hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Wastraloka, Inovasi Batik Lawas di Atas Kaleng Bekas

YOGYAKARTA—Sambil melestraikan batik lawas, berkontribusi melestarikan dan menjaga alam dan lingkungan hidup.  Eni Anjayani menjadikan dua hal itu sejalan ketika memutuskan mengembangkan Wastraloka secara profesional pada 2014. Sekalipun usaha ini sudah dirintis sebagai bisnis smabilan sejak 2012.

“Ide awal karena orang tua seorang pengusaha batik lawasan yang mengumpulkan batik lawasan. Dari sana terbersit ide untuk mengadopsi motif batik-batik lawasan tidak dalam bentuk kain, tapi di atas media kaleng untuk dekorasi rumah hingga terasa unik dan Indonesia banget,” ujar Eni ketika dihubungi Peluang, Senin (27/9/21).

Perempuan kelahiran 22 Desember 1978 ini mengawali usaha dengan modal Rp5 juta dan melakukan penjualan secara daring.  Eni memanfaatkan bahan berupa enamel,  lembaran bahan kaleng sisa dari pabrik kulkas, besi, dan kayu (upcycle) dan mengolahnya menjadi beragam  bentuk desain gift dan dekorasi. Lokasi usaha berbasis di Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta dan workshop di kawasan Klaten.

Produk Wastraloka bisa diaplikasikan secara fungsional, sebagai dekorasi, sebagai  hadiah, sebagai suvenir dan sebagai benda koleksi. Kualitas produk Wastraloka ada pada detail lukisan yang menggambarkan kekhasan budaya Indonesia. Dengan detil dan kekhasan yang dimiliki produk lukis kaleng ini dihargai mulai dari Rp300.000 hingga Rp1.000.000.

Lanjut alumni Fakultas Geografi UGM ini, pada tahun ke 7, Jangkauan pasar dari produk Wastraloka  meliputi kota-kota besar di Indonesia (Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Bali, Banjarmasin. Makassar,dan beberapa kota lain) serta beberapa negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Australia, Korea, dan Belanda.

Produk kaleng lukis Wastraloka telah menjangkau negara-negara tersebut. Saat ini, Wastraloka telah bekerja sama dengan galeri seni di Australia.  Kiatnya hanya selalu mengembangkan inovasi dari tahun ke tahun Wastraloka mengalami peningkatan.

Dari segi penjualan pada 2015 penjualan Wastraloka sekitar Rp400 jutaan melesat mendekati Rp800 juta pada 2017 dan di atas Rp1 miliar pada 2019 atau omzet rata-rata antara Rp80 juta hingga Rp100 juta per bulan.

Hanya saja Eni mengakui  awal pandemi perlu waktu adaptasi karena selama ini banyak penjualan dari pameran.  Karena pameran tak lagi bisa diadakan selama pandemi, strategi yang diambil dengan memperkuat penjualan daring.

“Justru kemudian dari strategi ini banyak inovasi produk baru berupa merchandise,” ucap Eni seraya mengatakan sudah mempunyai 15 orang karyawan in house dan lepas sebanyak 8 orang.

Kreativitasnya rupanya dilirik Bank Indonesia yang menjadikan UKM ini menjadi mitranya sejak 2020. BI membantu promosi melalui jaringannya, melakukan pelatihan, dan kegiatan promosi dan pengembangan produk lainnya.

“Ke depan kami berencana memperluas pasar ekspor dan ingin produk ini diterima di pasar global,” pungkas Eni (Irvan).

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate