hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Wajib Mata Kuliah Koperasi: Saatnya Mendesain Kurikulum yang Membangun Mindset

Oleh Ahmad Subagyo

Warek III Ikopin University dan ketum ADEKMI

Inisiatif Prof. Brian sebagai Menteri yang membidangi saintek untuk mewajibkan mata kuliah koperasi di perguruan tinggi adalah sebuah momentum strategis bagi reaktualisasi peran koperasi dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Kebijakan ini menandai pergeseran cara pandang negara bahwa koperasi bukan sekadar badan usaha alternatif, tetapi fondasi kelembagaan ekonomi yang perlu dipahami, dihayati, dan dipraktikkan secara serius oleh generasi terdidik.​

Namun, agar kebijakan ini tidak berhenti pada level administratif—sekadar menambah satu nama mata kuliah di KRS—diperlukan desain kurikulum dan Satuan Acara Perkuliahan (SAP) yang berangkat dari pemahaman koperasi sebagai nilai, identitas, dan cara pandang (worldview) dalam berekonomi dan bermasyarakat, bukan semata-mata sebagai teknik manajerial atau bentuk kelembagaan bisnis biasa.​

Menggeser Paradigma: Dari Manajemen Koperasi ke Mindset Koperatif

Selama ini, pengajaran koperasi di banyak perguruan tinggi cenderung terjebak dalam pendekatan “manajemen koperasi” yang menekankan aspek teknis: organisasi, permodalan, laporan keuangan, rapat anggota, dan legalitas kelembagaan. Pendekatan ini penting, tetapi hanya menyentuh permukaan koperasi sebagai “institusi”, belum menyentuh koperasi sebagai “nilai” yang menginternal dalam cara berpikir dan bertindak.​

Padahal, koperasi lahir dari seperangkat nilai yang khas: tolong-menolong, keadilan distributif, kendali demokratis, partisipasi anggota, solidaritas, dan orientasi pada kemaslahatan bersama, bukan spekulasi atau akumulasi kapital semata. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi ruh utama dari kurikulum mata kuliah koperasi, sehingga mahasiswa memandang koperasi bukan sebagai “bentuk badan usaha yang rumit dan kurang menarik”, tetapi sebagai kerangka etis dan sosial-ekonomi yang relevan dengan tantangan ketimpangan, kemiskinan, dan disrupsi ekonomi digital.​

Karena itu, desain kurikulum koperasi di perguruan tinggi idealnya mengutamakan pembentukan mindset koperatif sebelum mengajarkan kompetensi manajerial. Governance dan manajemen dapat dipelajari dalam berbagai mata kuliah lain (manajemen, akuntansi, bisnis, ekonomi, kebijakan publik), sementara koperasi membawa muatan nilai yang tidak otomatis lahir dari pembelajaran manajemen biasa.​

Koperasi sebagai Nilai, Identitas, dan Cara Pandang

Untuk merespons gagasan Menteri, titik berangkatnya bukan “bagaimana mengajarkan manajemen koperasi”, tetapi “bagaimana membentuk cara pandang koperatif pada mahasiswa”. Ada sedikitnya empat dimensi yang perlu ditekankan dalam kurikulum:​

  1. Koperasi sebagai nilai (values)
    • Nilai-nilai seperti solidaritas, kesalingan, keadilan, partisipasi, dan pemberdayaan anggota harus diposisikan sebagai inti pembahasan.​
    • Mahasiswa diajak melihat koperasi sebagai kritik dan alternatif atas logika pasar yang individualistik serta struktur ekonomi yang eksploitatif.​
  2. Koperasi sebagai identitas sosial dan ekonomi
    • Menjadi anggota koperasi bukan sekadar memiliki simpanan dan mendapatkan SHU, tetapi mengafirmasi identitas sebagai warga yang peduli pada kesejahteraan bersama.​
    • Kurikulum perlu mengajak mahasiswa menafsir ulang posisi mereka sebagai economic citizen yang memiliki hak dan tanggung jawab kolektif.​
  3. Koperasi sebagai prinsip-prinsip kelembagaan
    • Prinsip-prinsip koperasi internasional (ICA) dan nilai-nilai lokal/nasional (termasuk nilai Pancasila dan kearifan lokal) perlu dibahas sebagai prinsip normatif dan praktis yang memandu pengambilan keputusan.​
    • Pembahasan tidak hanya normatif, tetapi juga dalam bentuk studi kasus: bagaimana prinsip demokrasi anggota bentrok dengan kepentingan elite, atau bagaimana prinsip kemandirian diuji ketika koperasi bergantung pada bantuan pemerintah.​
  4. Koperasi sebagai cara pandang (worldview) dalam berekonomi dan bermasyarakat
    • Koperasi diajarkan sebagai kerangka berpikir: bagaimana melihat aset, risiko, peluang, dan relasi sosial dalam perspektif kolektif, bukan individual semata.​
    • Mahasiswa diajak berlatih menganalisis fenomena ekonomi: gig economy, UMKM, desa wisata, koperasi digital, sampai krisis iklim, lalu merumuskan respons berbasis pendekatan koperatif.​

Dengan pendekatan ini, mata kuliah koperasi tidak lagi menjadi “pengetahuan tentang lembaga tertentu” tetapi menjadi “kacamata berpikir” yang bisa dibawa mahasiswa ke berbagai sektor: keuangan, pertanian, digital, kreatif, kesehatan, pendidikan, hingga pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular—bidang-bidang yang selama ini sangat dekat dengan kerja-kerja koperasi.​

Rekomendasi Desain Kurikulum: Struktur, Capaian, dan Pendekatan

Untuk menerjemahkan gagasan di atas, desain kurikulum perlu dibuat secara sistematis. Berikut salah satu model konseptual yang dapat diusulkan sebagai respons akademik atas kebijakan wajib mata kuliah koperasi.​

  1. Posisi Mata Kuliah dalam Kurikulum

Mata kuliah koperasi dapat dirancang sebagai:

  • Mata kuliah wajib universitas (MKU) yang lintas fakultas, dengan fokus pada nilai, sejarah, dan worldview koperatif.​
  • Mata kuliah penguatan keilmuan di prodi ekonomi, manajemen, akuntansi, agribisnis, teknik industri, teknologi pangan, atau ilmu sosial lainnya, dengan penekanan pada penerapan prinsip koperasi dalam bidang masing-masing.​

Model ini memungkinkan pembentukan mindset dasar di level universitas sekaligus pendalaman penerapan di level prodi.​

  1. Capaian Pembelajaran (Learning Outcomes)

Alih-alih langsung menargetkan keterampilan teknis mengelola koperasi, learning outcomes sebaiknya dibagi bertingkat:

  • Ranah kognitif konseptual
    • Mahasiswa mampu menjelaskan sejarah, nilai, prinsip, dan peran koperasi dalam pembangunan ekonomi nasional dan global.​
    • Mahasiswa mampu membedakan logika koperatif dengan logika kapitalistik murni dalam cara pengelolaan usaha dan distribusi nilai tambah.​
  • Ranah afektif dan sikap
    • Mahasiswa menunjukkan apresiasi terhadap nilai solidaritas, partisipasi, dan demokrasi ekonomi dalam diskusi kelas dan tugas proyek.​
    • Mahasiswa terdorong untuk berpikir mengenai peran diri sebagai agen perubahan yang mempromosikan pola ekonomi yang inklusif.​
  • Ranah keterampilan berpikir dan desain sosial
    • Mahasiswa mampu menganalisis kasus nyata dan merumuskan solusi berbasis pendekatan koperasi.​
    • Mahasiswa mampu menyusun gagasan desain kelembagaan koperasi (bukan hanya administrasi) yang sesuai konteks lokal dan tantangan zaman (digitalisasi, green economy, dan sebagainya).​

Keterampilan teknis manajerial (pembukuan koperasi, rapat anggota, struktur organisasi, SOP, dan lain-lain) bisa diperkenalkan, tetapi dengan porsi sebagai ilustrasi implementasi nilai, bukan sebagai tujuan utama.​

  1. Struktur Pokok Bahasan dan Alur Logika

Kurikum dapat disusun dengan alur logika berikut:

  1. Krisis dan tantangan ekonomi kontemporer
    • Ketimpangan, kemiskinan, informalitas, eksploitasi, dan disrupsi teknologi.​
    • Mengapa ekonomi arus utama belum cukup menjawab persoalan tersebut.​
  2. Koperasi sebagai jawaban alternatif
    • Sejarah global dan nasional gerakan koperasi.​
    • Koperasi sebagai gerakan sosial-ekonomi, bukan hanya badan usaha.​
  3. Nilai dan prinsip koperasi
    • Nilai dasar dan prinsip internasional koperasi.​
    • Keterkaitan dengan Pancasila, demokrasi ekonomi, dan nilai-nilai keagamaan/keadilan sosial.​
  4. Mindset dan worldview koperatif
    • Cara melihat modal, keuntungan, risiko, dan relasi sosial dalam perspektif kolektif.​
    • Analisis perbedaan keputusan bisnis dalam logika koperatif dan nonkoperatif.​
  5. Koperasi dalam praktik: studi kasus lintas sektor
    • Koperasi pertanian, keuangan mikro, koperasi karyawan, koperasi digital, koperasi produsen kreatif, koperasi sampah dan ekonomi sirkular.​
    • Analisis keberhasilan dan kegagalan dari sudut nilai dan tata kelola.​
  6. Desain kelembagaan dan model bisnis koperasi
    • Bukan hanya anggaran dasar, tetapi juga relasi anggota-pengelola, desain insentif, mekanisme partisipasi, dan distribusi nilai tambah.​
    • Eksplorasi bentuk-bentuk inovatif: multi-stakeholder cooperative, platform cooperative, koperasi syariah, koperasi hijau, dan lain-lain.​
  7. Koperasi sebagai praksis kewargaan ekonomi
    • Koperasi sebagai wadah latihan demokrasi dan partisipasi warga dalam arena ekonomi.​
    • Rancangan aksi dan inisiatif nyata yang bisa dilakukan mahasiswa, baik di kampus maupun di komunitas.​

Alur seperti ini menjaga agar pembelajaran tidak terjebak pada hafalan definisi dan prosedur, tetapi mengajak mahasiswa “berpikir ulang” tentang ekonomi dan masyarakat melalui lensa koperasi.​

Pengembangan SAP: Metode Pengajaran yang Membentuk Pengalaman Nilai

Satuan Acara Perkuliahan (SAP) memegang peran penting untuk memastikan bahwa nilai-nilai koperasi tidak hanya dijelaskan, tetapi dialami dan diinternalisasi.​

Beberapa prinsip penyusunan SAP yang sejalan dengan gagasan ini antara lain:

  1. Pendekatan partisipatif dan dialogis
    • Kelas koperasi sebaiknya tidak terlalu didominasi ceramah satu arah, tetapi menggunakan diskusi, debat terstruktur, role play rapat anggota, simulasi pengambilan keputusan, dan problem-based learning.​
    • Mahasiswa dilibatkan dalam menganalisis kasus koperasi nyata di lingkungan sekitar mereka, lalu merefleksikan nilai apa yang bekerja atau gagal.​
  2. Proyek berbasis komunitas (community-based project)
    • SAP dapat mengintegrasikan tugas proyek yang mengajak mahasiswa berinteraksi dengan koperasi di desa, kampung kota, pesantren, komunitas kreatif, atau UMKM yang potensial dikoperasikan.​
    • Tugas tidak hanya laporan kunjungan, tetapi juga perumusan rekomendasi dan refleksi nilai: di mana nilai solidaritas hadir, di mana partisipasi melemah, dan sebagainya.​
  3. Integrasi perspektif lintas disiplin
    • Satu pertemuan dapat melibatkan perspektif hukum, akuntansi, teknologi informasi, dan sosiologi, untuk menunjukkan bahwa koperasi bukan “hak milik” satu disiplin, melainkan platform bersama untuk kerja lintas ilmu.​
    • Ini sekaligus menegaskan bahwa aspek manajerial dan governance itu penting, tetapi harus selalu kembali kepada pijakan nilai.​
  4. Penilaian yang mengukur sikap dan refleksi
    • Sistem penilaian tidak hanya berupa ujian tertulis, tetapi juga jurnal refleksi, esai opini, desain model koperasi, dan presentasi proyek komunitas.​
    • Hal ini memperkuat pesan bahwa output utama bukan sekadar hafalan konsep, tetapi perubahan cara pandang dan sensitivitas sosial-ekonomi mahasiswa.​

Dengan SAP yang demikian, mata kuliah koperasi menjadi wahana pembelajaran nilai, etika, dan imajinasi sosial, bukan sekadar perangkat teknokratis.​

Penutup: Menjadikan Koperasi sebagai Fondasi Etis Ekonomi Masa Depan

Gagasan Menteri untuk mewajibkan mata kuliah koperasi di perguruan tinggi membuka peluang besar bagi transformasi cara pandang generasi muda tentang ekonomi, bisnis, dan masyarakat. Agar kebijakan ini bernilai strategis, respons dunia akademik tidak cukup dengan menambah satu “matkul baru” bertajuk Manajemen Koperasi, tetapi perlu merancang kurikulum dan SAP yang secara sadar mengutamakan pembentukan mindset koperatif.​

Koperasi harus diajarkan sebagai seperangkat nilai, identitas, prinsip, dan worldview yang memberi arah bagi pengembangan ilmu manajemen, akuntansi, teknologi, dan kebijakan publik, bukan sekadar salah satu objek aplikasi dari ilmu-ilmu tersebut. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi ke depan tidak hanya mahir mengelola lembaga dan korporasi, tetapi juga memiliki kepekaan etis dan sosial untuk membangun ekonomi yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan melalui praksis koperasi di berbagai sektor kehidupan.​

 

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate