JAKARTA—-Meluncurkan brand ayam organik Lacto Farm pada masa pandemi pada awal Januari 2021, justru menjadi momentum bagi Wisnu Putra Prihantoro untuk mendorong pertumbuhan bisnisnya.
Walaupun peternakan ayam organik milik Sarjana ilmu perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia sudah dimulai sejak 2008. Lacto Farm berkantor di Pinang Bahari ,Pondok Labu, Jakarta Selatan. Sedangkan untuk lokasi gudang dan tempat produksi berada di kawasan Karang Tengah, Tangerang.
“Penjualan kami dilakukan secara daring menggunakan saluran marketplace sepert Tokopedia, Shopee, dan penjualan via Whatsapp. Maka saat bisnis ini kami mulai sampai saat ini ternyata omzet terus naik dan bertumbuh,” ujar Wisnu kepada Peluang, melalui Whatsapp, Selasa (19/20/21).
Wisnu melancarkan jurus menjual produk yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat seperti produk olahan beku (frozen) dan siap goreng. Produk tersebut di cari karena banyak masyarakat mencari produk yang praktis untuk dimasak di rumah.
Kemudian produk kaldu ayam (bone broth) yang selama pandemi menjadi salah satu produk yang dicari oleh banyak orang karena kandungannya yang sangat baik untuk daya tahan tubuh.
Kesadaran untuk memulai hidup sehat selama masa pandemi ini juga menjadi peluang bisnis yang baik untuk bisnis ini. Permintaan yang terus meningkat setiap bulan menjadi patokan kami bahwa banyak masyarakat saat ini membutuhkan produk ayam dan telur organik Lacto Farm.
“Produksi ayam organik kami per bulan sudah pada angka 1.000-1.500 ekor dan terjual per hari rata-rata sekitar 20-30 ekor perhari untuk penjualan retail langsung ke customer. Sedangkan penjualan dengan partner seperti toko organik dan reseller berbeda-beda, bisa sekitar 100-150-an ekor dalam sekali pengambilan,” ungkap Magister Manjaemen Bisnis IPB University ini.
Produk Lactor Farm dibandroll untuk ayam mentah yang utuh dan fillet dimulai dari Rp60.000 – Rp85.000. Ada juga produk parting yang harganya di bawah Rp50.000. Kemudian untuk ayam olahan mulai dari Rp75.000 – Rp125.000. Omzet kami per bulan rata-rata sekitar Rp60 juta hingga Rp70 juta per bulan.
“Untuk prospek bisnis ini kedepannya juga sangat menjanjikan, karena kita masih belum tahu sampai kapan masa pandemicini akan berakhir, kemudian ke depannya tren produk-produk organik juga akan terus mengalami peningkatan permintaan dari masyarakat,” tambah Wisnu.
Rencana bisnis Lacto Fram kedepannya adalah mulai fokus dengan digital marketing dan menjual secara daring, beriklan dengan Facebook Ads dan Google Ads agar mendapat awareness yang lebih kuat dan dapat menjual melalui Whatsapp. Kemudian focus untuk membuat website dan melakukan optimasi website agar semakin dikenal melalui pencarian di Google.
Rencana kami yang lain membangun peternakan di daerah Pulau Jawa seperti di Jawa Tengah atau Jawa Timur untuk mensuplai kebutuhan di pulau Jawa dan Bali.
“Kemudian investasi untuk membangun cabang di kota-kota besar dan mulai menjual secara daring, seperti di Bandung, Surabaya, Semarang, Solo, Jogja, Bali, Palembang, Balikpapan, Makassar agar distribusi ayam organik Lacto Farm semakin lebih mudah kepada konsumen,” pungkas Wisnu (Irvan).





