TANGERANG—Orang Jawa punya ungkapan “Dhuwur wekasane, endhek wiwitane”, akhir yang mulia dari yang semula sederhana. Ungkapan ini rupanya menginsiprasi perempuan asal Pacitan bernama Yuli Endras Pratiwi.
Daun singkong yang dikenal masyarakat sebatas sayuran, dijadikan kudapan olahan berupa keripik lezat dengan teknlogi, melalui berapa tahapan proses, serta menggunakan bumbu rempah khas Indonesia yang bernilai ekonomis tinggi.
Kelahiran 1975 yang kini menetap di Tangerang, mendirikan usaha ini pada 2014. Awalnya mantan karyawan kantoran ini memproduksi aneka kue basah, merambah ke olahan ikan seperti bandeng presto.
Namun akhirnya alumni Teknologi Pangan dari Universitas Muhamadyah Malang ini memutuskan membuat makanan ringan berupa keripik daun singkong bermodal Rp50 ribu rupiah dengan brand Janecho di bawah CV Gajah Mada Pangan.
“Keripik ini merupakan resep saya sendiri melalui bebrapa kali trial, baik formulasi bumbu hingga bentuk keripiknya dari bentuk tak beraturan, kubus, segitiga hingga akhirnya bulat,” ungkap Yuli kepada Peluang, melalui Whatsapp, Kamis (18/3/21).
Yuli mampu memproduksi kemasan standing pouch 80 gram dengan harga Rp20 hinga Rp25 ribu, dalam bentuk bulk biasanya untuk reseller dengan harga per kilogram Rp100 hingga Rp120 ribuan. Dalam sebulan Yuli mampu memproduksi sebanyak 720 pack.
“Omzet per bulan tidak menentu, rata-rata Rp5 juta, memang belum besar,” ucap Yuli.
Janecho mengikuti beberapa event pameran nasional dan internasional seperti TTI (Tourism Trade Investment), ASAFF (Asian Agriculture & Food Fair), TEI (Trade Expo Indonesia), Indo Agri Expo, ISEF (Indonesia Sharia Economic Festival), dan pameran di Qatar pada November 2019.
Rencana produk akan dipasarkan disana, kami sdh melakukan pembenahan kemasan ke dalam 3 bahasa (Indonesia, Inggris, dan Bahasa Arab). “Sayangnya, wabah covid datang sehingga apa yang kami jadwalkan terbengkalai hingga sekarang,” ucapnya.
Pandemi memang berpengaruh pada produk makanan ringan Keripik Daun Singkong. Untuk mensiasatinya Yuli melakukan berbagai inovasi lain, membuat bandeng presto, sambal goreng tuna, dengan brand, Samgoton. Produk yang terakhir ini bahkan sudah dipasarkan ke Jawa Timur dan Jambi.
Tidak berhenti sampai di situ, Yuli smembuat aneka kudapan kue basah khas tradisonal Jawa seperti Sosis Solo, Rizoles dalam bentuk beku. Harapannya pelanggan terpuaskan dan bisa mengobati rasa rindu kampung halamanya ketika mencicipi kue-kue ini, mengingat kebijakan pemerintah tidak memerbolehkan mudik.
“Peluang ini lah saya manfaat kan sebaik mungkin agar usaha saya tetap bisa bertahan. Alhamdulillah berlanjut sampai hari ini produk yang saya hasilkan saling mendukung dan berjalan lancar,” tutupnya (van).








