hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Daerah  

Wacana Pemindahan Pusat Kota Bencoolen

Benteng megah Malborough itu bukti jejak kolonial Inggris di Bengkulu, sebelum ditukargulingkan dengan Singapura dan Belitung oleh Kerajaan Belanda. Kini kota ini tengah mewujudkan ambisinya sebagai Kota Hadits.

KOTA Bengkulu menarik karena ada banyak cerita tentang asal-usul namanya. Arkian, nama itu berasal dari bahasa Melayu yaitu Bangkahulu, ‘bang’ berarti pesisir dan ‘kulon’ berarti ‘barat’. Kata sumber lain, nama “Bencoolen” diperkirakan diambil dari sebuah nama bukit di Cullen, Skotlandia, Bm of Cullen (atau variannya, Ben Cullen). Sumber tradisional menyebutkan, Bangkahulu berasal dan kata bangkai dan hulu; jadi  bangkai di hulu.

Nama Bencoolen lalu diabadikan di Singapura dan digunakan sebagai nama jalan. Pemberian nama jalan di Singapura ini berawal dari tamatnya masa penjajahan Inggris di Bengkulu. Era Inggris berakhir setelah di-acc Traktat London, 1824. Isi perjanjian itu: pertukaran kekuasaan Inggris di Bengkulu dengan kekuasaan Belanda di Melaka dan Singapura. Saat itu, Singapura menjadi bagian dari Kerajaan Melaka. Di sisi lain, pemerintah Indonesia menamai salah satu desa yang ada di Bengkulu dan Sumatera Selatan dengan ama Singapura.

Nun jauh di masa lampau, di wilayah Bengkulu pernah berdiri kerajaan-kerajaan berdasarkan etnis. Di antaranya, Kerajaan Sungai Serut, Kerajaan Selebar, Kerajaan Patpetulai, Kerajaan Balai Buntar, Kerajaan Sungai Lemau, Kerajaan Sekiris, Kerajaan Gedung Agung dan Kerajaan Marau Riang yang statusnya di bawah Kesultanan Banten.

Semenjak abad ke-17, sebagian wilayah Bengkulu juga pernah berada di bawah kekuasaan Indera Pura. Pada 1685, British East India Company (EIC) mendirikan pusat perdagangan lada bengcoolen. Coolen yang berasal dari bahasa Inggris Cut Land yang berarti Tanah Patah. Wilayah ini adalah wilayah patahan gempa bumi yang paling aktif di dunia dan kemudian gudang penyimpanan di tempat yang sekarang menjadi Kota Bengkulu.

Ekspedisi EIC waktu itu dipimpin oleh Ralp Ord dan William Cowley. Mereka mencari pengganti pusat perdagangan lada, setalah pelabuhan Banten jatuh ke tangan VOC, dan EIC dilarang berdagang di sana. Disepakatnya traktat dengan Kerajaan Selebar, pada 1685, mengizinkan Inggris untuk mendirikan benteng dan berbagai gedung perdagangan. Benteng York didirikan tahun 1685 di sekitar Muara Sungai Serut.

Semenjak disepakatinya Traktat London, 1824, Bengkulu diserahkan ke piak Kerajaan Belanda, dengan imbalan Malaka; sekaligus penegasan atas kepemilikan Tumasik/Singapura dan Pulau Belitung. Sejak itu pula, Bengkulu menjadi bagian wilayah kekuasaan Hindia Belanda.

Penemuan deposit emas di daerah Rejang Lebong pada paruh kedua abad ke-19 menjadikan tempat itu sebagai pusat penambangan emas hingga abad ke-20. Saat ini, kegiatan penambangan komersial pun dihentikan sejak habisnya deposit. Pada tahun 1930-an Bengkulu menjadi tempat pembuangan sejumlah aktivis pendukung kemerdekaan termasuk Soekarno. Di masa inilah Soekarno berkenalan dengan Fatmawati yang kelak menjadi istrinya.

Sebagai daerah wisata, Bengkulu sedikitnya memiliki beberapa primadona. Sebut saja Pusat Pelatihan Gajah Sebelat, di Bengkulu Utara; Bunga Raflesia, dan Bengteng Malborough.

Bunga Rafflesia ditemukan oleh dua orang Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles dan Dr Joseph Arnold tahun 1818. Inilah salah satu bungga terbesar di dunia, khususnya Bungga Rafflesia Arnoldi, dengan diameter 70110 sentimeter. Tak hanya besar, berat bunga ini mencapai 10 kilogram. Bunga Rafflesia memang tumbuh subur di Sumatera, yang bisa ditemukan di banyak tempat di Provinsi Bengkulu, karena hutannya sangat luas, sebagai hutan hujan tropis.

Benteng Marlborough. Bangunan yang kokoh hingga sekarang ini memiliki bentuk unik, yaitu berbentuk kura-kura apabila dilihat dari atas. Benteng Marlborough berdiri di atas lahan 44.000 m², di ketinggian 8,5 mdpl. Menghadap Samudera Hindia, benteng kekar ini dibangun 1713-1719 di masa East India Company/EIC (1714-1741), di bawah pimpinan Gubernur Joseph Callet.

Benteng dibangun untuk menghadapi ancaman baik dari Banten, Belanda maupun dari pribumi, sekaligus sebagai pusat perdagangan. Inilah benteng Inggris terbesar dan terkokoh kedua di Asia, setelah Benteng St. George Madras India.

Curup Sembilan. Dikenal juga dengan nama Air Terjun Sembilan Tingkat. Curug Sembilan terletak di Desa Tanah Hitam, Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara. Masih satu lokasi dengan Hutan Lindung Boven Lais yang jadi rumah Rafflesia Arnoldi dan Rafflesia Gadutensis.

Pantai Panjang. Sekitar 4 km dari pusat kota Bengkulu, dengan garis pantai 7 km dan lebar 500 meter. Garis pantai yang melewati tiga kecamatan sekaligus ditumbuhi deretan pohon Pinus dan pohon Cemara itu berhawa sejuk. Terdapat berbagai kegiatan olahraga air seperti berselancar yang dapat dengan mudah ditemui di sana. Karakter air dengan ombak yang bersahabat. Garis pantainya pun landai, dan airnya cukup jernih.

Rumah Pengasingan Bung Karno. Provinsi Bengkulu juga memiliki tempat bersejarah yang layak untuk dikunjungi. Satu di antara dua tempat yang cukup terkenal. Pertama, rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu. Bung Karno sempat diasingkan oleh Belanda pada 1938-1942.Rumah pengasingan tokoh proklamator itu, yang semula milik saudagar Tionghoa lalu disewaoleh Belanda,kini menjadi museum.

BELUM lama berselang, Wali Kota Bengkulu me-launching Kota Bengkulu sebagai Kota Hadits. Dideklarasikan di Masjid At Taqwa Anggut. Wali Kota Bengkulu menargetkan seluruh warga Kota Bengkulu minimal mampu menghafal 40 hadis. Penamaan itu melengkapi julukan kota-kota lain yang bernuansa religi. Yakni, Gorontalo Kota Serambi Madinah; Mataram Kota Seribu Masjid; Tasikmalaya Kota Santri; Demak Kota Wali; Banda Aceh Kota Serambi Mekkah; dan Manokwari Kota Injil.

Pada hari jadi Kota Bengkulu ke-302 (kota ini lahir 17 Maret 1719), Pemerintah Kota  Bengkulu me-launching Alun-Alun Berendo Kota Bengkulu. “Di Alun-Alun ini akan dijadikan pusat kuliner dan UMKM, guna menunjang perkembangan pelaku UMKM di Kota Bengkulu,” kata Walikota Bengkulu, Helmi Hasan. Alun-Alun Berendo ini juga memiliki menara setinggi puluhan meter, sehingga apabila naik ke menaranya akan terlihat pemandangan Kota Bengkulu, Pantai Panjang, dan Pulau Tikus.

Santer diberitakan, Walikota Bengkulu, Helmi Hasan, berencana memindahkan pusat Kota Bengkulu ke wilayah Kecamatan Selebar. Di kawasan Bentiring, yang kini menjadi kantor Walikota, lokasinya kurang strategis. Jika turun hujan, jalanan menuju kantor Walikota tergenang air. Tidak ada alternatif lain, kecuali menempu jalan Pulau Panggung Bengkulu Tengah (Benteng).

Walikota merencanakan membangun pusat kota baru, yang diberi nama Kota Merah Putih. Nantinya akan dibangun di Kecamatan Selebar. Posisi awalnya di Kelurahan Pekan Sabtu, terus ke perbatasan Betungan menuju arah ke Seluma.(Zian)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate