BANDA ACEH—Seperti banyak warga Aceh lainnya, Zainal Abidin Suarja mempunyai trauma terhadap bencana tsunami yang melanda Aceh pada Desember 2004. Dia dan pamannya mempunyai tanah dan rumah di Kampung Alue Naga, salah satu areal yang dilanda bencana.
Zainal bersama keluarga sempat mengungsi ke tengah gunung, Jantho, Aceh Besar. Paman dan seluruh sepupunya terbawa tsunami.
Pada 2016, Zainal kembali ke Alue Naga dan melihat bagaimana kenangan keluarganya tidak jauh lebih menyakitkan dari keluarga warga desa lain. Namun mereka bertahan dan kembali untuk memulai semuanya dari awal.
“Termasuk mencari tiram di hulu sungai dan tepian jembatan. Tiram adalah salah satu bahan makanan tradisional di Aceh. Rasa dan bumbu yang dipakai untuk membuat olahan lauk tiram sangat khas dan nikmat,” ungkap Zainal ketika dihubungi Peluang, Jumat (1/10/21).
Pria yang kini berusia 37 tahun itu sadarada potensi besar di tiram. Dia pun belajar dari Ichsan Rusdi, seprang akadmeisi dan kolektor tiram, menyiapkan tim untuk menyerap ilmu dan mengaplikasikannya.
Dia juga hingga belajar dengan Darwin, seorang Nelayan yang pernah belajar budi daya dan peternakan tiram di Higashimatsushima, Jepang.
Setelah cukup mempunyai pemahaman, Zainal dan timya mulai merancang sebuah prototype bisnis peternakan tiram. Prototype dan ide bisnis ini pun dilirik oleh salah satu investor dari Singapura.
“Dengan janji dukungan investasi kami mulai melakukan penelitian lokasi dan merekrut para pencari tiram tradisional di desa sebagai mitra. Namun karena kurangnya ilmu bisnis dan wirausaha saat itu, kami berhasil ditipu dan mengalami kerugian senilai Rp87 juta,” ujar Zainal.
Walaupun mengenyam pendidikan hingga doktoral, tetapi semua bidang teknis, S1 geografi, S1 biologi, dan S1 THP, S2 Biologi dan S3 Pendidikan dan tidka ada yang menyangkut wirausaha.
Namun Zainal dan kawna-kawnanya tetap mampu menjalankan usaha. Sebelum pandemi di bawah bendera Natural Food, bisa mengolah 10 kilogram bahan baku tiram dipanen dari peternakan mereka setiap bulannya.
“Dengan bahan baku tersebut kami bisa menjual varian kerupuk (chip), nugget, fresh dan olahan tiram lainnya paling kurang 300 pieces setiap varian per bulannya,” ungkapnya.
Namun pada 2020 Natural Food hanya beroperasi seperempat dari kapasitas produksi karena kuatnya efek pandemi.
Inovasi Kemasan dan Produksi
Saat ini lanjut Zainal, pihaknya telah melakukan beberapa inovasi dengan mengganti kemasan, merubah proses produksi dan menambah varian-varian produk baru dari bahan tiram (kari tiram, nasi bakar tiram, pepes tiram dan peyek tiram).
“Produk kami bisa dibeli di seluruh toko, pasar swalayan moden dan toko suvenir di Banda Aceh. Kami mulai mengurangi dan pelan-pelan menutup penjualan di marketplace karena kami akan mencoba mengekslusifkan produk ini. Jadi hanya akan tersedia di Aceh, dan jika ke Aceh hanya bisa membeli dan merasakannya,” paparnya.
Namun dalam transisi itu mereka masih membuka peluang produk ini disalurkan oleh reseller di seluruh Indonesia. Mereka menggunakan konsep reseller karena juga ingin total fokus membantu pemberdayaan bagi teman-teman yang ingin bergabung dalam usaha ini.
Harga produk Naural Food tersedia mulai dari Rp7.000 (pepes tiram) sampai Rp25.000 (kerupuk mentah). Sebelum pandemi produk k dapat dibeli di Malaysia dan Thailand, namun sejak penerbangan internasional ditutup di Banda Aceh, mereka tidak bisa masuk ke pasar tersebut lagi.
“Omzet rata-rata sebelum pandemi bisa mencapai 15-18 juta perbulan, saat ini paling tinggi kami hanya bisa mencapai di angka Rp11 juta,” imbuhnya.
Meskipun bisnisnya jatuh bangun, Zainal mengaku senang terhadap apresiasi dari masyarakat atas produk yang kami buat. Tiram itu adalah makanan warisan leluhur yang sudah ada di Aceh. Bahkan secara global tiram, atau oyster adalah bahan makanan mahal dan enak.
“Menyediakannya dengan harga murah dan rasa yang cocok untuk lidah menjadi apresiasi yang luar biasa bagi kami. Sedangkan dukanya adalah tantangan dalam mengelola sebuah startup makanan itu benar-benar tidak terduga dan menguras jiwa dan batin,” ucap Zainal.
Zainal juga menjadi mitra Bank Indonesia dan mendapat pendampingan hingga mengangkat skala bisnisnya ke titik yang tidak tidak terbayangkan sebelumnya. Manajemen kelembagaan dan omzet pun meningkat.
“Dalam tahun ini kami akan membuka 2 farm baru di Pidie dan Aceh Jaya. Ke depan Kami juga akan mulai membuka kafe apung di sekitar peternakan tiram,” tutupnya (Irvan).





