa momentum 1 Ramadan menjadi hal yang istimewa? Hal ini dikarenakan umat Islam di Indonesia menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Indonesia memiliki tradisi yang cukup beragam dalam menentukan kapan masyarakat muslim memulai hari puasa Ramadan. Ini terlihat dari adanya tradisi pemerintah yakni Kementerian Agama untuk menggelar sidang isbat menjelang Ramadan Idulfitri dan juga Idul Adha.

Selain itu ada beberapa ormas atau organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang mengeluarkan keputusan informasi satu Ramadan, satu Syawal dan satu Dzulhijjah.

Beberapa komunitas lainnya juga mengawali puasa Ramadan pada waktu yang berbeda. Sehingga di Indonesia terjadi perbedaan penetapan yang disebabkan oleh perbedaan metode maupun penafsiran terkait tanda masuknya awal bulan.

Sejarah penetapan kalender hijriah

Penentuan awal Ramadan menjadi kajian yang tidak lepas dari pembahasan kalender Hijriah. Kalender Hijriah merupakan kalender yang menggunakan sistem Lunar (berhubungan dengan) yaitu menggunakan acuan penataan waktu yang berpusat pada gerakan bulan mengelilingi bumi.

Berbeda dengan kalender Masehi yang mengacu pada gerakan bumi mengelilingi matahari.

Sejarah adanya kalender Hijriah diawali dari sebuah peristiwa pada Khalifah Umar Bin Khattab ketika menentukan penanggalan untuk urusan administrasi dan pemerintahan yang di mana pada dokumen tersebut tidak tertulis tahun.

Adanya peristiwa ini Khalifah Umar Bin Khattab pada tahun 17 Hijriah membuat tatanan kalender yang kita sebut pada saat ini yaitu dinamakan kalender Hijriah.

Sejarah adanya kalender Hijriah disepakati pada masa tersebut dari peristiwa besar di dalam Islam yaitu peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad Saw ke Kota Madinah yang terjadi pada bulan Rabiul awal.

Dengan demikian, penamaan kalender Hijriah berasal dari kesepakatan para sahabat untuk memulai kalender ini.

Alquran memberikan banyak petunjuk terkait tatanan waktu Islam diantaranya Quran surat Al-Baqarah 185 yang menjelaskan tentang bulan Ramadan.

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, siapa di antara kamu menyaksikan (berada di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka berpuasalah. Namun, siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”

Selain itu pada surat Al-Baqarah 189 menjelaskan tentang Hilal sebagai tanda awal masuknya bulan Ramadan.

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, “Itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.” Dan bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

Petunjuk lainnya disebutkan di dalam Quran surat At-Taubah ayat 36 yang menjelaskan tentang 12 bulan dalam satu tahun sebagaimana petunjuk allah subhanahu wa ta’ala.

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yan bertakwa.”

Dalam Quran surat lainnya seperti Surat Yasin ayat 39 menjelaskan pula tentang fase-fase bulan yang menjadi tanda tanda waktu.

“(Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi (nya) tempat-tempat peredaran sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir), kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.

Ayat ini menjelaskan bagaimana bulan mengalami perubahan bentuk (fase) dalam siklusnya, mulai dari hilal (bulan sabit), setengah bulan, purnama, hingga kembali mengecil seperti tandan kurma yang melengkung dan mengering.

Hal ini menunjukkan keteraturan dalam sistem tata surya sebagai tanda kekuasaan Allah.

Dari petunjuk Alquran yang telah disebutkan di atas, maka tersusunlah penjelasan kalender yang dimiliki oleh umat Islam merupakan petunjuk dari Allah yang ada di dalam Alquran dan juga penjelasan nabi terkait tanda awal masuk bulan Ramadan yaitu Hilal.

Memahami perbedaan dalam penetapan awal Ramadan adalah langkah penting dalam menjalin toleransi dan saling menghormati di antara umat Muslim.

Mengedepankan ilmu dan dialog, kita dapat menjalani bulan suci ini dengan penuh kebersamaan, mesti terdapat perbedaan dalam cara penetapan.

Hal ini tidak hanya memperkaya spiritualitas kita, tetapi juga memperkokoh persatuan umat dalam keberagaman.

Semoga Ramadan tahun ini membawa keberkahan, kedamaian dan kebahagiaan bagi kita. Amin ya Robbalalamin. [ Berbagai sumber ]

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate